untuk donwload buku ajar MPP Kuantitatif klik disini
BUKU AJAR
METODE PENELITIAN KUANTITATIF

Oleh
Dra. M.Th.Sri Hartati, M.Pd.
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNEVERSITAS NEGERI SEMARANG
KATA PENGANTAR
Di
beberapa peguruan tinggi, baik pada tingkat jurusan maupun fakultas, utamanya
yang mewajibkan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah atau skripsi
berdasarkan penelitian, diajarkan mata kuliah Metodologi Penelitian. Kesulitan
yang sering dihadapi oleh mahasiswa adalah masih langkanya bacaan yang dapat
membantu mahasiswa untuk belajar secara aktif mandiri. Buku ini disusun untuk
memenuhi kebutuhan buku bacaan seperti itu.
Tujuan
instruksional buku ini adalah agar mahasiswa mampu:
1.
Merumuskan masalah dan hipotesis penelitian,
2.
Menjabarkan variabel penelitian,
3.
Memilih prosedur dan tehnik pengumpulan data,
4.
Menarik sampel,
5.
Mengolah data,
6.
Menarik kesimpulan.
Keenam kemampuan itu merupakan dasar
untuk menyususn suatu usulan penelitian dan menyususn skripsi. Sesuai dengan
tujuan pendidikan tinggi, diharapkan, mata kuliah ini juga nemberikan landasan
untuk bersikap ilmiah setelah mahasiswa lulus. Bersikap ilmiah artinya: Mengetahui
ruang lingkup ilmu pengetahuan, mengetahui cara mengembangkan ilmu dan
teknologi sesuai dengan profesinya, mampu mempergunakan ilmu sesuai dengan
tanggung jawab seorang sarjana, yaitu selalu memakai asas kebenaran, kejujuran,
tidak mengutamakan kepentingan golongan, dan mengakui kekuatan argumentasi.
Oleh karena itu,
selain untuk mencapai tujuan instruksional seperti tersebut di atas, mata kuliah
ini juga bertujuan agar mahasiswa memahami: fungsi ilmu pengetahuan, kriteria
kebenaran ilmu pengatahuan, dan daur metode ilmiah. Untuk mewujudkan
tujuan instruksional tersebut di atas, maka
diperlukan materi pembelajaran yang mencakup sejumlah pokok bahasan sebagai
berikut: konsep dasar penelitian ilmiah, pemilihan topik dan perumusan masalah,
kepustakaan dan perumusan hipotesis, variabel penelitian, populasi dan sampel
penelitian, pengukuran penyusunan skala dan metode pengumpulan data, validitas
dan reliabilitas instrument, rancangan eksperimen, dan penelitian tindakan.
Perlu diperhatikan bahwa buku ini
bukanlah satu-satunya sumber bacaan atau bahan studi, oleh karena itu sangat
disarankan kepada para mahasiswa untuk lebih memperkaya dengan rujukan lainnya
terutama yang ditunjuk dalam daptar pustaka di setiap akhir bab buku ini.
Selesainya penyusunan buku ini tidak
lepas dari kerja sama baik dengan
berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa kami ucapkan terimakasih. Kami
sangat terbuka bagi kritik dan saran sebagai bahan penyempurnaan terbitan
berikutnya.
Harapan kami semoga buku ini bermanfaat
bagi para dosen dan mahasisswa program kependidikan khususnya jurusan Bimbingan
dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Penulis
BAB I
KONSEP DASAR PENELITIAN ILMIAH
TUJUAN
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
menjelaskan hakekat metodologi dan metode penelitian
2.
menjelaskan hakekat, katagori, aspek, dan fungsi ilmu
pengetahuan.
3.
menjelaskan;
hakekat kebenaran; jenis dan sumber kebenaran;.
4.
menjelaskan prosedur cara memperoleh kebenaran ilmiah.
MATERI
A. Metodologi
dan Metode Penelitian
Metode berasal dari kata latin”meta”
yang berarti sesudah dan “hodos” yang berarti jalan. Jadi, makna metode kurang
lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu
yang belum diketahui. Metodologi berasal dari kata “meta” dan “hodos” seperti
tersebut di atas, ditambah kata “logos” yang beraarti uraian. Jadi, metodologi
adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang
berbagai cara untuk memehami sesuatu.
Istilah “penelitian” merupakan
padanan kata Inggris” research”. Kata
”research” ini beraral dari akar kata
latin”re” (kembali) dan “circum” atau “circa” (sekitar) yang berkaitan dengan kata ”circare” (memeriksa).
Dengan demikian, metodologi
penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti. Menurut
sejarah, dulu ada penelitian yang dilakukan secara nonilmiah. Cara nonilmiah
ini kemudian tidak dipakai lagi dan digantikan dengan prosedur ilmiah.
Penelitian secara ilmiah memerlukan syarat-syarat tertentu, misalnya tentang
logika yang dipergunakan, syarat teori atau dalil keilmuan yang dipakai,
postulat tentang objek yang diteliti, peluang kesalahan kesimpulan, dan
sebagainya.
Metode penelitian lebih sempit
telaahnya daripada metodologi penelitian. Metode penelitian hanya mempelajari
cara untuk meneliti, misalnya cara membuat usulan penelitian, cara merumuskan
hipotesis, cara mengamati (mengumpulkan data), cara mengolah (menghitung data),
cara meningkatkan validitas dan reliabilitas, cara membuat laporan, dan
sebagainya. Metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial agak berbeda dengan
metodologi penelitian ilmu-ilmu pasti, karena teori dan dalil (hukum) berbeda.
Sehubungan itu setiap ilmu atau disiplin ilmu mempunyai metode penelitian
sendiri-sendiri. Misalnya, dalam psikologi mempunyai metode penelitian yang
berbeda dengan ilmu-ilmu pertanian.
1. Pengetahuan
Pengetahuan
adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung
maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra
(sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap
atau pendapat). Sedangkan pengalaman
tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang secara intelektual
diterima oleh orang yang pertama.
Setiap
jenis pengetahuan dapat dipandang dari tiga aspek, yang saling berkaitan, yaitu
aspek ontologis, epistomologis, dan aspek aksiologis. Ontologi menjawab
pertanyaan ” apakah yang disebut pengetahuan?”. epistomologi menjawab
pertanyaan ”bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?”. sedang aksiologi
mejawab pertanyaan ” untuk apa pengetuan itu?”
2. Katagori Pengetahuan
a. Pengetahuan diterima secara a priori, berarti pengetahuan itu
langsung dipercaya (langsung diyakini)
b. Pengetahuan diterima secara posteriori, berarti pngetahuan itu
diperoleh secara kritis (skeptis, harus ada bukti-buktinya) selanjutnya
disebut ”ilmu pengetahuan atau ilmu”
3.
Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu
proses atau prosedur dan dapat pula
dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah
pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur
ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode
ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus
ditempuh dengan prosedur ilmiah.
a. Ontologis : Apa ?
1) Objek penelaahan ilmu pengetahuan adalah
pada wilayah yang berada didalam jangkauan pengelaman manusia.
2) Harus dapat dideduksi secara rasional lalu
dibuktikan secara empiris.
b. Epistemologis : Bagaimana
cara ? (logico-hypotetico-verificatif )
3) artinya ilmu pengetahuan diperoleh
dengan cara logis (ada dasar atau
alasan deduktif rasional) dalam membuat
dugaan (hipotesis) dalam menjelaskan setiap gejala.
4) dugaan (hipotesis) harus dapat diuji
(diverifikasi) secara emperis.
5) Proses pengujian menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan bersifat terbuka (selalau dilakukan koreksi dan kritik objektif)
c. Aksiologis : Untuk apa ?
6) Terikat pada asas moral artinya bahwa penerapan ilmu pengetahuan
diarahkan untuk meningkatkan harkat (martabat) kemanuasiaan, tanpa menentang
kodrat dan merusak alam.
7) Bersifat komunal (semua orang berhak
mempergunakannya)
8) Bersifat universal ( tidak terikat ras,
agama, dan suku)
5. Fungsi Ilmu Pengetahuan
Pada
dasarnya ilmu pengetahuan mempunyai fungsi untuk memecahkan masalah yang
dihadapi manusia. Jika diperinci secara lebih lanjut ilmu pengetahuan dqapat
digunakan untuk
a. Menerangkan suatu gejala
(mengamati, memberi nama, memberi keterangan tentang gejala, dan akhirnya
mempunyai deskripsi (pencandraan)tentang berbagai gejala tersebut),
b. Dapat memahami hakekat gejala (mengetahui alasan, sebab, dan kondisi
yang menimbulkan gejala tersebut),
c. Dapat meramal gejala yang akan datang
(menemukan hukum-hukum untuk menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh
gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. Ini berarti manusia dapat
meramalkan munculnya gejala yang akan datang)
d. Dapat mengendalikan gejala (melakukan
manipulasi terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya suatau gejala
sehingga dapat ”mengatur” kapan suatau
gejala harus terjadi.
6. Metode ilmiah
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau
ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan
masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran”
Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan.
Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.




|

|






.
7. Daur
Metode Ilmiah
Kenyataan menunjukan bahwa setelah
metode ilmiah dirumuskan oleh John Dewey, pada tahun 1910, maka metode ini
segera dipakai secara meluas. Hal ini terjadi karena metode ilmiah bersifat
efisien, terbuka, dan teruji. Metode ilmiah efisien dalm mempergunakan sumber
daya (tenaga, waktu, biaya) karena, misalnya, hasil penelitian seseorang dapat
juga dijadikan dasar bagi penelitian orang lain. Hipotesis seseorang, dapat
juga diuji oleh orang lain. Kerjasama atau komunikasi di antara para peneliti
seperti ini dapat terjadi karena sifat keterbukaan metode ilmiah, yatu
kemungkinan penggunaan metode ilmiah oleh siapapun. Tidak ada batasan, misalnya
metode ilmiah hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Ini menunjukkan, bahwa
metode ilmiah bersifat terbuka. Metode ilmiah teruji, karena prosedurnya logis,
sehingga dianggap sahih untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, karena dalam
penelitian ilmiah terdapat ururtan kegiatan, maka terjadi proses perencanaan
yang matang.
Pada
prinsipnya, metode ilmiah mempergunakan logika deduksi lalu logika induksi
(daur logico-hypothetico-verifikatif).
Daur logico-hypothetico-verifikatif,
jika dijabarkan, terdiri atas tahapan kerja seperti berikut:
1.
Ada
kebutuhan objektif.
2.
Perumusan masalah.
3.
Pengumpulan teori.
4.
Perumusan hipotesis.
5.
Pengumpulan data.
6.
Analisis data (pengujian hipotesis).
7.
Penarikan kesimpulan.
Penggunaaan istilah daur
menunjukkan, bahwa tahapan kerja tersebut tidak pernah berhenti. Setelah tahap
penarikan kesimpulan, akan timbul kebutuhan objektif atau timbul masalah yang
baru lagi. Masalah ini merangsang munculnya teori baru. Miniatur tahapan
berpikir ilmiah terdapat dalam suatu kegiatan penelitian ilmiah; jadi suatu
penelitian ilmiah harus mengikuti tahap-tahap metode ilmiah.
RANGKUMAN
Makna
metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau
memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi adalah pengetahuan
(penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memahami
sesuatu. Sedangkan metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai
cara untuk meneliti.
Pengetahuan adalah semua pengalaman
manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung
diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat
intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain,
yang
Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan
dapat pula dianggap sebagai produk atau
hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut
metode ilmiah. Metode
ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus
ditempuh dengan prosedur ilmiah.
Fungsi Ilmu
Pengetahuan a). menerangkan suatu gejala, b). memahami hakekat gejala c). meramal
gejala yang akan datang, d) menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh
gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. e) mengendalikan gejala
Agar pengetahuan (termasuk ilmu
pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk
memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ”
kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat
dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek
ontologi.
Terdapat berbagai sumber kebenaran, yaitu: Wahyu (agama, dogmatis), Otoritas ahli, intuisi, pengalaman
pribadi, & akal sehat, Rasio(deduksi),
Emperi (induksi), Ilmiah
(paduan rasio dan emperi).
LATIHAN :
1.
Mengapa pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau
ilmu) harus mengandung kebenaran ?
2.
Sebutkan sumber atau cara memperoleh kebenaran.
3.
Jelaskan syarat benar bagi ilmu pengetahuan.
4.
Sebut dan jelaskan tahapan penemuan metode ilmiah.
5.
Sebut dan jelaskan cara berpikir.
6.
Apa yang dimaksud dengan logika yang dipakai dalam ilmu
pengetahuan.
7.
Prosedur berpikir ilmiah:
a.
Apa arti “prosedur berpikir ilmiah”?
b.
Jelaskan syarat prosedur berpikir ilmiah
c.
Sebut dan jelaskan tahapan dalam prosedur berpikir
ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES
BAB II
MASALAH PENELITIAN,
KAJIAN PUSTAKA dan PERUMUSAN HIPOTESIS
TUJUAN:
Setelah mengikuti perkuliahan pada
bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
menjelaskan hakekat masalah, sumber-sumber masalah, dan
katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
2.
merumuskan contoh permasalahan penelitian.
3.
menjelaskan hakekat kajian pustaka dan hipotesis
penelitian.
4.
menjelakan prosedur penemuan rumusan hipotesis
penelitian.
MATERI
A. Masalah Penelitian
1. Hakekat masalah
Salah satu langkah yang paling
penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Banyak mahasiswa
mengatakan bahwa menemukana masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan
mungkin sebuah hambatan. Dalam tahap pencarian masalah yang layak untuk
diteliti sering merupakan sebuah hambatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan
skripsi. Sauatu penelitian akan dilakukan selalu berangkat dari masalah.
Memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses
penelitian (Tuckman, 1988:25)
Masalah dapat dikatakan sebagai
penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau
dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Consuelo dkk
mengatakan bahwa keadaan seperti di berikut ini dapat memunculkan suatu
masalah, misalnya: a) bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya
kesenjangan dalam pengetahuan kita. b) bila ada hal-hal yang bertentangan. c) bila
ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.
Tidak semua masalah perlu dilakukan pemecahan
melalui sebuah penelitian dengan menuntut metodologi penelitian ilmiah, karena
sangat dimungkinkan cukup dipecahkan secara sederhana. Menurut Karlinger (1998:
29) Masalah yang baik harus bercirikan sebagai berikut: (a) masalah harus
mengungkapakan hubungan antara dua variabel atau lebih, (b) masalah harus
dinyatakan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak hambigu dan dikemukakan
dengan kalimat tanya, (c) masalah harusndirumuskan dengan cara tertentu yang
menyiratkan adanya kemungkinan pengujian hipotesis.
2. Sumber Masalah
Masalah
dapat diperoleh dari berbagia sumber, baik dari pengamatan langsung terhadap fenomena di lingkunagn sekitar,
maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik, dari hasil-hasil
penelitian terdahulu, membaca buku, mengikuti seminar ilmiah,
pertemuan-pertemuan seprofesi, dan mungkin dari pengamatannya selama
perkuliahan.
