musik

Sabtu, 03 Januari 2015

MATERI MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN I

Beberapa Definisi Pendidikan :
PENDIDIKAN DALAM ARTI SEMPIT
Pendidikan diartikan sebagai proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk formal yang dikenal sebagai pengajaran.
Dalam arti sempit, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
  • Tujuan pendidikan dalam arti sempit ditentukan oleh pihak luar individu peserta didik. Sebagaimana kita maklumi, tujuan pendidikan   suatu sekolah atau tujuan pendidikan suatu kegiatan belajar-mengajar di sekolah tidak dirumuskan dan ditetapkan oleh para siswanya.
  • Lamanya waktu pendidikan bagi setiap individu dalam masyarakat cukup bervariasi, mungkin kurang atau sama dengan enam tahun, sembilan tahun bahkan lebih dari itu. Namun demikian terdapat titik terminal pendidikan yang ditetapkan dalam satuan waktu.
·         Pendidikan dilaksanakan di sekolah atau di dalam lingkungan khusus yang diciptakan secara sengaja untuk pendidikan dalam konteks program pendidikan sekolah.
·         Dalam pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka yang menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa) dari suatu lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi).
·         Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar yang terprogram dan bersifat formal atau disengaja untuk pendidikan dan terkontrol.
·         Dalam pengertian sempit, pendidik

