musik

Jumat, 02 Januari 2015

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR



Definisi Diagnostik Kesulitan Belajar
            Diagnosis merupakan istilah teknis (terminology) yang kita adopsi dari bidang medis . Menurut Thorndike dan Hagen (1955:530-532) , diagnosis dapat diartikan sebagai ; upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness , disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya (symtomps) ; study yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalaha-kesalahan dan sebagainya yang esensial ; keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal .
            Kesulitan belajar , seorang siswa bisa dikatakan mengalami kesulitan belajar bila siswa tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti yang dinyatakan dalam ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dalam program pelajaran time allowed dan tingkat perkembangannya).
            Dengan mengaitkan kedua pengertian diatas , dapat didefinisikan diagnostic kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya .

Ciri-ciri Siswa Mengalami Kesulitan Belajar                                    
            Burton (1952:622-624) mendefinisikan sekaligus bisa dilihat ciri seorang siswa mengalami kesulitan belajar bila siswa menunjukan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya . Kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut :
1.                         Siswa apabila dalam batas waktu tertentu siswa tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan , minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh guru .
2.                         Siswa tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya : intelegensi , bakat) .
3.                         Siswa tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan , termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola orgasmiknya pada fase perkembnagn tertentu , seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan .
4.                         Siswa tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya .

Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar
            Ross dan Stanley (1956:332-341) menggariskan tahapan-tahapan diagnosis (the levels of diagnosis) itu sebagai berikut :
1.      Siapa siswa yang mengalami gangguan ?
2.      Dimanakah kelemahan-kelemahan itu dapat dialokasikan ?
3.      Mengapa kelemahan itu terjadi ?
4.      Penyembuhan apakah yang disarankan ?
5.      Bagaimanakah kelemahan itu dapat dicegah ?

Dari skema tersebut , tampak bahwa keeempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan (corrective diagnosis) atau penyembuhan (curative) . Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan (preventive) . 
Burton (1952:640-652) menggariskan berbeda , yaitu berdasarkan kepada teknik dan instumen yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut .
1.      General diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku , seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar . Sasarannya , untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu .
2.      Analistic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic . Sasarannya , untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut .
3.      Psycological diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
a.       Observasi
b.      Analisis karya tulis
c.       Analisi proses dan respon lisan
d.      Analisis berbagai catatan objektif
e.       Wawancara
f.       Pendekatan laboratories dan klinis
g.      Studi Kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan untuk memehami karakteristik dan fakor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan .

Identifikasi Kasus kesulitan Belajar
            Dalam mengidentifikasikan kasus kesulitan belajar ada beberapa hal yang perlu dilakukan :
1.      Menandai dan menemukan siapakah kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar ; dan
2.      Menemukan diamana letak kesulitan belajar itu dan mengidentifikasikan bagaimana karakteristik dari kesulitan tersebut . Dalam hal ini dilakukan dengan ; mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu , Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi , Analisis terhadap catatan  mengenai proses belajar.

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
            Burton (1952:633-640) mengelompokan secara sederhana ke dalam dua kategori , yaitu faktor-faktor yang terdpat dari dalam diri siswa dan diluar diri siswa .
1.      Faktor dari dalam diri siswa :
a.       Kelemahan secara fisik
b.      Kelemahan secara mental (baik kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman) yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan juga oleh pendidikan
c.       Kelemahan emosional
d.      Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah
e.       Tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang tidak diperlukan
2.      Faktor dari luar siswa (situasi sekolah dan masyarakat) :
a.       Kurikulum yang seragam , bahan dan buku yang tidak sesuai dengan tingkat  kematangan dan perbedaan individu .
b.      Ketidaksesuaian standar administrative (sistem pengajaran) , penilaian , pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar-mengajar .
c.       Terlalu berat beban belajar siswa dan/atau mengajar guru .
d.      Terlalu besar populsi siswa didalam kelas , terlalu menuntut banyak kegiatan di luar .
e.       Terlalu sering pindah sekolag atau program , tinggal kelas .
f.       Kelemahan sistem belajar-mengajar pada tingkat pendidikan (dasar/asal) .
g.      Kelemahan dari kondisi rumah tangga (pendidikan , status sosial ekonomis , keutuhan/keluarga , besarnya anggota keluarga , tradisi dan kultur keluarga , ketentraman dan keamanan sosial psikologis ) .
h.      Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler .
i.        Kekurangan makan (gizi , kalori ) .
Dari penjabaran mengenai teori dan pembahasan tentang Diagnosis Kesulitan Belajar tersebutlah dipergunakan sebagai panduan atau pedoman sebelum melakukan praktik diagnosis kesulitan belajar yang saya lakukan .

Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
            Banyak alternative yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya . Akan tetatpi , sebelum pilihan tertentu diambil , guru sangat diharapkan untuk dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :
1.      Menganalisis hasil diagnosis , yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memeperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang diahadapi siswa . Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostic kesulitan belajar tersebut perlu dianalisis sedemikian rupa , sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti .
2.      Mengidemtifikasi dan menentukan bidang kecakapan tetentu yang memerlukan perbaikan . Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapa dikategorikan menjadi tiga macam ;
a.       Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri
b.      Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orenagtua
c.       Bidang kecakapan bermasalah yang tidak  dapat ditangani baik oleh guru maupun orangtua (dapat bersumber dari kasus tunagrahita/lemah mental dan kecanduan narkotika)
3.      Menyusun program perbaikan , khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan) . Dalam hal menyusun program pengajaran perbaiakan (remedial teaching) , sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut ;
a.       Tujuan pengajaran remedial
b.      Materi pengajaran remedial
c.       Metode pengajaran remedial
d.      Alokasi waktu pengajarana remedial
e.       Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial

Setelah melakukan langkah-langkah tersebut barulah guru melaksanakan langkah keempat , yakni melaksanakan program perbaikan . 

Sumber :

Syah , Muhibbin . 2000 . Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru . Bandung :       PT . Rosda Karya Offset

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar yang sopan..