Sedang menurut Stoner (1982:257)
mengemukakan sumber-sumber masalah adalah sebagai berikut: a. adanya
penyimpangan antara teori dan kenyataan. b. adanya penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan.
c. adanya pengaduan. d. adanya
kompetisi.
Terdapat
beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi
masalah penelitian, yaitu:
a.
Membaca
sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap
kritis terhadap apa yang dibaca.
b.
Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
c.
Mengamati dari dekat situasi atau kejadian -
kejadian di sekitar.
d.
Memikirkan kemungkinan penelitian dengan
topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
e.
Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
f.
Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat
hasil penemuan yang diperolehnya.
g.
Berlangganan jurnal atau majalah yang
berhubungan dengan bidang ilmunya.
h.
Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan
bidangnya
3. Karakteristik masalah yang baik:
Pada dasarnya hampir semua
permasalahan memerlukan pemecahanan, baik secara sederhana maupun secara ilmiah.
Pemecahan masalah dengan cara sederhana tidak perlu melalui tahapan - tahapan
atau prosedur ilmiah. Permasalaha-permasalahan yang memerlukan prosedur dan
tahap ilmiah adalah permasalahan-permasalahan yang bercirikan tertentu.
Di bawah ini terdapat ciri-ciri
masalah yang memerlukan pemecahan secara ilmiah:
a.
Masalah harus fisible, artinya bahwa
masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak
menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
b.
Masalah harus jelas, yaitu
menunjukkan semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah
tersebut.
c.
Masalah harus signifikan, artinya
bahwa jawaban atas masalah tersebut harus memberikan kontribusi pada
pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.
Masalah harus etis, artinya bahwa
tidak bertentangan dengan etika dan nilai-nilai keyakinan dan agama tertentu.
e.
Masalah haruslah merupakan issu baru,
artinya issu yang sedang dibicakan dan didiskusikan oleh sebagaian besar
masyarakat.
f.
Masalah dapat dipecahkan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan.
g.
Masalah yang dipilih harus benar-benar
menarik bagi calon penelitinya.
4. Bentuk-Bentuk
Masalah Penelitian
Bila dilihat dari karakteristik
variabel dan hubungan antar variabel dalam penelitian, maka bentuk- bentuk
masalahan penelitian dapat dibedakan menjadi:
a.
Permasalahan deskriptif, adalah permasalahan yang berkenaan dengan variable mandiri, yaitu tanpamembuat
perbandingan atau menghubungkan.
Contoh:
1) Seberapa tinggi produktivitas keja karyawan di PT Samudra?
2)
Seberapa baik interaksi
kerja karyawan di industri A?
3) Bagaimana sikap masyarakat terhadap pelaksanaan PIN Polio?
4) Berapa persen motivasi pegawai negeri, bila didasarkan pada criteria ideal yang
diterapkan?
b.
Permasalahan komparatif, adalah suatu permasalahan
penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan variabel pada dua sample atau
lebih.
Contoh:
1) Adakah perbedaan produktifitas kerja antar pegawai negeri dan swasata?
2) Adakah kesamaan interaksi kerja
antara karyawan perusahaan A dan
B?
3) Adakah perbedaan disiplin kerja antara pegawai swata dan BUMN?
4) Mana yang lebih tinggi prestasi kerja antar pegeawai negeri,
swasta dan BUMN?
c. Permasalahan
asosiatif adalah : suatu pertanyaan penelitian yang menghubungkan dua atau
lebih variabel. Terdapat dua hubungan asosiatif ini, yaitu hubungan Simetris dan hubungan Kausal.
Hubungan
simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau
lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh:
1) Adakah hubungan antara kecerdasan dan
prestasi
2) Adakah hubngan antara bakat, minat, dan
kreativitas siswa?
3)
Adakah
hubungan antara kodok ngorek dan jumlah paying yang terjual?
Hubungan kausal adalah hubngan yang
bersifat sebab akibat, jadi akan ada variabel independen dan variabel depeden.
Contoh:
1) Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi
kerja karyawan ?
2) Adakah pengaruh tipe kepemimpinan kepala
sekolah terhadap kinerja guru?
3) Seberapa besar pengaruh tata ruang
terhadap kedisiplinsn karyawan?
4)
Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor
terhadap efesiensi kerja karyawan.
Hubungan interaktif, adalah hubungan yang
saling mempengaruhi, sehingga tidak diketahui mana variabel dependent dan mana
variabel independent. Contoh:
1) Hubungan antara kemiskinan dan kebodohan,
Kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan, dan kebodohan juga dapat menyebabkan kemiskinan.
2)
Hubungan
antara motivasi dan prestasi. Motivasi dapat mempengaruhi prestasi, dan
presatasi dapat mempangaruhi motivasi.
B. Teeori
dan kajian Pustaka
Teori
adalah seperangkat konstruk (konsep, definisi, dan proposisi yang menyajikan
gejala (fenomena) secara sistematis merinci hubungan antara variabel-variabel
dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut. (Kerlinger, 1998).
Sedangkan Singarimbun (1989) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat asumsi,
konsep, konstrak, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena
secara sistematik dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.
Dalam
pencarian teori, kita mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari
kepustakaan yang berhubungan. Teori dapat dicari dari berbagai buku, jurnal,
majalah, tesis, dan disertasi, serta sumber-sumber lain yang sesuai.
1. Fungsi
Teori
- Sebagai
identifikasi awal dari masalah penelitian dengan menampilkan kesenjangan,
bagian-bagian yang lemah, dan ketidak sesuainnya dengan
penelitian-penelitian terdahulu. Sehingga dapat memberikan suatu kerangka
konsepsi penelitian dan memberikan alasan perlunya penyelidikan.
b.Untuk mengumpulkan semua konstruk atau konsep
yang berkaitan dengan topic penelitian. Kemudian melalui teori ini dapat
membuat pertanyaan-pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah.
c. Untuk menampilkan hubungan antara
variable-variabel yang telah diteliti. Dengan ini kita dapat membandingkan
topic penelitian dengan penemuan -penemuan sebelumnya.
2. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah
proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori terdahulu. Kajian
pustaka ini meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan
analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan masalah
penelitian.
3.
Fungsi kajian pustaka:
a. Menyediakan kerangka
konsepsi atau kerangka teori utk penelitian yang direncanakan.
b. Menyediakan informasi tetang penelitian yang lampau yang
berhubungan dengan penelitian yg akan dilakukan.
c. Memberi informasi
tentag metode penelitian, populasi & sample, intrumen
pengumpulan
data, dan perhitungan statistic yang digunakan pada penelitian sebelumnya.
d. Mencari jawaban sementara (hipotesis) dari masalah yg dirumuskan.
e. Menyediakan
temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan penelitian terdahulu yang dapat
dihubungkan dengan kesimpulan kita.
f. Membantu menemukan topic yang lebih sesuai.
Kepustakaan
dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kepustakaan penelitian dan kepustakaan
konseptual. Kepustakaan teori meliputi laporan penelitian yang sudah
diterbitkan, misalnya jurnal dll. Sedangkang kepustakaan konseptual meliputi
artikel - artikel atau buku-buku yang ditulis oleh para ahli. Sumber-sumber
kepustakaan dapat dicari di dalam buku teks, jurnal, ensiklopedi,
indeks, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan abstrak.
C.
HIPOTESIS
Setelah peneliti melakukan
penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk memeproleh jawaban sementara atas pertanyaan
sementara yang telah dirumuskan sebelumnya. Dikatakan jawaban semenatara karena
jawaban yang diberikan baru berdasarkan teori yang relevan, dan belum
dibuktikan secara emperis yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis
merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian, oleh
karena itu peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini
dengan jelas. Borg and Gall (1976:61) mengemukakan adanya persyaratan
merumuskan hipotesis sebagai berikut: (1)
Hipotesis harus dengan kalimat yang singkat dan jelas. (2) Hipotesis
harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan dua atau lebih variable. (3). Hipotesis harus
didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil peneliti
yang relevan.
1. Bentuk-Bentuk
Rumusan Hipotesis Penelitian
Bentuk
hipotesis penelitian sangat tergantung pada bentuk permasalahan penelitian.
Apabila masalah penelitiannya deskriptif maka bentuk hipotesisnya juga akan
mengikutinya, yaitu berbentuk deskriptif. Dengan demikian terdapat tiga bentuk hipotesis, yaitu: hipotesis
dIskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.
a. Contoh
rumusan hipotesis diskriptif :
1)
(Ho) : Daya Tahan Lampu Pijar mereke A = 600 jam
(Ha)
: Daya Tahan lampu Pijar A ≠ 600
jam Ini dapat berarti ≤ atau
≥ dari 600
(Ho) : µ = 600
(Ha)
: µ ≠ 600
atau > atau < 600
µ adalah nilai populasi yang dihipotesiskan /
ditaksir.
2). (Ho)
: Semangat kerja karawan PT A = 75 % dari criteria yang ditetapkan.
(Ha) : Semangat kerja PT A ≠ 75%
atau > atau < 75%
(Ho) : p
=
75 %
(Ha) : p
≠ 75% atau > atau < 75%
b. Contoh rumusan
hipotesis komparatif
Rumusan
Masalah
1) Bagaimana produktivitas kerja karyawan FIP
bila dibandingkan dengan karyawan FMIPA ?
2) Adakah perbedaan daya kepemimpinan di FIP
dan FMIPA ?
Rumusan Hipotesisnya:
1)
(Ho) : Tidak ada perbedaan produktivitas kerja
antara karywan di FIP dan FMIPA atau terdapat persamaan produktivitas kerja
antara karyawan FIP dan FMIPA
(Ha) : Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan
FMIPA.
(Ho)
: µ1 = µ2
(Ha) : µ1
≠ µ2
2). (Ho)
: Produktivitas kerja karyawan FIP lebih
kecil atau sama dengan (≤) karyawan
FMIPA
(Ha) : Produktivitas karywan FIP lebih besar dari karyawan FMIPA.
(Ho) : µ1 ≤ µ2
(Ha)
: µ1 > µ2
3). (Ho)
: Produktivitas karyawan FIP lebih besar
atau sama dengan (≥) karyawan FMIPA.
(Ha) : Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil (<) dari karyawan
FMIPA
(Ho)
: µ1 ≥ µ2
(Ha) : µ1
< µ2
c. Contoh rumusan hipotesis
asosiatif
Rumusan Masalahnya
1) Adakah hubungan antara pengawasan melekat
dengan efesiensi kerja pegawai di UNNES ?
2)
Adakah hubungan antara disiplin kerja gaya kepemimpinan di PTA
Rumusan
Hipotesis
(Ho)
: Tidak ada hubungan ……..
(Ha)
: Terdapat hubungan yang signivikan
antara …….dan ……
(Ho) : p = 0
, 0 berarti tidak ada hubungan
(Ha) : p
≠ 0 ,
tidak sama dengan 0 berarti lebih besar atau lebih kecil dari 0 (nol)
p = adalah nilai korelasi
dalam formulasi yang dihipotesiskan.
RANGKUMAN
Salah satu langkah yang paling
penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Menemukan masalah
merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan bagi
seseorang untuk melakukan sebuah penelitian. Masalah dapat dikatakan sebagai
penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau
dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Terdapat beberapa cara yang dapat
membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
1. Membaca sebanyak-banyak literature yang
berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
2.
Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
3.
Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian
di sekitar.
4.
Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik
atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
5.
Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
6.
Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil
penemuan yang diperolehnya.
7.
Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan
dengan bidang ilmunya.
8.
Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan
bidangnya
Terdapat
3 bentuk permasalahan, yaitu masalah diskriptif, komparatif, dan asosiatif,
dengan demikian akan menghasilkan 3 bentuk hipotesis pula, yaitu : hipotesis
diskriptif, asosiaytif , dan komparatif .
SOAL
LATIHAN
1.
Jelaskan dengan kata – kata sendiri tentang hakekat masalah.
2.
Sebut dan jelaskan sumber-sumber masalah.
3.
Jelaskan katagori permasalahan yang baik dan layak
untuk diteliti.
4.
Jelaskan peranan kajian pustaka dalam suatu penelitian
dan jelaskan berbagai sumber kajian pustaka.
5.
Tidak semua penelitian diperlukan suatu hipotesis,
jelaskan alasannya.
6.
Buatlah contoh permasalahan penelitian yang sesuai
dengan bidang anda dan rumuskan hipotesisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES
BAB III
VARIABEL PENELITIAN
TUJUAN
Setelah mempelajari bab III ini diharapkan mahasiswa
:
1.
Mampu menjelaskan pengertian variabel penelitian
2.
Mampu menyebut dan menjelaskan macam variabel
penelitian
3.
Mampu menjelaskan dan mencari contoh hubungan variabel.
4.
Mampu
menjelaskan pengertian definisi oprerasional variabel
5.
Mampu merumusakan definisi operasional variabel.
MATERI
1. Pengertian
variabel
Istilah “variabel “ merupakan
istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Kerlinger
(1998: 49) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu sifat yang memiliki
bermacam nilai atau dengan kata lain bahwa variabel adalah sesuatu yang
bervariasi. Lebih rinci lagi dikatakan
bahwa yang dimaksud dengan variabel adalah symbol/lambang yang padanya kita
lekatkan nilai yang berupa angka. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi (1997: 97) mendefinisikan
variabel merupakan gejala yang bervariasi seperti jenis kelamin (karena ada
wanita dan pria), berat badan (karena ada yang mempunyai berat 40kg, 50kg,
55kg, dsb). Senada dengan pendapat tersebut, Sugiono (2005: 3) mendefinisikan
variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati. Variabel
itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi
antar satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Tinggi, berat badan, sikap,
motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna kulit, dan lain sebagainya
merupakan atribut dan obyek.
Bila tinggi badan, berat badan,
kemampuan, gaya
kepemimpinan dari sejumlah orang (missal 30 orang) itu sama, maka semua itu
bukanlah variabel. Jadi dikatan variabel karena ada variasinya.
Berdasarkan beberapa pendapat
tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel mempunyai beberapa pengertian. (a)
Variabel adalah karakteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat
yang berdiri sendiri-sendiri. (b) variabel adalah simbul atau lambang yang
padanya diletakkan bilangan atau nilai, (ca) variabel adalah atribut dari
seseorang atau obyek yang mempunyai variasi, (d) variabel adalah atribut atau aspek atau sifat
dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
1. Jenis-Jenis Variabel
Dengan latar belakang gagasan tentang definisi tersebut
di atas, mari kembali
membicarakan
variabel. Variabel dapat dikelompok-kelompokkan menurut berbagai cara.
Kerlinger (1998: 59) mengelompokkan variabel menurut berbagai cara. Menurutnya
terdapat tiga kelompok, yaitu : (1) variaabel bebas dan variabel tergantung,
(2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinu dan variabel
katagori. Suharsimi (1997: 97) membedakan jenis variabel menjadi: (1) variabel
kuatitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuatitatif misalnya luasnya kota , umur, banyaknya jam
dalam sehari. Contoh variabel kualitatif kemakmuran, kepandaian, dan lain-lain.
Sedangkan variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu
variabel diskrit dan variabel kontinum.
Pada
dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila
dilihat dari letak hubungan atau posisi
dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c)
Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis
datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel
kontinum.
a.