2. Pendidikan dalam arti luas
Pendidikan yang mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, non formal maupun informal, sampai dengan suatu taraf kedewasaan tertentu.
Dalam arti luas, pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
·         Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup individu,  tidak ditentukan oleh orang lain, 
·         Pendidikan berlangsung kapan pun, artinya berlangsung sepanjang hayat (life long education). Karena itu pendidikan berlangsung  dalam konteks hubungan individu yang bersifat multi dimensi, baik dalam hubungan individu dengan Tuhannya, sesama manusia, alam,  bahkan dengan dirinya sendiri.
·         Dalam hubungan yang besifat multi dimensi itu, pendidikan berlangsung melalui berbagai bentuk kegiatan, tindakan, dan kejadian, baik yang pada awalnya disengaja untuk pendidikan maupun yang tidak disengaja untuk pendidikan.
·         Pendidikan berlangsung bagi siapa pun. Setiap individu – anak-anak atau pun orang dewasa, siswa/mahasiswa atau pun bukan siswa/mahasiswa – dididik atau mendidik diri.
·         Pendidikan berlangsung dimana pun. Pendidikan tidak terbatas pada schooling saja. Pendidikan berlangsung di dalam keluarga, sekolah,  masyarakat, dan di dalam lingkungan alam dimana individu berada. Pendidik  bagi individu tidak terbatas pada pendidik profesional.
3. Pendidikan alternative
Berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.
Pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
LANDASAN PENDIDIKAN
1.      Pengertian Landasan Pendidikan
Praktik  pendidikan dapat dilakukan dengan baik, memiliki tujuan yang jelas, isi kurikulum yang sesuai dengan kebetuhan peserta didik akan terlaksanan jika berpijak pada landasan pendidikan yang kokoh. Pendidikan merupakan proses humanisasi atau memanusiakan manusia, maka para pendidik harus memahami hakikat manusia dan implikasinya terhadap pendidikan sebagai salah satu landasannya
Ada dua istilah yang terlebih dahulu perlu kita kaji dalam rangka memahami pengertian landasan pendidikan, yaitu istilah landasan dan istilah pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akan ditemukan bahwa istilah landasan diartikan sebagai alas, dasar, atau tumpuan (Balai  Pustaka, 2005:633). Menurut Suyitno (2009:5) Landasan terdapat dua jenis:
1.      Landasan bersifat material
2.      Landasan bersifat konseptual
Untuk landasan pendidikan termasuk kedalam landasan yang bersifat konseptual yang pada dasarnya identik dengan asumsi. Pengertian asumsi menurut Encarta Dictionary Tools (2003) dalam Syarifudin (2012:3) dijelaskan bahwa asumsi adalah sesuatu yang dijadikan titik tolak; sesuatu yang diyakini benar tanpa ada pembuktian.  Adapun sesuatu yang diyakini benar tanpa pembuktian tersebut dijadikan orang sebagai titik tolak dalam rangka berfikir contohnya saat melakukan studi pendidikan atau memahami konsep pendidikan dan dalam rangka bertindak contohnya melakukan suatu praktik pendidikan.
Pendidikan memiliki banyak pengertian yang didefinisikan oleh para ahli, antara lain:
1.      Ernest Hemingway (1989-1961)  menyatakan, pendidikan harus berfungsi sebagai “a built-in, shockproof crap detector” (alat pendeteksi kebodohan dan keedanan yang kedap-kejutan atau taahn bantingan dan menetap). Alasan pengertian dari Hemingway mendefinisikan pendidikan seperti itu dimana pada masa lalu kebodohan atau keedanan (crap) yang dimasukkan dari luar untuk kepentingan kaum elite yang tengah berkuasa. Untuk itu tugas sekolah ialah menemukan macam-macam kebodohan dan kesesatan yang tersebar, kebohongan dan keedanan yang ada ditengah masyarakat lalu mengajak warga untuk berfikir kritis.
2.      David Riesman menyebutkan Pendidikan sebagai lembaga yang “counter-cyclical” (yang kontra siklis). Artinya sekolah harus menjadi agen perubahan dan agen pembaharu yang kreatif, terutama melawan hal-hal yang semu-maya  dan menyajikan kebenaran-kebenaran.
3.      Nobert Wiener menyatakan sekolah harus berfungsi sebagai “anti-entrofic feedback system” (sistem umpan-balik yang anti entropik). Pengertian entropi adalah kecendrungan umum pada setiap sistem baik yang alami maupun yang bersifat buatan untuk kehilangan energi, daya kerja dan kegunaannya, lalu menjadi kesia-siaan. Maka pendidikan harus menjadi sistem umpan balik yang mampu melawan ketidakgunaan, kesia-siaan, dan kekacauan yang ada ditengah masyarakat manusia untuk menemukan hal-hal yang benar.
Berdasarkan pengertian di atas, landasan pendidikan dapat diartikan seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolah dalam pendidikan, baik dalam studi pendidikan ataupun praktik pendidikan.
3.      Jenis-Jenis Landasan Pendidikan
Asumsi-asumsi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan itu bersumber dari agama, filsafat, ilmu dan hukum atau yuridis. Sehubungan dengan itu landasan pendidikan Menurut Syarifudin (2013:8-10) dapat dikelompokan menjadi empat jenis, yaitu:
a.      Landasan Religius Pendidikan
Untuk landasan ini adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari agama yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan, antara lain:
1.      Perintah Allah dalam surat Al-‘Alaq yang memerintahkan kepada kita untuk membaca.
2.      Hadist rasul yang artinya “Carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”
3.      Hadist Rasul yang artinya “Mencari ilmu adalah fardu bagi setiap muslim”
Berdasarkan keterangan di atas, bagi setiap muslim dan muslimat bahwa belajar atau melaksanakan pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban.
b.      Landasan Filosofis Pendidikan
Filosofis,  berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas suku kata philein/philos  yang artinya cinta dan sophos/Sophia yang artinya kebijaksanaan, hikmah, ilmu, kebenaran. Secara maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami hakikat segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan.
Untuk mencapai dan menemukan kebenaran tersebut, masing-masing filosof memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Demikian pula kajian yang dijadikan obyek penelitian akan berbeda selaras dengan cara pandang terhadap hakikat segala sesuatu. Pendidikan  sebagaimana telah dikemukakan di atas,  tiada lain adalah humanisasi. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan sesuai nilai-nilai dan norma-norma yang dianut. Contoh manusia ideal yang menjadi tujuan pendidikan tersebut antara lain: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, terampil, dst.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan  filosofis  pendidikan adalah asumsi  filosofis  yang dijadikan titik tolak dalam rangka  studi dan praktek  pendidikan. Sebagaimana telah kita pahami, dalam pendidikan mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan.
c.       Landasan Ilmiah Pendidikan
Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu  yang menjadi titik tolak  dalam pendidikan. Sebagaimana diketahui, terdapat berbagai disiplin ilmu, seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, sejarah, biologi, dsb. Sebab itu, ada berbagai  jenis landasan ilmiah pendidikan, antara lain: landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan biologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, landasan historis pendidikan, landasan ekonomi pendidikan dan landasan politik pendidikan.
1.      Landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang menjadi titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, adapun pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan individu/peserta didik.
2.      Landasan sosiologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak  dalam pendidikan. Contoh: “Didalam masyarakat yang menganut stratifikasi sosial terbuka terdapat peluang besar untuk terjadinya mobilitas sosial. Adapun faktor yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial itu antara lain bakat dan pendidikan”. Implikasinya, para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya (dengan menyisihkan kebutuhan hidup sekunder lainnya) agar  anak mereka dapat naik dalam tingkatan anak tangga sosialnya.
3.      Landasan antropologis  pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titiktolak dalam pendidikan. Contoh: masyarakat akan tetap eksis apabila terdapat homogenitas di dalamnya, untuk itu maka masyarakat  menyelenggarakan enkulturasi terhadap generasi mudanya.
4.      Landasan ekonomi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Kalkulasi ekonomi selalu berkenaan dengan modal, produksi, distribusi, persaingan, untung/ laba dan rugi”. Implikasinya,  pendidikan dipandang sebagai penanaman modal pada diri manusia  (human investment) untuk mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produksi. Selain itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang akan ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang dimilikinya, prosfek pekerjaan serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus dan bekerja. Jika sekolah ingin laku (banyak memperoleh siswa), maka harus mempunyai daya saing tinggi dalam hal prestasi.
5.      Landasan biologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah biologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Dibanding dengan hewan, manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga ia mampu berpikir”. Implikasinya, manusia memungkinkan untuk dididik.
6.      Landasan politik  pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah politik yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: Pemerintahan demokrasi mengimplikasikan manajemen pendidikan yang bersifat desentralistik.
7.      Landasan historis pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh: Semboyan “tut wuri handayani” sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada tgl 3 Juli 1922 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga.
d.      Landasan Hukum/Landasan Yuridis Pendidikan
Menurut Mudyoharjo (2001:351) menjelaskan bahwa Landasan Yuridis  Pendidikan adalah seperangkat konsep peraturan perundang-undangan Indonesia yang menjadi titik tolak Sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Sebagai contoh:
1.      Undang-Undang Dasar 1945
2.      Pancasila
3.      Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
                        

 

Daftar Pustaka

Sulipan . (2009) . Pengertian Pendidikan Berdasarkan Lingkupnya dan Berdasarkan Pendekatan Monodisipliner . Online . At .  http://sulipan.wordpress.com/2009/10/02/pengertian-pendidikan-berdasarkan-lingkupnya-dan-berdasarkan-pendekatan-monodisipliner/ . Accesed (2/10/2014)


Online . At . http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2010/09/bab-i-pendidikan1.pdf . Accesed (2/10/2014)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar yang sopan..