Variabel
independent/prediktor/stimulus/bebas, adalah variabel yang dipandang
sebagai sebab munculnya atau terjadinya perubahan pada variabel lain. Dalam
penelitian eksperiman, variabel bebas ini adalah variabel yang dimanipulasikan
oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan
mengkaji akibat berbagai metode pengajaran, dia dapat memanipulasi metode
(yakni variabel bebasnya) dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian
yang tidak bersifat eksperimental, variabel
bebasnya adalah yang “secara logis”
menimbulkan akibat tertentu terhadap variabel terikat. ( variabel
yang keberadaaannya meningkatkan atau memperlemah variabel lainnya)
b. Variabel
dependen/kriteria/output/konsekuensi, adalah variabel yang diramalkan,
misalnya prestasi belajar sebagai variabel tergantung diramalkan oleh motivasi
belajar sebagai variabel bebas.
c. Variabel Intervening, adalah variabel
yang secara teoritis mempengaruhi (memperlambat/mempercepat) hbungan antara
variabel independen dan variabel dependen, tetapi tidak teratur. Missal, anak
yang pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak pandai
tetapi nilai rendah. Ternyata ia sedang skit saat ujian.
d. Variabel moderator, adalah variabel
yang mempengaruhi (memperkuat /memperlemah) hubungan antara variabel
independent dan variabel dependen. Variabel ini dsering disebut sebagai
variabel independent ke dua. Misal, Hubungan suami dan istri akan semakin
harmonis apabila sudah mempunyai anak. Jadi anak adalah contoh variabel moderator.
e. Variabel control, adalah variabel yang
dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga tidak akan mempengaruhi variavel
utama yang diteliti. Variabel control ini diciptakan oleh peneliti, bila peneliti
akan melakukan penelitian. Misal, seorang peneliti ingin meneliti pengaruh
pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Salah satu variabel
controlnya adalah kecerdasan. Maka untuk menjadikan variabel control dengan
cara semua siswa yang menjadi subjek sampel harus dicari yang mempunyai
kecerdasan inteligensi yang relative sama/homogin.
e. Variabel diskrit/variabel katagori, pembedaan
yang istimewa dalam merencanakan penelitian dan mengalisis data, yakni
pengelompokan variabel kontinu dan variabel diskrit/katagori. Variabel katagori/diskrit ini berkaitan dengan suatu jenis
pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal. Pengukuran nominal termasuk taraf
pengukuran yang paling rendah, karena angka-anagka yang diberikan pada
objek-objek merupakan angka yang tidak mengandung arti kuantitatif
(banyak-sedikitinya “jumlah”), agka-angka itu tidak dapat diurutkan atau
ditambahkan / dijumlahkan. Angka-angka itu hanyalah label. Pengukuran nominal
diangkakan / dikuantifikasikan manakala yang dilakukan hanyalah dikotomi.,
misalnya ia-tidak, benar-salah, waanita- pria, hadir-tidak hadir, dll.
f. Variabel kontinu, variabel kontinu dapat memiliki sehimpunan harga yang
teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Hal ini mengnadung arti bahwa harga-harga
variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order), misalnya: sangat tinggi, samapai dengan sangat rendah. Dalam variabel kontinu ini,
sangat dimukngkin mengandung nilai-nilai
pecahan, misalnya, umur si A 47,5 tahun. IPK A: 3,6, dan lain sebagainya.
Variabel kontinu ini dipisahkan menjadi
3 variabel kecil, yaitu: viarabel ordinal, variabel interval, variabel ratio.
(1) Variabel
ordinal, adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingakatan, misalnya
panjang, kurang panjang, pendek. Perlu diketahui bahwa jarak antar jenjang yang
satu dengan jejang yang berikutnya tidak selalu sama, misalnya, nilai juara I ,
juara II, dan juara III tidak sama.
(2)
Variabel interval, adalah variabel yang mempunyai nilai data
berjenjang seperti variabel ordinal, tetapi jarak nilai antar jenjang sama.
Perlu diketahui bahwa data variabel interval ini tidak mengandung nilai nol
mutlak atau absolute. Suhu 0 derajat Celsius bukan berarti tidak tidak bersuhu.
Nilai matematika 0 bukan berarti dia tidak mempunyai kepandaian matematika sama
sekali.
(3) variabel
Ratio, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenang, jarak antar
jenjang sama, dan memilki nilai 0 mutlak. Misal: ukuran panjang, berat,
pendapatan. Pendapatan hari ini 0 berarti memang tidak mempunyai pendapatan
sama sekali, berat 0 berarti memang tidak punyai berat, dll.
3. Hubungan
Variabel
Pada umumnya, penelitian itu senantiasa
menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Terdapat berbagai jenis
hubungan variabel dalam penelitian, diantaranya adalah:
|
|
a.
|
|
|
||||||

c.
|
![]() |
d.
|
||||||
|
||||||
|
||||||
![]() |
||||||

|
e.
RANGKUMAN
Variabel adalah atribut atau aspek
atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
Pada dasarnya, jenis-jenis variabel
dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan
atau posisi dalam penelitian, variabel
dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d)
Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri
dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum. Dengan mengetahui jenis variabel yang akan
diteliti akan membawa konsekuensi terhadap jenis atau tehnik analisis data yang
akan dipergunakan.
SOAL LATIHAN
1.
Jelaskan dengan kata-kata sendiri pengertian variabel penelitian.
2.
Sebut dan dan jelaskan macam/jenis variabel penelitian
3.
Jelaskan berbagai jenis hubungan variabel dan perjelas
jawab saudara dengan membuat contoh hubungan variabel.
4.
Apa yang dimaksud dengan definisi oprerasional variabel
dalam penelitian.
5.
Buatlah contoh definisi
operasional variabel (dengan vaiabel rekaan)
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi ,1998, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES.
Supranto, J. 1998, Tehnik Sampling, Untuk Survey dan
Eksperimen, Jakarta ,
Rineka Cipt
BAB IV
POPULASI dan SAMPEL
TUJUAN
Setelah mengikuti
perkuliahanini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
Menjelaskan dengan kata-kata
sendiri pengertian populasi, sampel, dan teknik sampling.
2.
Menjelaskan prosedur pengambilan sampel sesuai dengan jenis-jenis teknik
sampling.
3.
MATERI
A.
Populasi
1. Pengertian
Ada
berbagai pengertian tentang populasi, namun sebenarnya antara pengertian atau
batasan yang satu dengan yang lain itu mempunyai hakekat yang senada. Di bawah
ini terdapat berbagai batasan tentang populasi.
a.
Populasi adalah keseluruhan anggota, kejadian, atau
objek-objek yang telah ditetapkan dengan baik.
b.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari
obyek/subyek yang mempunyai kuantitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
c.
Populasi seluruh data yang terjadi perhatian dalam
suatu ruang lingkup dan waktu yang
ditentukan.
d.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang
terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai
tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik
tertentu di dalam penelitian.
Atas dasar itu semua dapat dismpulkan
bahwa populasi itu bukan terbatas pada orang, tetapi juga benda-benda lain.
Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajarai,
tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau
objek itu.
Misalnya akan melakukan penelitiam
di lembaga X, maka lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai
sejumlah orang(subjek) dan objek lain. Hal ini berarti populasi dalam arti
jumlah/kuantitas. Tetapi lemabag X mempunyai orang-orangnya, misalnya motivasi
kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, dan lain-lain, dan jugamempunyai
karakterisitik objek lainnya, misalnya kebijakan, proseduru kerja, tata ruang,
produk yang dihasilkan, dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam
arti karakteristik.
2. Ragam
populasi
Dilihat
dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
a.
Populasi terbatas / terhingga, yaitu populasi yang
memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang
terbatas. Misalnya 500 orang guru BK di Semarang dengan karakteristik lulusan
S1 BK , dengan masa kerja 3 tahun.
b.
Populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, yakni
populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya petani di Indonesia .
c.
Populasi
homogin, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama
sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
d.
Populasi heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat yang berfariasi.
B. Sampel
1. Pengertian sampel
Sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana , waktu, dan tanaga, maka
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang
dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.
Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
Pada
dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti melakukan penelitian sampel, di ataratanya
adalah:
a.
Efesien waktu, tenaga, dan biaya,
b.
Sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan (
missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.)
c.
Penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak
bom, petasan, granat, dll.
d.
Terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh
terlalu banyaknya obyek atau elemen
yang harus dicatat.
Adapun ciri sample yang baik
adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar
mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan
ciri-ciri populasi.
Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau
seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya
yang disebut parameter. Misal: sensus penduduk, sensus industri, sensus
pertanian, sensus ekonomi, yang bertujuan untuk memperoleh data
penduduk, industri, pertanian, dan ekonomi yang sebenarnya, seperti jumlah
penduduk, jumlah perusahaan, jumlah petani, dan jumlah modal yang sebenarnya.
2.
Tehnik Sampling
Kalau
seorang peneliti telah menetapkan ciri-ciri populasi yang akan ditelitinya,
persoalan yang kemudian harus dihadapinya adalah memilih sample yang
mencerminkan populasi dari mana sampel tersebut telah ditarik. Cara pengambilan
data atau penelitian kalau hanya elemen sampel (sebagian dari elemen populasi)
yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan (estimasi). Jadi bukan data yang sebenarnya. Oleh karena itu
tidak semua elemen diteliti, maka data perkiraan berbeda dengan parameter.
Perbedaan atau selisih itu disebut kesalahan sampling (sampling error). Makin
kecil kesalahan sampling suatu perkiraan, makin teliti perkiranaan tersebut,
sehingga nilainya semakin dekat dengan nilai sebenarnya.
Dalam
penelitian ada yang disebut dengan Elemen, adapun yang dimaksu dengan elemen
adalah sesuatu yang menjadi objek
penelitian. Orang misalnya karyawan, mahasiswa, petani, buruh, emigrant, dan
lain-lain. Barang misalnya berbagai jenis kendaraan, lampu, berbagai jenis
tumbuhan kacang-kacangan. Unit organisasi misalnya Negara, departemen,
perusahaan, rumah sakit, dan lain-lain.
Di bawah ini akan dibahas tentang beberapa tehnik atau
strategi
pengambilan sampel dan yang kemudian sering
disingkat dengan istilah tehnik samp

![]() |
![]() |
||
Dari
gambar tersebut di atas terlihat bahwa tehnik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability
Sampling dan Nonbrobability Sampling.
Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified
random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster)
sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari:
sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling,
sampling jenuh, snowball sampling.
1. Probability Sampling
Probality
sampling adalah tehnik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap
unsur (anggota) populasi untuk menjadi anggota sampel.
Teknik in meliputi:
a.
Simple
random sampling (
sampling acak sederhana)
Dikatakan sederhana (simpel) karena
pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
strata yang ada dalam populasi itu. Syarat anggota populasi harus bersifat
homogen.
Cara memilih elemen anggota sampel, antara
lain sebagai berikut:
1)
Pengambilan sampel dengan cara undian (fishbowl), dengan
prosedur pertama adalah menetapkan nomor-nomor pada anggota populasi yang
terkumpul dalam daftar sampling.
Kemudian tulis nomor anggota populasi pada potongan kertas kecil dan
selanjutnya digulung. Kocok-kocok gulungan kertas yang sudah berisi nomor
populasi tersebut dan ambil secara acak
sejumlah yang diinginkan.
2)
Dengan
menggunakan table bilangan acak.
Tehnik ini merupakan tehnik yang paling sistematis dalam perolehan unit-unit
sampel melalui acak. dengan prosedur sebagai berikut: mengidentifikasi semua
anggota populasi, dan kemudian memberi nomor pada setiap anggota. Daftar ini
disebut kerangka pengambilan sampel (sample frame),
seandainya kita memiliki 50 anggota populasi, dapat dimulai dari angka 01 s/d
50, penentuan arah bergerak, penentuan elemen pertama
b. Proportionate
Stratifified Random Sampling (Sampling
Acak Berlapis)
Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak
homogen dan berstrata secara proporsional.
Misalnya, Peneliti ingin meneliti suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata.
Maka dalam pengambilan sampelnya harus memperhatikan tingkat pendidikan
tersebut, misalnya Si = 20, S2 = 15, D3 = 45, SLTA = 140. SLTP = 100. Jumlah
sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional. Adapun
tehnik/prosedur pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut:
1)
Populasi dipecah/dibagi menjadi
populasi yang lebih kecil, disebut stratum.
2)
Pembentukan stratum harus menghasilkan stratum yang
homogin.
3)
Setiap stratum kemudian diambil sampel sacara acak dan
dibuat dapat mewakili tratum tersebut.
4)
Perkiraan secara menyeluruh (over all estimation) diperoleh secara gabungan.
Terdapat beberapa alasan penggunaan
tehning sampling SAB, yaitu: (1) setiap stratum homogin atau relative homogin,
sehingga sampel acak yang diambil dari setiap stratum akan memberikan perkiraan
yang dapat mewakili stratum yang bersangkutan. (2) biaya untuk pelaksaan
sampling acak berlapis lebih murah dari pada sampling acak sederhana, karena
alasan administrasi,(3) perkiraan bisa dibuat untuk setiap stratum yang dapat
dianggap sebagai populasi yang berdiri sendiri.
c. Disproporsionate Stratified Random
Sampling
Tehnik
ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsinal. Misal Jumlah Lulusan SD: 30orang, SLTP: 70, jumlah SLTA: 700,
S1: 4, S2: 3, maka yang S1
dan S2 diambil semua karena hanya sedikit jumlahnya.
d. Cluster Sampling (area
sampling)
Teknik
sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel abjek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misalnya penduduka dari suatu Negara, propinsi atau
kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka
pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang akan ditetapkan. Adapun
prosedurr pengambilan sampel daerah ini adalah sebagai berikut: (1) menentukan sampel daerah, misalnya memilih
secara random daerah dari sejumlah
daerah yang ada, (2) menentukan
orang-oramg yang ada pada daerah itu secara random sampling juga.
e. Sampling
Kelompok Dua Tingkat
Sampling kelompok dua tingkat (two
stage cluster sampling) ialah sampling di mana setiap kelompok yang terpilih
sebagai sampel, dipilih lagi sampel elemen dari masing-masing kelompok. Dengan
demikian memang ada dua tingkat kegiatan, yaitu : memilih kelompok sebagai
sample dan kedua adalah memilih elemen dari kelompok yang terpilih.
Jadi yang dimaksud dengan sampel kelompok
dua tingkat adalah: sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, yaitu pertama
memilih sampel kelompok secara acak dari populasi kelompok, kemudian memilih
sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel. Misal, pertama
memilih universitas sebagai sampel dari populasi yang terdiri dari beberapa
universitas negeri, kemudian memilih sampel mahasiswa dari setiap universitas
yang terpilih dan lain-lain. Jadi yang menjadi
kelompoknya adalah universitas, dan yang menjadi elemen sampelnya adalah
mahasiswa.
2. Non Probability Sampling
Teknik non probability sampling adalah tehnik penentuan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi
setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
a. Sampling sistematis
Teknik
untuk memilih anggota sampel dengan melalui peluang dan suatu “sistem” untuk menentukan keanggotaan sampel. Tehnik
untuk memilih anggota-anggota setelah memulai pemilihan acak, misalnya setiap
subjek ke -5, atau ke-10 dan seterusnya.
Adapun
prosedurnya adalah sebagai berikut: menentukan jumlah sampel yang akan
dibutuhkan. lalu membagi total populasi dengan jumlah yang diperlukan untuk
menentukan interval pengambilan sampel. Misal, akan memilih 200 sampel dari
2000, dapat dilakukan dengan cara memilih nomor secara acak antara no 1 s/d 10,
dan memulai dengan sampel pertama. Setelah itu ambil antara no 1 s/d 10 harus
dilakukan secara acak. Bila pengambilan
sampel antara no 1 s/d 10 dan kemudian
yang terambil nomor 3, maka tambahlah interval sampling (10) dengan nomor 3,
maka sampel ke dua adalah 13, selanjutnya no 23 dan seterusnya.
b. Kuota
Sampling
Teknik sampling kuota adalah teknik untuk menentukan
sampel dari populasi yang meiliki cirri-ciei tertentu samapai jumlah (kuota)
yang diinginkan.
c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah tehnik
penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang ditemui oleh
peneliti dapat digunakan sabagai sampel.
d. Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu, misalnya akan melakukan penelitian tentang
disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang
kepegawaian.
e. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah
tehnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini
disuruh memilih teman-temannya untuk dijaadikan sampel.
RANGKUMAN
Populasi adalah keseluruhan objek
penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan,
gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang
memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
Dilihat dari ragamnya, populasi dapat
dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
populasi
terbatas / terhingga, populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, populasi homogin, dan populasi heterogen
Sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, waktu, dan tanaga, maka
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang
dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.
Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
Pada
dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti penggunaan sampel, diataratanya
adalah: efesien waktu, tenaga, dan biaya, sering tidak diketahui jumlah obyek
atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan,
dll.) penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak
bom, petasan, granat, dll. dan terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang
disebabkan oleh terlalu banyaknya objek
atau elemen yang harus dicatat.
Adapun ciri sample yang baik
adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar
mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan
ciri-ciri populasi.
Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau
seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya
yang disebut parameter
Tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability
sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random
sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling
menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling
sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling
jenuh, snowball sampling.
SOAL-SOAL
1. Jelaskan menurut pengertian anda, apa yang
dimaksud dengan populasi.
2. Jelaskan beberapa alasan peneliti melakukan
penelitian sampel.
3. Sebut dan jelaskan jenis-jenis teknik sampling dan anda sertai
prosedur pengambilan sampe sesuai dengan teknik yang ada.
DAFTAR
PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Cochran,W.G., 1191, Tehnik Penarikan Sampel, Jakarta , UI Press.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
BAB V
PENYUSUNAN SKALA
PSIKOLOGIS,
VALIDITAS DAN
RELIABILITAS
TUJUAN
Setelah proses
pembelajaran dalam bab in, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan
perbedaan antara skala pskologi dan angket.
2. Menjelaskan
langkah-langkah menyusun sklala psikologis
3. Menyusun
contoh skala psikologis sesuai
4. Mampu menghitung validitas dan reliabiltas skala
psikologi .
MATERI
Penggunaan pendekatan kuantitatif
menuntut kehati-hatian yang tinggi dalam proses kuantifikasi, yaitu proses
pengubahan data kualitatif menjadi data kuantitatif. Pada saat data sudah
dikuantifikasikan, maka akan sulit untuk dilacak kembali apakah data tersebut
mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau tidak. Upaya untuk menjamin adanya
kesesuaian antara data yang dikumpulkan dengan keadaan ini dapat dilakukan
dengan menggunakan instrument pengambil data yang secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan. Jika kesesuaian antara data yang diperoleh dengan
keadaan yang sebeanarnya itu diragukan, maka berarti bahwa validasi internal
penelitian yang bersangkutan diragukan. Guna menegakkan validasi internal
penelitian, yaitu menjamin bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan
keadaan yang sebenarnya, maka proses kuantifikasi itu harus dilakukan dalam
cara yang menjamin sampai batas tertentu terpenuhinya tuntutan mengenai adanya
kesesuaian tersebut. Sayang bahwa dalam khasanah ilmu-ilmu sosial instrumen-instrumen
seperti yang dimaksudkan tersebut di atas belum tersedia. Instrumen-instrumen
itu seringkali harus dikembangkan sendiri oleh si peneliti.
1. Skala
Psikologi Sebagai Alat Ukur
Pengukurasn
merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan
akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran
di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf
perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya.
Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan
pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang
tinggi. Hal ini dikarenakan oleh beberpa
alasan sebagai berikut:
a.
Atribut psikologis bersifat laten atau
tidak tampak sehingga konstruk yg dimiliki manusia tidak dapat diukur secara
langsung. Pengukuran hanya dapat dilakukan melalui indikator perilaku dan belum tentu mewakili domain (kawasan) secara
tepat, dimungkinkan terjadi tumpang tindih dengan konsep atribut lain.
b.
Aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh
indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas , mungkin terjadi tumpang
tindih antar indikator dari atribut.
c.
Respon dapat dipenagruhi oleh susasana hati subjek,
sikon, dan kesalahan administrasi
d.
Atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah
sesuai dengan sikon.
e. Interpretasi
terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga
terdapat banyak sumber eror.
2. Karakteristik
Skala Psikologi
a.
Stimulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang
hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang
akan diukur.
b.
Kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat
dicapai bila semua item telah diproses.
c.
Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara
jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan
berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).
3. Perbedaan
Skala dan angket
Dalam pemakaian sehari-hari banyak
praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan
skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok,.
|
ANGKET
|
SKALA
|
|
a.
Fakta dan kenebaran
|
a.
konstrak/konsep psikologis
|
|
b.
pertanyaan terararh pada informasi mengenai data yang
hendak diukur. (disadari /diketahui oleh responden)
|
b.
Pertanyaan tertuju pada indicator perilaku
(sering tidak disadari oleh responden)
|
|
c.
Responden tahu persis apa yang ditanyakan
|
c.
Tidak menyadari arah jawaban yang diharapkan.
|
|
d.
Jawaban berupa angka coding dan bukan skor
|
d.
Jawaban berbentuk skor yang melewati penskalaan (scalling)
Dapt 5 bukan berarti dpt nilai 5
|
|
e.
Satu angket dapat mengungkap banyak informasi
|
e.
Satu skala hanya untuk satu atribut.
|
|
f.
Tidak perlu ada uji emperis reliabiltas dan validitas
|
f.
Perlu uji emperis validitas dan reliabilitas
|
|
g.
Uji validitas ditentukan oleh kejelasaan dan lingkup
informasi yang hendak diungkap.
|
g.
Uji validitas lebih ditentukan oleh kejelasan konsep
psikologis yang hendak diukur.
|
Jelaslah bahwa beberapa perbedaan
pokok antara skala psikologis dan angket tersebut mernyebabkan pula perbedaan
dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaann, dan cara
interpretasi hasilnya.
4. Faktor-faktor
yang dapat melemahkan validitas
a. Identifikasi
kawasan ukur tidak jelas, maksudnya kawasan ukur (atribut psikologis) tidak
diidentifikasi dengan jelas sehingga dapat menimbulkan overlap derngan kawasan ukur/atribut lain.
b.
Operasinalisasi konsep yang tidak tepat, yang
disebabkan oleh kurang jelasnya batasan/definisi operasinal atribut yang akan
diukur.
c.
Penulisan item tidak mengikuti kaidah, maksudnya
item-item yang dimaksudkan sukar dimengerti dan dapat menimbulkan tafsiran
ganda untuk setiap orang.
d.
Administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang
meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.

Awal kerja perancangan suatu skala
psikologi dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi
dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak
diukur. Kemudian diadakaan pembatasan kawasan ukur berdasarkan definisi
operasional. Pembatasan ini harus diperjelas dengan menguraikan komponen atau
dimensi-dimensi yang ada dalam atribut termaksud.
Penulisan aitem dapat dilakukan apabila
komponen-komponen atribut telah jelas identifikasinya atau apabila komponen
indikator perilaku telah dirumuskan dengan benar. Agar penyusunan skala
psikologis benar-benar dapat mengukur apa yang diukur dan sesuai batasan
opeasional yang telah memuat komponen serta indikator atribtnya, maka
diperlukan blue-print atau sering
disebut dengan nama kisis-kisi. Melalui blue-print atau kisi-kisi dapat dilihat
pembobotan / prosentasi setiap komponen.
Reviu dilakukan pertama oleh penulis
aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja
ditulis, apakah telah sesuai denga
indicator perilaku yang hendak diungkap dan apakah tidak keluar dari
pedoman penulisan aitem. Apabila semua aitem sudah selesai ditulis, reviu
dilakukan oleh beberapa orang yang berkompeten.
Kumpulan aitem yang telah melewati
proses reviu dan analisis kualitatif
kemudian diujicobakan. Uji coba pertama ini bertujuan untuk mengetahui
apakah kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden sebagaimana
diinginkan oleh penulis aitem.
Analisis aitem merupakan proses
pengujian parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan
psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter aitem yang
diuji paling tidak adalah daya beda atau daya diskriminasi aitem, yaitu
kumpulan aitem dalam membedakan antar subjek yang memilki atribut yang diukur
dan yang tidak. Hasil analisis aitem menjadi dasar dalam seleksi aitem.
Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometri akan disingkirkan atau
diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagia dari skala.
Pengujian
reliabilitas skala dilakukan terhadap kumpulan aitem-aitem terpilih yang
banyaknya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh kisi-kisi
(Blue-print). Apabila koefesien
reliabiltas skala ternyata belum memuaskan, maka penyususnan skala dapat
kembali ke langkah kompilasi dan mmerakit ulang skala denga lebih mengutamakan
aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu sedikit mengubah
proporsi aitem dalam setriap komponen atau bagian skala. Untuk selanjutnya
dilakukan proses validasi yang pada hakekatnya merupakan proses berkelanjutan.
Format final skala harus dirakit
dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca
dan menjawabnya. Dalam bentuk akhir, skala dilengkapi dengan petunjuk
pengerjaan dan mungkin pula lemabar jawaban yang terpisah.
6. Blue-print
Blue-Print adalah tabel yang memuat:
uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem
dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap
komponen.
Contoh kolom Blue-Print
|
No
|
Komponen
|
Bobot (%)
|
|
|
|
|
|
No
|
Komponen
|
indikator
|
No aitem
|
|
|
|
|
|
7. Penulisan
Item
Dari berbagai bentuk dan format aitem
yang dapat ditulis dalam penyusunan skala psikologis pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu a) bentuk pernyataan dengan pilihan, dan
b) bentuk pertanyaan. Disamping itu ada bentuk-bentuk yang merupakan kombinasi
keduanya dan bahkan ada pula bentuk aitem yang sertai gambar-gambar atau
figure-figur sebagai stimulusnya.
Taerdapat beberapa kaidah penulisan aitem yang seyogyanya
diikuti dalam proses penulisan aitem, di antaranya:
a.
Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan mudah
dimengerti oleh responden dengan tulis dengan tetap mengikuti tatatulis yang baku ,
b.
Kalimat tidak menimbulkan penaf siran ganda,
c.
Selalu ingat bahwa penulisan aitem harus mengacu pada
indikator atribut atau perilaku yang hendak diungkap.
d.
Stimulus atau pilihan jawaban harus tetap relevan
dengan tujuan pengukuran.
e.
Setiap aitem selalu mempunyai daya beda dengan aitem
lain,
f.
Aitem tidak boleh mengandung social desirability, artinya isi aitem jangan disesuaikan dengan
keinginan masyarakat pada umumnya.
g. Sebagian
aitem perlu dibuat arah negatif ( arah favorable),
8. Reliabiltas
Reabilitas merupakan penerjemahan dari
kata reliability yang mempunyai asal
kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan,
keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Ide pokok yang
terkandung dalam konsep reliabiltas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran
dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan sebagai memiliki reliabilitas tingi
apabila misalnya skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor
murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan seberapa tingginya
korelasi antara skor tampak pada dua tes pararel.
Terdapat beberapa metode yang dapat
dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk
skala psikologis) di anataranta adalah :
a. Pendekatan
Tes-Ulang (test-retest)
Dalam pendekatan ini suatu instrument
ukur diberikan kepada sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan tenggang waktu
tertentu. Koefisien reliabiltas diperoleh dengan cara menghitung koefisien
korelasi linier antara distribusi skor subjek pada pemberian tes pertama dan
distribusi skor tes yang ke dua.
Syarat-syarat pendekatan tes – ulang: (a)
pergunakan jumlah subjek yang mencukupi agar normalitas distribusi skor dapat
terpenuhi. (b) kelompok subjek yang dikenai tes merupakan sampel yang
representatif dari populasi subjek yang
akan dikenai tes nanti.
Adapun kelemahan metode tes-ulang ini di
antaranya adalagh sebagai berikut:
(a)
perbedaan kondisi subjek pada saat melakukan tes pertama dan kedua. (b) terjadinya
efek bawaan, maksudnya subjek masih ingat jawaban yang pernah diberikan pada
saat mengerjakan tes pertama dan kemudioan mempengaruhi jawaban pada tes kedua.
(c) dimungkinkan terjadinya rejeksi atau penolakan terhadap tes ke dua karena
subjek menyadari bahwa pernah mengerjakan tes yang sama sebelumnya sehingga
mersa menjadi kelinci percobaan. Adapun tehnik analisis yang dapat digunakan
dalam pengujian reliabilitas ini adalah korelasi product-moment.
b Pendekatan
Bentuk Paralel
Dalam pendektan ini dilakukan dengan
memberikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain, kepada
kelompok subjek. Adapun syarat-syarat tes paralel adalah mempunyai kesamaan
spesifikasi dalam hal: tujuan ukur, batasan objek ukur dan operasionalisasinya,
indikator-indikator perilakunya, banyaknya
aitem, format aitem, dan bila perlu taraf kesukaran aitemnya. means dan varians
ke dua tes tersebut harus setara.
Dalam pelaksanaannya, kedua tes
parallel itu dapat digabungkan terlebih dahulu sehingga seakan-akan merupakan
satu bentuk tes. Adapun langkah-langkah pendekatan bentuk parallel adalah
sebagai beiut: (1) buat dua tes parallel, (2) mengujicobakan kedua alat tes
tersebut kepada sejumlah subjek yang
sama, (3) menghitung koefisien korelasi distribusi skor dari kedua tes
yang dihasilkan oleh sejumlah respon
tersebut. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah: adalah sulitnya menyusun
tes parallel. Tehnik analisis yang dipergunakan adalah korelasi product-moment.
c. Pendekatan Konsistensi
Internal
Pendekatan konsistensi internal ini
dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes dan hanya dikenakan satu kali saja
pada sekelompok subjek (single – trial
administration). Tes yang akan diestimasi reliabiltasnya dapat di belah
menjadi dua bagian, tiga bagian atau empat bagian, dan bahkan dapat dibelah
menjadi sejumlah aitem, sehingga masing-masing belahan hanya berisi satu aitem.
(dengan catatan jumlah belahannya sama). Uji reliabiltsanya dapat dilakukan
dengan tehnik-tehnik korelasi, tehnik varians antar belahan, tehnik varians
perbedaan skor, dan lain-lain.
Beberapa model belah dua dikelompokkan
menjadi dua:pertama adalah pembelahan secara Random yaitu dengan cara mengundi
nomor-nomor mana yang masuk ke belahan pertama dan mana yang masuk ke balahan
kedua. Kedaua adalah pembelahan Gasal-Genap ( odd-even splits), yaitu membelah tes menjadi dua dimana seluruh
kelompok nomor aitem genap jadi kelompok pertama dan nomor aiten ganjil
kelompok ke dua. Sedangkan tehnik analisis yang dapat digunakan adalah:
1)
Formula Spearman-Brown
untuk Belah–Dua, hanya digunakan
apabila kedua belahan tes memenuhi asumsi paralelisme, dimana kedua tes
menghasilkan means yang setara dan varians skor yang sebanding.
2)
Formula Rulon,
dapat dipergunakan untuk mengistimasi reliabilitas belah –dua tanpa perlu
berasumsi bahwa kedua belahan harus mempunyai varians yang sama.
3)
Koefisien Alpha,
dapat digunakan apabila tidak yakin bahwa asumsi kedua tes adalah parallel.
9. Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu
tes atau oinstrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang
ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Suatu tes dimaksudkan
untuk mengukur atribut A dan kemudian memang menghasilkan informasi mengenai
atribut A, dapat dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki vaaliditas tinggi.
Sisi lain pengertian validitas
adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar
mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan
gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu
memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek
yang satu dengan subjek yang lainnya.
Tipe validitas pada umumnya
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content
validity (validitas isi), construct
validity (validitas konstrak), criterion-releted
validity (validitas berdasar kriteria).
a. Validitas
Isi
Validitas isi, yaitu validitas yang diestimasi
lewat pengujian terhadap isi tes dengan
analisis rasional atau lewat professional
judgment. Validitas isi ini menjawab pertanyaan “sejauhmana aitem-aitem
dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau
“sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur”
Pengertian “mencakup keseluruhan
kawasan” isi tidak hanya menunjukkan bahwa tes tersebut harus kompreshensif isinya akan tetapi harus
pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar darai batasan tujuan ukur.
Waluapun komprehensip apabila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang
tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuannya, maka validitas
tes tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang
sesungguhnya. Kelemahannya dari validitas isi ini adalah bahwa estimasi
validitasnya tidak melibatkan perhitungan statistic apapun, melainkan hanya
analisis rasional.
Validitas
isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face
validity (validitas muka) dan logical
validity (validitas logic).
1)
Validititas muka,
adalah
tipe validitas yang paling rendah signifikansnya karena hanya didasarkan pada
penilaian terhadap format penampilan tes saja. Namun demikian, validitas muka
ini bukalah tidak penting, karena suatu
tes yang nampak meyakinkan akan memancing motivasi individu yang dites untuk
menghadapi tes tersebut dengan sungguh-sungguh.
2)
Validitas logic,
validitas logic disebut juga validitas sampling.
Validitas ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari
cirri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logic yang
tinggi, tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar beiris hanya
aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Misal pada
tes hasil belajar, kawasan perilaku yang hendak diukur dapat dikembalikan pada tujuan instruksional
umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Validitas logik memang sangat
penting peranannya dalam penyususnan tes prestasi.
b. Validitas Konstrak
Validitas
konstrak adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu
trait atau konstrak teoritik yang
hendak diukurnya. Misal akan mengukur tingkat variabel kecemasan. Hal itu dapat
dimulai dari suatu batasan mengenai variabael yang hendak diukur (kecemasan),
kemudian batasan variabel itu dinyatakan sebagai suatu bentuk konstrak logis
menurut konsep-konsep kecemasan yang didasari oleh suatu teori.
c. Validitas
Berdasar Kriteria
Pada
validitas berdasar kriteria ini menghendaki tersedianya eksternal yang dapat
dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel yang akan
dipredesikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk
melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi
antara skor tes dengan skor kriteria.
RANGKUMAN
Pengukuran merupakan suatu proses
kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data
yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik,
khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang
mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis
sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan
validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi. Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan
sebagai berikut: 1
). atribut psikologis bersifat laten
atau tidak tampak. 2) aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh
indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas, 3) respon dapat
dipengaruhi oleh suasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi, 4) atribut psikologis bersifat labil, gampang
berubah sesuai dengan sikon, 5) interpretasi terhadap hasil ukur psikologis
hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror
Skala
Psikologi mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1)timulus
berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak
langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap
indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur, 2) kesimpulan akhir
sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses, 3) Semua
jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh,
namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar
dan yang salah).
Dalam pemakaian sehari-hari banyak
praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan
skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok. Perbedaan
pokok antara skala psikologis dan angket tersebut menyebabkan pula perbedaan
dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaan, dan cara
interpretasi hasilnya.
Terdapat beberapa fatoktor yang dapat melemahkan
validitas, diantaranya adalah 1) identifikasi
kawasan ukur tidak jelas, 2) operasinalisasi konsep yang tidak tepat, 3) penulisan
item tidak mengikuti kaidah, 4) administrasi skala yang tidak berhati-hati,
yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
Sebelum menyusun sebuah instrument,
terlebih dahulu peneliti harus membuat Blue-print. Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen
atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing
komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.
Reabilitas merupakan penerjemahan dari
kata reliability yang mempunyai asal
kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan,
keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Terdapat beberapa metode
yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument
(termasuk skala psikologis) di anataranta adalah : pendekatan Tes – Ulang (test-retest) , pendekatan Bentuk Paralel,
Pendekatan Konsistensi Internal
Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu
tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang
ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Sisi lain pengertian
validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak
sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus
memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa
pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang
sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
Tipe validitas pada umumnya
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content
validity (validitas isi), construct
validity (validitas konstrak), criterion-releted
validity (validitas berdasar kriteria). Sedangkan validitas isi ini terbagi
menjadi dua tipe, yaitu face validity
(validitas muka) dan logical validity
(validitas logic).
SOAL-SOAL
1. Jelaskan mengapa menyusun skala psikologis
adalah pekerjaan yang tidak mudah.
2. Apa perbedaan antara angket dan skala
psikologis.
3. Jelaskan langkah-langlah atau prosedur
penyususnan skala psikologis.
4. Buatlah minimal satu variabel beserta definisi oprasional variabelnya dan kemudian
susunlah skala psikologisnya, dengan jumlah aitem minimal 25 butir. (boleh
dibuat secara kelompok, jamlah anggota maksimal 4 orang.
5. Hasil penyusunana skala psikologis pada no 4 tersebut selanjutnya
diujicobakan untuk dihitung tingkat validitas dan reliablitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Syaifudin, Azwar, 1999, Penyusunan
Skala Psikologi, Yogyakarta , Pustaka
Pelajar Offset
…………………., 2000,
Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta ,
Pustaka Pelajar Offset.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
BAB VI
PENELITIAN
EKSPERIMEN
TUJUAN
Setelah proses
belajar pembelajaran pada bab ini selesai, diharapkan mahasiswa dapat:
1.
Menjelaskan hakekat penelitian eksperimen.
2.
Menjelaskan ancaman terhadap validitas dalam rancangan
eksperimental.
3.
Menjelaskan macam-macam desain eksperimen penelitian.
4.
Membuat rancangan penelitian eksperimen sesuai desain
yang dipilihnya.
MATERI
A. Hakekat
Penelitian Eksperimen
Terdapat
beberapa pendapat tentang penelitian eksperimen, di antaranya adalah Travers
(1978) dalam Consuelo (1993:93) yang mengemukakan bahwa eksperimen ilmiah
adalah merupakan metode yang paling bergengsi di dalam perkembangan ilmu
pengetahuan. Sedangkan Gay berpendapat bahwa metode eksperimen adalah
satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis
mengenai hubungan sebab dan akibat. Senada dengan kedua pendapat tersebut Ary, dkk yang mengemukakan bahwa pada umumnya
eksperimen merupakan metode penelitian yang paling tangguh dalam pengujian
hipotesis.
Dalam penelitian eksperimen ini
paling sedikit dapat dilakukan dalam satu kondisi yang dapat dimanipulasikan, sementara kondisi lain
dianggap konstan dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi atau variabel tersebut
dapat diukur. Padahal, pemanipulasian variabel ini merupakan karakterisitik yang membedakan semua
penelitian eksperimen dengan metode-metode penelitian lain.
Sebagai peneliti harus
menghindari kesalahan yang berupa tidak
memberikan perlakuan kepada kelompok kontrol. Hal ini bias bertentangan dengan
prinsip-prinsip penelitian ilmiah, karena perlakukan yang hanya dilakukankepada
eksperimen akan menciptakan keuntungan pada kelompok yang diberi perlakuan
saja. Tentu, bagi kelompok (control) yang tidak diberi perlakuan tidak
memperoleh apa-apa.
Sangat penting bagi peneliti yang menggunakan
kelompok kontrol untuk menetapkan bahwa
variabel-variabel lainnya pada awal percobaan kedua kelompok harus sama. Peneliti harus yakin bahwa perbedaan yang
terjadi hanya disebabkan oleh perlakuan yang diberikan kepada kelompok
eksperimen saja. Sebagai contoh, peneliti ingin mencobakan dua metode
pengajaran di kelas, mungkin salah satu metode memperoleh hasil yang baik yang
tidak disebabkan olehnperlakukan eksperimen tetapi murid-murid yang ada dalam
kelompok eksperimen tersebut telah mengikuti remedial tanpa sepengetahuan
peneliti. Dalam kasus sepeerti ini, tidaklah bijaksana untuk membandingkan
kelompok-kelompok tersebut setelah diadakan eksperimen, karena adanya variabel
intervening yang menghubungkan antara variabel bebas dan terikat.
Pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti tersebut menunjukkan bahwa di dalam ekperimen peneliti gagal dalam
mengontrol kemampuan mental, oleh karena itu kemampuan mental dijadikan
variabel intervening.
Suatu penelitian eksperimen disebut
valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian
variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi
eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang
diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari
pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
Dalam penelitian eksperimental
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh
variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di
antaranya adalah:
1. Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan
sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah merencanakaan suatu system
di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat
sebelah peneliti.
2. Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti
mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam
hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
B. Ancaman Terhadap Validitas
Seperti
penelitian-penelitian lainnya, penelitian eksperimen juga tidak lepas dari
gangguan atau ancaman terhadap validitas hailnya. Campbell
dan Stanley
dalam Consuelo, dkk (1993:97) mengemukakan bahwa ancaman terhadap validitas
penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas
Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal.
1. Ancaman validitas internal. Ancaman validitas
internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, di antaranya adalah sebagai
berikut:
a.
Sejarah. Beberapa peristiwa mungkin akan terjadi selama
dilakukan eksperimen dan akan mengakibatkan perubahan serius pada variabel
terikat. Peristiwa-periswa tersebut bukan bagian dari perlakuan eksperimental,
tetapi dapat memberikan pengaruh yang serius pada variabel terikat.
b.
Kematangan. Istilah ini sebagai proses psikologis atau
biologis yang secara sistematis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu,
serta bebas dari kejadian eksternal khusus.
c.
Pengujian. Peningkatan prestasi sujek pascauji
(post-test) yang merupakan fungsi dari prauji (pre-test) dan bukan perlakuan
eksperimental. Hal ini bias terjadi apabila ujiannnya sangat mudah diingat oleh
subjek.
d.
Instrumen. Ancaman
instrument terhadap validasi internal terjadi pada situasisebagai berikut: a)
bila pra da pascauji tidak memilki tingkat kesulitan yang sama, b) bila nilai
ujian pertama dan kedua berfluktuasi, c) bila pengamatan digunakan sebagai alat
pengukuran, sedangkan pengamatnya lebih dari seorang.
e.
Seleksi.
Dalam proses seleksi anggota kelompok tidak seimbang atau homogin.
f.
Droup-out, ada anggota yang keluar sehingga
mempengaruhi jumlah anggota pada masing-masing kelompok,
2. Ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas eksternal ini
bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.
Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. Hal ini terjadi
bila tanggapan atau reaksi terhadap subjek berbeda terhadap perlakuan kerena
mereka telah mengikuti pretest, sehingga penemuan-penemuan selama eksperimen
tidak dapat digenrelasisasikan pada populasi yang tidak mengikuti pretes.
b.
Interaksi Seleksi-Perlakuan. Ini terjadi bila kelompok
yang diseleksi tidak representative mewakili populasi seperti yang diinginkan
dalam eksperimen, sehingga hasilnya kemungkinan hanya baik pada sampelnya saja
dan tidak dapat digeneralisasikan.
c.
Susuanan reaktif. Di sini diartikan sebagai kepalsuan
perangkat eksperimen dan subjek-subjek yang mengetahui bahwa dirinya dilibatkan
dalam eksperimen. Peneliti harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua
kelompok, sehingga kelompok eksperimen tidak merasa diistimewakan dan kelompok
kontrol tidak merasa dianaktirikan.
d.
Perlakuan ganda. Ini terjadi apabila subjek mendapatkan
perlakuan lebih dari satu kali, sehingga ada pengaruh pengalihan dari satu
perlakuan ke perlakuan berikutnya.
C. Berbagai Cara Mengontrol
Variabel-Variabel dari Luar
Dalam penelitian eksperimental
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh
variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di
antaranya adalah:
1. Pengacakan. Ketika
peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas
peneliti adalah menerncanakan suatu system di mana dalam penetapannya harus
bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah. Kaerlinger (1973)
mengemukakan bahwa pengacakan adalah
satu-satunya metode untuk mengontrol semua kemungkinan variabel-variabel luar.
Pengacakan berarti bahwa penetapan dilakukan melalui kesempatan murni, isalnya menggunakan tabel bilangan acak atau
prosedur sampling acak lain yang sudah disepakati.
2. Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti
mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam
hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
3. Kelompok-kelompok yang homogen. Jalan lain untuk mengontrol
variabel luar adalah dengan membandingkan kelompok yang homogen. Misalnya bila
peneliti merasa bahwa umur dapat berpengaruh terhadap variabel terikat, maka
penelitian seharusnya hanya memakai satu kelompok umur saja. Demikian juga bila
IQ dianggap mempengaruhi hasil studi, maka dalam penelitian ini hanya menarik
subjek yang mempunyai satu tinggat IQ saja. Kelemahan dari penelitian ini
adalah bahwa hasilnya hanya penemuan yang dieroleh hanya terbatas pada subjek-subjek
yang terlibat saja.
D. Macam-Macam
Desain Esperimental
1. Pre-Eksperimental Design (nondesign).
Dikatakan nondesigns, karena sumber-sumber yang mempengaruhi validitas
internal sulit dikontrol, sehingga hasil penelitian bukan semata-mata hasil pengaruh
dari variabel yang dipilih ole peneliti. Bnrtuk-bentuk pre-eksperiment ada
bebarapa, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. One-Shot Case Study (studi kasus satu sasaran)
Studi kasus satu-sasaran ini terdiri
dari satu kelompok perlakuan (X) dan kemudian diberikan tes akhir /post-test (O) tanpa control apapun.
Dengan desain sebagai berikut:
X O
X
=
treatment yang diberikan / variabel tergantung
O = variabel bebas (posttest)
Misal : X = diklat
yang diberikan kepada pegawai
O = prestasi kerja pegawai.
b. One-Group Pretest-Posttes Design
Desain
ini juga hanya terdiri dari satu kelompok eksperimen saja tanpa kelompok
kontrol. Desain ini lebih baik dari pada
rancangan no satu di atas, karena sebelum perlakuan diberikan pretest terlebih dahulu. Ancaman validitas internal pada desain ini
meliputi ancaman sejarah, kematangan, pengujian, dan instrument yang digunakan.
Dengan desain sebagai berikut:
O1 X O2 X
=
treatmet / perlakuan (variabel tergantung)
O1
= diadakan pretest sebelum diberi perlskuan
O2
= diadakan posttest sesudah perlakuan
Pengaruh perlakuan adalah: O2 - O1
c. Intact –Group Comption
X O1 O1 =
hasil pengukuran setelah diberi perlakuan pada
O2 Kelompok yang
diberi perlakuan
O2 =
hasil pengukuran pada kelompok yang tidak diberi
Perlakuan.
Dalam desain ini ada dua kelompok
yaitu kelompok yang diberi treatment dan kelompok yang tidak diberi treatment
sama sekali. Kelemahan dari desian ini adalah banyaknya variabel luar yang
berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga tingkat validitas internalnya menjadi
berkurang.
2. True Experimental Design
Dikatakan true eksperimet design
dengan desian ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang
mempengaruhi eksperimen. Dengan demikian validitas internal penelitian menjadi
tinggi. Ciri utama dari True Experimet Design
adalah bahwa subjek dipilih secara random dan ada kelompok kontrol. Adapun bentuk-bentuk true experiment design
ini meliputi sebagai berikut:
a. Posttest
– Only Desaign
R X O1
R O2
Desain menggunakan dua
kelompok yang pemilihan subjeknya dilakukan secara random, satu kelompok diberi
perlakuan yang disebut kelompok ekperimen dan kelompok lainnya tidak diberi
perelakuan yang disebut kelompok control. Pengaruh perelakuannnya diperoleh
dari O2 - O1
b. Pretest-Control group Design
R O1 X O2
R O3 O4
Dalam desain ini, dua kelompok yang
telah dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui apakah ada
perbedaan antara kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen dengan kelompok
kontrolnya. Hasil pretest yang baik apabila ada kesamaan karakteriristik antara
kelompok eksperimen dengan kelompok control. Pengaruh dari perlakuannya
adalah: (O2 – O1) – (O4 - O3)
3. Quasi Experimetal Design
Bentuk desain ini adalah sebagian
dari true-experiment desaign. Desain
ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya, untuk
mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Walaupun demikian, eksperimen ini lebih baik
daripada pre-experiment design. Adapun bentuk desain quasi experiment ini diantaranya
adalah
a. Times-Series Design (Eksperimen Seri Waktu)
O1 O2 O3 O4 X O1 O2 O3 O4
Dalam desain ini kelompok yang
digunakan dalam penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi
trieament, kelompok diberi pretest sampai 4 empat kali. Dengan empat kali test
ini maka keadaan kelompok betul-betul dapat diketahui dengan jelas. Setelah
keadaan kelompok diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Setelah
treatnmen selesai lansung diberi posttes sampai empat kali. Nilai pada
masing-masing pretes harus sama, demikian juga pada posttes.
Jadi
(O1 = O2 = O3 = O4) dan (O5
= O6 = O7 = O8).
Besarnya
pengaruh treatment adalah
(O5 + O6 + O7 +
O8) - (O1 + O2 + O3
+ O4)
b. Nonequivalent Control Group Design
(Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
Desain ini hampir sama dengan pretes-posttest control group design,
hanya saja kelompok-kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih
secara random.
U
r
O1 X O2
------------------------------------------------------------
O3 O4
X =
eksperimen
O1 =
pretest O3 =
pretest
O2 =
posttest O4 = posttest
Desain ini dipertimbangkan sebagai salah
desain yang paling umum dipilih dalam penelitian pendidikan. Kelompoknya
terdiri dari dua, dan masing-masing diberi pretest
dan posttest, tetapi hanya satu
yang diberi perlakuan atu eksperimen. Desain ini biasa digunakan pada kelompok
yang pesertanya terkumpul secara alami, misalnya murid di ruangan kelas.
RANGKUMAN
Suatu penelitian eksperimen disebut
valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian
variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi
eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang
diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari
pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
Dalam penelitian eksperimental terdapat
beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel
luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1). Pengacakan, artinya bahwa subjek yang ditetapkan sebagai kelompok
eksperimen harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti.
2). Tandingan, artinya bahwa dalam peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
Beberapa ancaman terhadap validitas penelitian berasal
dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan
ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas
internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, diantaranya adalah sebagai
berikut: 1) Sejarah. 2) Kematangan. 3) Pengujian. 4) Instrumen. 5)
Seleksi. 6) Droup-out
Sedangkan yang termasuk ancaman
validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah: 1). Interaksi
Prauji (pretest)-Perlakuan. 2) Interaksi Seleksi-Perlakuan. 3) Susuanan
reaktif. 4) Perlakuan ganda.
Adapun Pre-Eksperimental
Design (nondesign) terdiri dari: a). One-Shot
Case Study (studi kasus satu
sasaran), b). One-Group Pretest-Posttes
Desig. c). Intact-roup Comption. Adapun
True Experimental Design terdiri
dari: a).Posttest- Only Desaign dan
b)
Pretest-Control group Design.
Demikian juga Quasi
Experimetal Design terdiri dari Times-Series
Design (Eksperimen Seri Waktu) dan Nonequivalent Control Group Design
(Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
LATIHAN
1. Jelaskan alasan mengapa penelitian eksperimen
merupakan penelitian paling baik dalam membuktikan hipotesis?
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis penelitian
eksperimen dan beri contoh model desainnya..
3. Sebut dan jelaskan berbagai ancaman validitas
internal dan eksternal penelitian eksperimen.
4. Jelaskan bagaimana cara yang dapat dilakukan
peneliti untuk mengurangi atau meminimalis terjadinya ancaman tersebut pada
soal nomor tiga di atas.
3. Buatlah contoh penelitian eksperimen yang
disertai desain yang anda pilih, dan beri alasan mengapa anda memilih desin
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
METODE PENELITIAN KUANTITATIF

Oleh
Dra. M.Th.Sri Hartati, M.Pd.
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNEVERSITAS NEGERI SEMARANG
KATA PENGANTAR
Di
beberapa peguruan tinggi, baik pada tingkat jurusan maupun fakultas, utamanya
yang mewajibkan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah atau skripsi
berdasarkan penelitian, diajarkan mata kuliah Metodologi Penelitian. Kesulitan
yang sering dihadapi oleh mahasiswa adalah masih langkanya bacaan yang dapat
membantu mahasiswa untuk belajar secara aktif mandiri. Buku ini disusun untuk
memenuhi kebutuhan buku bacaan seperti itu.
Tujuan
instruksional buku ini adalah agar mahasiswa mampu:
1.
Merumuskan masalah dan hipotesis penelitian,
2.
Menjabarkan variabel penelitian,
3.
Memilih prosedur dan tehnik pengumpulan data,
4.
Menarik sampel,
5.
Mengolah data,
6.
Menarik kesimpulan.
Keenam kemampuan itu merupakan dasar
untuk menyususn suatu usulan penelitian dan menyususn skripsi. Sesuai dengan
tujuan pendidikan tinggi, diharapkan, mata kuliah ini juga nemberikan landasan
untuk bersikap ilmiah setelah mahasiswa lulus. Bersikap ilmiah artinya: Mengetahui
ruang lingkup ilmu pengetahuan, mengetahui cara mengembangkan ilmu dan
teknologi sesuai dengan profesinya, mampu mempergunakan ilmu sesuai dengan
tanggung jawab seorang sarjana, yaitu selalu memakai asas kebenaran, kejujuran,
tidak mengutamakan kepentingan golongan, dan mengakui kekuatan argumentasi.
Oleh karena itu,
selain untuk mencapai tujuan instruksional seperti tersebut di atas, mata kuliah
ini juga bertujuan agar mahasiswa memahami: fungsi ilmu pengetahuan, kriteria
kebenaran ilmu pengatahuan, dan daur metode ilmiah. Untuk mewujudkan
tujuan instruksional tersebut di atas, maka
diperlukan materi pembelajaran yang mencakup sejumlah pokok bahasan sebagai
berikut: konsep dasar penelitian ilmiah, pemilihan topik dan perumusan masalah,
kepustakaan dan perumusan hipotesis, variabel penelitian, populasi dan sampel
penelitian, pengukuran penyusunan skala dan metode pengumpulan data, validitas
dan reliabilitas instrument, rancangan eksperimen, dan penelitian tindakan.
Perlu diperhatikan bahwa buku ini
bukanlah satu-satunya sumber bacaan atau bahan studi, oleh karena itu sangat
disarankan kepada para mahasiswa untuk lebih memperkaya dengan rujukan lainnya
terutama yang ditunjuk dalam daptar pustaka di setiap akhir bab buku ini.
Selesainya penyusunan buku ini tidak
lepas dari kerja sama baik dengan
berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa kami ucapkan terimakasih. Kami
sangat terbuka bagi kritik dan saran sebagai bahan penyempurnaan terbitan
berikutnya.
Harapan kami semoga buku ini bermanfaat
bagi para dosen dan mahasisswa program kependidikan khususnya jurusan Bimbingan
dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Penulis
BAB I
KONSEP DASAR PENELITIAN ILMIAH
TUJUAN
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
menjelaskan hakekat metodologi dan metode penelitian
2.
menjelaskan hakekat, katagori, aspek, dan fungsi ilmu
pengetahuan.
3.
menjelaskan;
hakekat kebenaran; jenis dan sumber kebenaran;.
4.
menjelaskan prosedur cara memperoleh kebenaran ilmiah.
MATERI
A. Metodologi
dan Metode Penelitian
Metode berasal dari kata latin”meta”
yang berarti sesudah dan “hodos” yang berarti jalan. Jadi, makna metode kurang
lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu
yang belum diketahui. Metodologi berasal dari kata “meta” dan “hodos” seperti
tersebut di atas, ditambah kata “logos” yang beraarti uraian. Jadi, metodologi
adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang
berbagai cara untuk memehami sesuatu.
Istilah “penelitian” merupakan
padanan kata Inggris” research”. Kata
”research” ini beraral dari akar kata
latin”re” (kembali) dan “circum” atau “circa” (sekitar) yang berkaitan dengan kata ”circare” (memeriksa).
Dengan demikian, metodologi
penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti. Menurut
sejarah, dulu ada penelitian yang dilakukan secara nonilmiah. Cara nonilmiah
ini kemudian tidak dipakai lagi dan digantikan dengan prosedur ilmiah.
Penelitian secara ilmiah memerlukan syarat-syarat tertentu, misalnya tentang
logika yang dipergunakan, syarat teori atau dalil keilmuan yang dipakai,
postulat tentang objek yang diteliti, peluang kesalahan kesimpulan, dan
sebagainya.
Metode penelitian lebih sempit
telaahnya daripada metodologi penelitian. Metode penelitian hanya mempelajari
cara untuk meneliti, misalnya cara membuat usulan penelitian, cara merumuskan
hipotesis, cara mengamati (mengumpulkan data), cara mengolah (menghitung data),
cara meningkatkan validitas dan reliabilitas, cara membuat laporan, dan
sebagainya. Metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial agak berbeda dengan
metodologi penelitian ilmu-ilmu pasti, karena teori dan dalil (hukum) berbeda.
Sehubungan itu setiap ilmu atau disiplin ilmu mempunyai metode penelitian
sendiri-sendiri. Misalnya, dalam psikologi mempunyai metode penelitian yang
berbeda dengan ilmu-ilmu pertanian.
1. Pengetahuan
Pengetahuan
adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung
maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra
(sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap
atau pendapat). Sedangkan pengalaman
tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang secara intelektual
diterima oleh orang yang pertama.
Setiap
jenis pengetahuan dapat dipandang dari tiga aspek, yang saling berkaitan, yaitu
aspek ontologis, epistomologis, dan aspek aksiologis. Ontologi menjawab
pertanyaan ” apakah yang disebut pengetahuan?”. epistomologi menjawab
pertanyaan ”bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?”. sedang aksiologi
mejawab pertanyaan ” untuk apa pengetuan itu?”
2. Katagori Pengetahuan
a. Pengetahuan diterima secara a priori, berarti pengetahuan itu
langsung dipercaya (langsung diyakini)
b. Pengetahuan diterima secara posteriori, berarti pngetahuan itu
diperoleh secara kritis (skeptis, harus ada bukti-buktinya) selanjutnya
disebut ”ilmu pengetahuan atau ilmu”
3.
Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu
proses atau prosedur dan dapat pula
dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah
pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur
ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode
ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus
ditempuh dengan prosedur ilmiah.
a. Ontologis : Apa ?
1) Objek penelaahan ilmu pengetahuan adalah
pada wilayah yang berada didalam jangkauan pengelaman manusia.
2) Harus dapat dideduksi secara rasional lalu
dibuktikan secara empiris.
b. Epistemologis : Bagaimana
cara ? (logico-hypotetico-verificatif )
3) artinya ilmu pengetahuan diperoleh
dengan cara logis (ada dasar atau
alasan deduktif rasional) dalam membuat
dugaan (hipotesis) dalam menjelaskan setiap gejala.
4) dugaan (hipotesis) harus dapat diuji
(diverifikasi) secara emperis.
5) Proses pengujian menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan bersifat terbuka (selalau dilakukan koreksi dan kritik objektif)
c. Aksiologis : Untuk apa ?
6) Terikat pada asas moral artinya bahwa penerapan ilmu pengetahuan
diarahkan untuk meningkatkan harkat (martabat) kemanuasiaan, tanpa menentang
kodrat dan merusak alam.
7) Bersifat komunal (semua orang berhak
mempergunakannya)
8) Bersifat universal ( tidak terikat ras,
agama, dan suku)
5. Fungsi Ilmu Pengetahuan
Pada
dasarnya ilmu pengetahuan mempunyai fungsi untuk memecahkan masalah yang
dihadapi manusia. Jika diperinci secara lebih lanjut ilmu pengetahuan dqapat
digunakan untuk
a. Menerangkan suatu gejala
(mengamati, memberi nama, memberi keterangan tentang gejala, dan akhirnya
mempunyai deskripsi (pencandraan)tentang berbagai gejala tersebut),
b. Dapat memahami hakekat gejala (mengetahui alasan, sebab, dan kondisi
yang menimbulkan gejala tersebut),
c. Dapat meramal gejala yang akan datang
(menemukan hukum-hukum untuk menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh
gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. Ini berarti manusia dapat
meramalkan munculnya gejala yang akan datang)
d. Dapat mengendalikan gejala (melakukan
manipulasi terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya suatau gejala
sehingga dapat ”mengatur” kapan suatau
gejala harus terjadi.
6. Metode ilmiah
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau
ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan
masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran”
Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan.
Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.




|

|






.
7. Daur
Metode Ilmiah
Kenyataan menunjukan bahwa setelah
metode ilmiah dirumuskan oleh John Dewey, pada tahun 1910, maka metode ini
segera dipakai secara meluas. Hal ini terjadi karena metode ilmiah bersifat
efisien, terbuka, dan teruji. Metode ilmiah efisien dalm mempergunakan sumber
daya (tenaga, waktu, biaya) karena, misalnya, hasil penelitian seseorang dapat
juga dijadikan dasar bagi penelitian orang lain. Hipotesis seseorang, dapat
juga diuji oleh orang lain. Kerjasama atau komunikasi di antara para peneliti
seperti ini dapat terjadi karena sifat keterbukaan metode ilmiah, yatu
kemungkinan penggunaan metode ilmiah oleh siapapun. Tidak ada batasan, misalnya
metode ilmiah hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Ini menunjukkan, bahwa
metode ilmiah bersifat terbuka. Metode ilmiah teruji, karena prosedurnya logis,
sehingga dianggap sahih untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, karena dalam
penelitian ilmiah terdapat ururtan kegiatan, maka terjadi proses perencanaan
yang matang.
Pada
prinsipnya, metode ilmiah mempergunakan logika deduksi lalu logika induksi
(daur logico-hypothetico-verifikatif).
Daur logico-hypothetico-verifikatif,
jika dijabarkan, terdiri atas tahapan kerja seperti berikut:
1.
Ada
kebutuhan objektif.
2.
Perumusan masalah.
3.
Pengumpulan teori.
4.
Perumusan hipotesis.
5.
Pengumpulan data.
6.
Analisis data (pengujian hipotesis).
7.
Penarikan kesimpulan.
Penggunaaan istilah daur
menunjukkan, bahwa tahapan kerja tersebut tidak pernah berhenti. Setelah tahap
penarikan kesimpulan, akan timbul kebutuhan objektif atau timbul masalah yang
baru lagi. Masalah ini merangsang munculnya teori baru. Miniatur tahapan
berpikir ilmiah terdapat dalam suatu kegiatan penelitian ilmiah; jadi suatu
penelitian ilmiah harus mengikuti tahap-tahap metode ilmiah.
RANGKUMAN
Makna
metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau
memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi adalah pengetahuan
(penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memahami
sesuatu. Sedangkan metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai
cara untuk meneliti.
Pengetahuan adalah semua pengalaman
manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung
diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat
intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain,
yang
Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan
dapat pula dianggap sebagai produk atau
hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut
metode ilmiah. Metode
ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus
ditempuh dengan prosedur ilmiah.
Fungsi Ilmu
Pengetahuan a). menerangkan suatu gejala, b). memahami hakekat gejala c). meramal
gejala yang akan datang, d) menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh
gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. e) mengendalikan gejala
Agar pengetahuan (termasuk ilmu
pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk
memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ”
kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat
dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek
ontologi.
Terdapat berbagai sumber kebenaran, yaitu: Wahyu (agama, dogmatis), Otoritas ahli, intuisi, pengalaman
pribadi, & akal sehat, Rasio(deduksi),
Emperi (induksi), Ilmiah
(paduan rasio dan emperi).
LATIHAN :
1.
Mengapa pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau
ilmu) harus mengandung kebenaran ?
2.
Sebutkan sumber atau cara memperoleh kebenaran.
3.
Jelaskan syarat benar bagi ilmu pengetahuan.
4.
Sebut dan jelaskan tahapan penemuan metode ilmiah.
5.
Sebut dan jelaskan cara berpikir.
6.
Apa yang dimaksud dengan logika yang dipakai dalam ilmu
pengetahuan.
7.
Prosedur berpikir ilmiah:
a.
Apa arti “prosedur berpikir ilmiah”?
b.
Jelaskan syarat prosedur berpikir ilmiah
c.
Sebut dan jelaskan tahapan dalam prosedur berpikir
ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES
BAB II
MASALAH PENELITIAN,
KAJIAN PUSTAKA dan PERUMUSAN HIPOTESIS
TUJUAN:
Setelah mengikuti perkuliahan pada
bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
menjelaskan hakekat masalah, sumber-sumber masalah, dan
katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
2.
merumuskan contoh permasalahan penelitian.
3.
menjelaskan hakekat kajian pustaka dan hipotesis
penelitian.
4.
menjelakan prosedur penemuan rumusan hipotesis
penelitian.
MATERI
A. Masalah Penelitian
1. Hakekat masalah
Salah satu langkah yang paling
penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Banyak mahasiswa
mengatakan bahwa menemukana masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan
mungkin sebuah hambatan. Dalam tahap pencarian masalah yang layak untuk
diteliti sering merupakan sebuah hambatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan
skripsi. Sauatu penelitian akan dilakukan selalu berangkat dari masalah.
Memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses
penelitian (Tuckman, 1988:25)
Masalah dapat dikatakan sebagai
penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau
dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Consuelo dkk
mengatakan bahwa keadaan seperti di berikut ini dapat memunculkan suatu
masalah, misalnya: a) bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya
kesenjangan dalam pengetahuan kita. b) bila ada hal-hal yang bertentangan. c) bila
ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.
Tidak semua masalah perlu dilakukan pemecahan
melalui sebuah penelitian dengan menuntut metodologi penelitian ilmiah, karena
sangat dimungkinkan cukup dipecahkan secara sederhana. Menurut Karlinger (1998:
29) Masalah yang baik harus bercirikan sebagai berikut: (a) masalah harus
mengungkapakan hubungan antara dua variabel atau lebih, (b) masalah harus
dinyatakan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak hambigu dan dikemukakan
dengan kalimat tanya, (c) masalah harusndirumuskan dengan cara tertentu yang
menyiratkan adanya kemungkinan pengujian hipotesis.
2. Sumber Masalah
Masalah
dapat diperoleh dari berbagia sumber, baik dari pengamatan langsung terhadap fenomena di lingkunagn sekitar,
maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik, dari hasil-hasil
penelitian terdahulu, membaca buku, mengikuti seminar ilmiah,
pertemuan-pertemuan seprofesi, dan mungkin dari pengamatannya selama
perkuliahan.
Sedang menurut Stoner (1982:257)
mengemukakan sumber-sumber masalah adalah sebagai berikut: a. adanya
penyimpangan antara teori dan kenyataan. b. adanya penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan.
c. adanya pengaduan. d. adanya
kompetisi.
Terdapat
beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi
masalah penelitian, yaitu:
a.
Membaca
sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap
kritis terhadap apa yang dibaca.
b.
Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
c.
Mengamati dari dekat situasi atau kejadian -
kejadian di sekitar.
d.
Memikirkan kemungkinan penelitian dengan
topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
e.
Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
f.
Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat
hasil penemuan yang diperolehnya.
g.
Berlangganan jurnal atau majalah yang
berhubungan dengan bidang ilmunya.
h.
Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan
bidangnya
3. Karakteristik masalah yang baik:
Pada dasarnya hampir semua
permasalahan memerlukan pemecahanan, baik secara sederhana maupun secara ilmiah.
Pemecahan masalah dengan cara sederhana tidak perlu melalui tahapan - tahapan
atau prosedur ilmiah. Permasalaha-permasalahan yang memerlukan prosedur dan
tahap ilmiah adalah permasalahan-permasalahan yang bercirikan tertentu.
Di bawah ini terdapat ciri-ciri
masalah yang memerlukan pemecahan secara ilmiah:
a.
Masalah harus fisible, artinya bahwa
masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak
menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
b.
Masalah harus jelas, yaitu
menunjukkan semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah
tersebut.
c.
Masalah harus signifikan, artinya
bahwa jawaban atas masalah tersebut harus memberikan kontribusi pada
pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.
Masalah harus etis, artinya bahwa
tidak bertentangan dengan etika dan nilai-nilai keyakinan dan agama tertentu.
e.
Masalah haruslah merupakan issu baru,
artinya issu yang sedang dibicakan dan didiskusikan oleh sebagaian besar
masyarakat.
f.
Masalah dapat dipecahkan sesuai dengan waktu
yang telah direncanakan.
g.
Masalah yang dipilih harus benar-benar
menarik bagi calon penelitinya.
4. Bentuk-Bentuk
Masalah Penelitian
Bila dilihat dari karakteristik
variabel dan hubungan antar variabel dalam penelitian, maka bentuk- bentuk
masalahan penelitian dapat dibedakan menjadi:
a.
Permasalahan deskriptif, adalah permasalahan yang berkenaan dengan variable mandiri, yaitu tanpamembuat
perbandingan atau menghubungkan.
Contoh:
1) Seberapa tinggi produktivitas keja karyawan di PT Samudra?
2)
Seberapa baik interaksi
kerja karyawan di industri A?
3) Bagaimana sikap masyarakat terhadap pelaksanaan PIN Polio?
4) Berapa persen motivasi pegawai negeri, bila didasarkan pada criteria ideal yang
diterapkan?
b.
Permasalahan komparatif, adalah suatu permasalahan
penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan variabel pada dua sample atau
lebih.
Contoh:
1) Adakah perbedaan produktifitas kerja antar pegawai negeri dan swasata?
2) Adakah kesamaan interaksi kerja
antara karyawan perusahaan A dan
B?
3) Adakah perbedaan disiplin kerja antara pegawai swata dan BUMN?
4) Mana yang lebih tinggi prestasi kerja antar pegeawai negeri,
swasta dan BUMN?
c. Permasalahan
asosiatif adalah : suatu pertanyaan penelitian yang menghubungkan dua atau
lebih variabel. Terdapat dua hubungan asosiatif ini, yaitu hubungan Simetris dan hubungan Kausal.
Hubungan
simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau
lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh:
1) Adakah hubungan antara kecerdasan dan
prestasi
2) Adakah hubngan antara bakat, minat, dan
kreativitas siswa?
3)
Adakah
hubungan antara kodok ngorek dan jumlah paying yang terjual?
Hubungan kausal adalah hubngan yang
bersifat sebab akibat, jadi akan ada variabel independen dan variabel depeden.
Contoh:
1) Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi
kerja karyawan ?
2) Adakah pengaruh tipe kepemimpinan kepala
sekolah terhadap kinerja guru?
3) Seberapa besar pengaruh tata ruang
terhadap kedisiplinsn karyawan?
4)
Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor
terhadap efesiensi kerja karyawan.
Hubungan interaktif, adalah hubungan yang
saling mempengaruhi, sehingga tidak diketahui mana variabel dependent dan mana
variabel independent. Contoh:
1) Hubungan antara kemiskinan dan kebodohan,
Kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan, dan kebodohan juga dapat menyebabkan kemiskinan.
2)
Hubungan
antara motivasi dan prestasi. Motivasi dapat mempengaruhi prestasi, dan
presatasi dapat mempangaruhi motivasi.
B. Teeori
dan kajian Pustaka
Teori
adalah seperangkat konstruk (konsep, definisi, dan proposisi yang menyajikan
gejala (fenomena) secara sistematis merinci hubungan antara variabel-variabel
dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut. (Kerlinger, 1998).
Sedangkan Singarimbun (1989) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat asumsi,
konsep, konstrak, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena
secara sistematik dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.
Dalam
pencarian teori, kita mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari
kepustakaan yang berhubungan. Teori dapat dicari dari berbagai buku, jurnal,
majalah, tesis, dan disertasi, serta sumber-sumber lain yang sesuai.
1. Fungsi
Teori
- Sebagai
identifikasi awal dari masalah penelitian dengan menampilkan kesenjangan,
bagian-bagian yang lemah, dan ketidak sesuainnya dengan
penelitian-penelitian terdahulu. Sehingga dapat memberikan suatu kerangka
konsepsi penelitian dan memberikan alasan perlunya penyelidikan.
b.Untuk mengumpulkan semua konstruk atau konsep
yang berkaitan dengan topic penelitian. Kemudian melalui teori ini dapat
membuat pertanyaan-pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah.
c. Untuk menampilkan hubungan antara
variable-variabel yang telah diteliti. Dengan ini kita dapat membandingkan
topic penelitian dengan penemuan -penemuan sebelumnya.
2. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah
proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori terdahulu. Kajian
pustaka ini meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan
analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan masalah
penelitian.
3.
Fungsi kajian pustaka:
a. Menyediakan kerangka
konsepsi atau kerangka teori utk penelitian yang direncanakan.
b. Menyediakan informasi tetang penelitian yang lampau yang
berhubungan dengan penelitian yg akan dilakukan.
c. Memberi informasi
tentag metode penelitian, populasi & sample, intrumen
pengumpulan
data, dan perhitungan statistic yang digunakan pada penelitian sebelumnya.
d. Mencari jawaban sementara (hipotesis) dari masalah yg dirumuskan.
e. Menyediakan
temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan penelitian terdahulu yang dapat
dihubungkan dengan kesimpulan kita.
f. Membantu menemukan topic yang lebih sesuai.
Kepustakaan
dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kepustakaan penelitian dan kepustakaan
konseptual. Kepustakaan teori meliputi laporan penelitian yang sudah
diterbitkan, misalnya jurnal dll. Sedangkang kepustakaan konseptual meliputi
artikel - artikel atau buku-buku yang ditulis oleh para ahli. Sumber-sumber
kepustakaan dapat dicari di dalam buku teks, jurnal, ensiklopedi,
indeks, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan abstrak.
C.
HIPOTESIS
Setelah peneliti melakukan
penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk memeproleh jawaban sementara atas pertanyaan
sementara yang telah dirumuskan sebelumnya. Dikatakan jawaban semenatara karena
jawaban yang diberikan baru berdasarkan teori yang relevan, dan belum
dibuktikan secara emperis yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis
merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian, oleh
karena itu peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini
dengan jelas. Borg and Gall (1976:61) mengemukakan adanya persyaratan
merumuskan hipotesis sebagai berikut: (1)
Hipotesis harus dengan kalimat yang singkat dan jelas. (2) Hipotesis
harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan dua atau lebih variable. (3). Hipotesis harus
didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil peneliti
yang relevan.
1. Bentuk-Bentuk
Rumusan Hipotesis Penelitian
Bentuk
hipotesis penelitian sangat tergantung pada bentuk permasalahan penelitian.
Apabila masalah penelitiannya deskriptif maka bentuk hipotesisnya juga akan
mengikutinya, yaitu berbentuk deskriptif. Dengan demikian terdapat tiga bentuk hipotesis, yaitu: hipotesis
dIskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.
a. Contoh
rumusan hipotesis diskriptif :
1)
(Ho) : Daya Tahan Lampu Pijar mereke A = 600 jam
(Ha)
: Daya Tahan lampu Pijar A ≠ 600
jam Ini dapat berarti ≤ atau
≥ dari 600
(Ho) : µ = 600
(Ha)
: µ ≠ 600
atau > atau < 600
µ adalah nilai populasi yang dihipotesiskan /
ditaksir.
2). (Ho)
: Semangat kerja karawan PT A = 75 % dari criteria yang ditetapkan.
(Ha) : Semangat kerja PT A ≠ 75%
atau > atau < 75%
(Ho) : p
=
75 %
(Ha) : p
≠ 75% atau > atau < 75%
b. Contoh rumusan
hipotesis komparatif
Rumusan
Masalah
1) Bagaimana produktivitas kerja karyawan FIP
bila dibandingkan dengan karyawan FMIPA ?
2) Adakah perbedaan daya kepemimpinan di FIP
dan FMIPA ?
Rumusan Hipotesisnya:
1)
(Ho) : Tidak ada perbedaan produktivitas kerja
antara karywan di FIP dan FMIPA atau terdapat persamaan produktivitas kerja
antara karyawan FIP dan FMIPA
(Ha) : Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan
FMIPA.
(Ho)
: µ1 = µ2
(Ha) : µ1
≠ µ2
2). (Ho)
: Produktivitas kerja karyawan FIP lebih
kecil atau sama dengan (≤) karyawan
FMIPA
(Ha) : Produktivitas karywan FIP lebih besar dari karyawan FMIPA.
(Ho) : µ1 ≤ µ2
(Ha)
: µ1 > µ2
3). (Ho)
: Produktivitas karyawan FIP lebih besar
atau sama dengan (≥) karyawan FMIPA.
(Ha) : Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil (<) dari karyawan
FMIPA
(Ho)
: µ1 ≥ µ2
(Ha) : µ1
< µ2
c. Contoh rumusan hipotesis
asosiatif
Rumusan Masalahnya
1) Adakah hubungan antara pengawasan melekat
dengan efesiensi kerja pegawai di UNNES ?
2)
Adakah hubungan antara disiplin kerja gaya kepemimpinan di PTA
Rumusan
Hipotesis
(Ho)
: Tidak ada hubungan ……..
(Ha)
: Terdapat hubungan yang signivikan
antara …….dan ……
(Ho) : p = 0
, 0 berarti tidak ada hubungan
(Ha) : p
≠ 0 ,
tidak sama dengan 0 berarti lebih besar atau lebih kecil dari 0 (nol)
p = adalah nilai korelasi
dalam formulasi yang dihipotesiskan.
RANGKUMAN
Salah satu langkah yang paling
penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Menemukan masalah
merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan bagi
seseorang untuk melakukan sebuah penelitian. Masalah dapat dikatakan sebagai
penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau
dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Terdapat beberapa cara yang dapat
membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
1. Membaca sebanyak-banyak literature yang
berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
2.
Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
3.
Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian
di sekitar.
4.
Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik
atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
5.
Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
6.
Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil
penemuan yang diperolehnya.
7.
Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan
dengan bidang ilmunya.
8.
Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan
bidangnya
Terdapat
3 bentuk permasalahan, yaitu masalah diskriptif, komparatif, dan asosiatif,
dengan demikian akan menghasilkan 3 bentuk hipotesis pula, yaitu : hipotesis
diskriptif, asosiaytif , dan komparatif .
SOAL
LATIHAN
1.
Jelaskan dengan kata – kata sendiri tentang hakekat masalah.
2.
Sebut dan jelaskan sumber-sumber masalah.
3.
Jelaskan katagori permasalahan yang baik dan layak
untuk diteliti.
4.
Jelaskan peranan kajian pustaka dalam suatu penelitian
dan jelaskan berbagai sumber kajian pustaka.
5.
Tidak semua penelitian diperlukan suatu hipotesis,
jelaskan alasannya.
6.
Buatlah contoh permasalahan penelitian yang sesuai
dengan bidang anda dan rumuskan hipotesisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES
BAB III
VARIABEL PENELITIAN
TUJUAN
Setelah mempelajari bab III ini diharapkan mahasiswa
:
1.
Mampu menjelaskan pengertian variabel penelitian
2.
Mampu menyebut dan menjelaskan macam variabel
penelitian
3.
Mampu menjelaskan dan mencari contoh hubungan variabel.
4.
Mampu
menjelaskan pengertian definisi oprerasional variabel
5.
Mampu merumusakan definisi operasional variabel.
MATERI
1. Pengertian
variabel
Istilah “variabel “ merupakan
istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Kerlinger
(1998: 49) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu sifat yang memiliki
bermacam nilai atau dengan kata lain bahwa variabel adalah sesuatu yang
bervariasi. Lebih rinci lagi dikatakan
bahwa yang dimaksud dengan variabel adalah symbol/lambang yang padanya kita
lekatkan nilai yang berupa angka. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi (1997: 97) mendefinisikan
variabel merupakan gejala yang bervariasi seperti jenis kelamin (karena ada
wanita dan pria), berat badan (karena ada yang mempunyai berat 40kg, 50kg,
55kg, dsb). Senada dengan pendapat tersebut, Sugiono (2005: 3) mendefinisikan
variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati. Variabel
itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi
antar satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Tinggi, berat badan, sikap,
motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna kulit, dan lain sebagainya
merupakan atribut dan obyek.
Bila tinggi badan, berat badan,
kemampuan, gaya
kepemimpinan dari sejumlah orang (missal 30 orang) itu sama, maka semua itu
bukanlah variabel. Jadi dikatan variabel karena ada variasinya.
Berdasarkan beberapa pendapat
tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel mempunyai beberapa pengertian. (a)
Variabel adalah karakteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat
yang berdiri sendiri-sendiri. (b) variabel adalah simbul atau lambang yang
padanya diletakkan bilangan atau nilai, (ca) variabel adalah atribut dari
seseorang atau obyek yang mempunyai variasi, (d) variabel adalah atribut atau aspek atau sifat
dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
1. Jenis-Jenis Variabel
Dengan latar belakang gagasan tentang definisi tersebut
di atas, mari kembali
membicarakan
variabel. Variabel dapat dikelompok-kelompokkan menurut berbagai cara.
Kerlinger (1998: 59) mengelompokkan variabel menurut berbagai cara. Menurutnya
terdapat tiga kelompok, yaitu : (1) variaabel bebas dan variabel tergantung,
(2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinu dan variabel
katagori. Suharsimi (1997: 97) membedakan jenis variabel menjadi: (1) variabel
kuatitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuatitatif misalnya luasnya kota , umur, banyaknya jam
dalam sehari. Contoh variabel kualitatif kemakmuran, kepandaian, dan lain-lain.
Sedangkan variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu
variabel diskrit dan variabel kontinum.
Pada
dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila
dilihat dari letak hubungan atau posisi
dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c)
Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis
datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel
kontinum.
a.
Variabel
independent/prediktor/stimulus/bebas, adalah variabel yang dipandang
sebagai sebab munculnya atau terjadinya perubahan pada variabel lain. Dalam
penelitian eksperiman, variabel bebas ini adalah variabel yang dimanipulasikan
oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan
mengkaji akibat berbagai metode pengajaran, dia dapat memanipulasi metode
(yakni variabel bebasnya) dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian
yang tidak bersifat eksperimental, variabel
bebasnya adalah yang “secara logis”
menimbulkan akibat tertentu terhadap variabel terikat. ( variabel
yang keberadaaannya meningkatkan atau memperlemah variabel lainnya)
b. Variabel
dependen/kriteria/output/konsekuensi, adalah variabel yang diramalkan,
misalnya prestasi belajar sebagai variabel tergantung diramalkan oleh motivasi
belajar sebagai variabel bebas.
c. Variabel Intervening, adalah variabel
yang secara teoritis mempengaruhi (memperlambat/mempercepat) hbungan antara
variabel independen dan variabel dependen, tetapi tidak teratur. Missal, anak
yang pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak pandai
tetapi nilai rendah. Ternyata ia sedang skit saat ujian.
d. Variabel moderator, adalah variabel
yang mempengaruhi (memperkuat /memperlemah) hubungan antara variabel
independent dan variabel dependen. Variabel ini dsering disebut sebagai
variabel independent ke dua. Misal, Hubungan suami dan istri akan semakin
harmonis apabila sudah mempunyai anak. Jadi anak adalah contoh variabel moderator.
e. Variabel control, adalah variabel yang
dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga tidak akan mempengaruhi variavel
utama yang diteliti. Variabel control ini diciptakan oleh peneliti, bila peneliti
akan melakukan penelitian. Misal, seorang peneliti ingin meneliti pengaruh
pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Salah satu variabel
controlnya adalah kecerdasan. Maka untuk menjadikan variabel control dengan
cara semua siswa yang menjadi subjek sampel harus dicari yang mempunyai
kecerdasan inteligensi yang relative sama/homogin.
e. Variabel diskrit/variabel katagori, pembedaan
yang istimewa dalam merencanakan penelitian dan mengalisis data, yakni
pengelompokan variabel kontinu dan variabel diskrit/katagori. Variabel katagori/diskrit ini berkaitan dengan suatu jenis
pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal. Pengukuran nominal termasuk taraf
pengukuran yang paling rendah, karena angka-anagka yang diberikan pada
objek-objek merupakan angka yang tidak mengandung arti kuantitatif
(banyak-sedikitinya “jumlah”), agka-angka itu tidak dapat diurutkan atau
ditambahkan / dijumlahkan. Angka-angka itu hanyalah label. Pengukuran nominal
diangkakan / dikuantifikasikan manakala yang dilakukan hanyalah dikotomi.,
misalnya ia-tidak, benar-salah, waanita- pria, hadir-tidak hadir, dll.
f. Variabel kontinu, variabel kontinu dapat memiliki sehimpunan harga yang
teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Hal ini mengnadung arti bahwa harga-harga
variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order), misalnya: sangat tinggi, samapai dengan sangat rendah. Dalam variabel kontinu ini,
sangat dimukngkin mengandung nilai-nilai
pecahan, misalnya, umur si A 47,5 tahun. IPK A: 3,6, dan lain sebagainya.
Variabel kontinu ini dipisahkan menjadi
3 variabel kecil, yaitu: viarabel ordinal, variabel interval, variabel ratio.
(1) Variabel
ordinal, adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingakatan, misalnya
panjang, kurang panjang, pendek. Perlu diketahui bahwa jarak antar jenjang yang
satu dengan jejang yang berikutnya tidak selalu sama, misalnya, nilai juara I ,
juara II, dan juara III tidak sama.
(2)
Variabel interval, adalah variabel yang mempunyai nilai data
berjenjang seperti variabel ordinal, tetapi jarak nilai antar jenjang sama.
Perlu diketahui bahwa data variabel interval ini tidak mengandung nilai nol
mutlak atau absolute. Suhu 0 derajat Celsius bukan berarti tidak tidak bersuhu.
Nilai matematika 0 bukan berarti dia tidak mempunyai kepandaian matematika sama
sekali.
(3) variabel
Ratio, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenang, jarak antar
jenjang sama, dan memilki nilai 0 mutlak. Misal: ukuran panjang, berat,
pendapatan. Pendapatan hari ini 0 berarti memang tidak mempunyai pendapatan
sama sekali, berat 0 berarti memang tidak punyai berat, dll.
3. Hubungan
Variabel
Pada umumnya, penelitian itu senantiasa
menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Terdapat berbagai jenis
hubungan variabel dalam penelitian, diantaranya adalah:
|
|
a.
|
|
|
||||||

c.
|
![]() |
d.
|
||||||
|
||||||
|
||||||
![]() |
||||||

|
e.
RANGKUMAN
Variabel adalah atribut atau aspek
atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
Pada dasarnya, jenis-jenis variabel
dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan
atau posisi dalam penelitian, variabel
dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d)
Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri
dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum. Dengan mengetahui jenis variabel yang akan
diteliti akan membawa konsekuensi terhadap jenis atau tehnik analisis data yang
akan dipergunakan.
SOAL LATIHAN
1.
Jelaskan dengan kata-kata sendiri pengertian variabel penelitian.
2.
Sebut dan dan jelaskan macam/jenis variabel penelitian
3.
Jelaskan berbagai jenis hubungan variabel dan perjelas
jawab saudara dengan membuat contoh hubungan variabel.
4.
Apa yang dimaksud dengan definisi oprerasional variabel
dalam penelitian.
5.
Buatlah contoh definisi
operasional variabel (dengan vaiabel rekaan)
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan
Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
Suharsimi ,1998, Prosedur
Penelitian, Jakarta ,
LP3ES.
Supranto, J. 1998, Tehnik Sampling, Untuk Survey dan
Eksperimen, Jakarta ,
Rineka Cipt
BAB IV
POPULASI dan SAMPEL
TUJUAN
Setelah mengikuti
perkuliahanini diharapkan mahasiswa mampu:
1.
Menjelaskan dengan kata-kata
sendiri pengertian populasi, sampel, dan teknik sampling.
2.
Menjelaskan prosedur pengambilan sampel sesuai dengan jenis-jenis teknik
sampling.
3.
MATERI
A.
Populasi
1. Pengertian
Ada
berbagai pengertian tentang populasi, namun sebenarnya antara pengertian atau
batasan yang satu dengan yang lain itu mempunyai hakekat yang senada. Di bawah
ini terdapat berbagai batasan tentang populasi.
a.
Populasi adalah keseluruhan anggota, kejadian, atau
objek-objek yang telah ditetapkan dengan baik.
b.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari
obyek/subyek yang mempunyai kuantitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
c.
Populasi seluruh data yang terjadi perhatian dalam
suatu ruang lingkup dan waktu yang
ditentukan.
d.
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang
terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai
tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik
tertentu di dalam penelitian.
Atas dasar itu semua dapat dismpulkan
bahwa populasi itu bukan terbatas pada orang, tetapi juga benda-benda lain.
Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajarai,
tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau
objek itu.
Misalnya akan melakukan penelitiam
di lembaga X, maka lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai
sejumlah orang(subjek) dan objek lain. Hal ini berarti populasi dalam arti
jumlah/kuantitas. Tetapi lemabag X mempunyai orang-orangnya, misalnya motivasi
kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, dan lain-lain, dan jugamempunyai
karakterisitik objek lainnya, misalnya kebijakan, proseduru kerja, tata ruang,
produk yang dihasilkan, dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam
arti karakteristik.
2. Ragam
populasi
Dilihat
dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
a.
Populasi terbatas / terhingga, yaitu populasi yang
memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang
terbatas. Misalnya 500 orang guru BK di Semarang dengan karakteristik lulusan
S1 BK , dengan masa kerja 3 tahun.
b.
Populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, yakni
populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya petani di Indonesia .
c.
Populasi
homogin, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama
sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
d.
Populasi heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat yang berfariasi.
B. Sampel
1. Pengertian sampel
Sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana , waktu, dan tanaga, maka
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang
dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.
Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
Pada
dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti melakukan penelitian sampel, di ataratanya
adalah:
a.
Efesien waktu, tenaga, dan biaya,
b.
Sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan (
missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.)
c.
Penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak
bom, petasan, granat, dll.
d.
Terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh
terlalu banyaknya obyek atau elemen
yang harus dicatat.
Adapun ciri sample yang baik
adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar
mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan
ciri-ciri populasi.
Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau
seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya
yang disebut parameter. Misal: sensus penduduk, sensus industri, sensus
pertanian, sensus ekonomi, yang bertujuan untuk memperoleh data
penduduk, industri, pertanian, dan ekonomi yang sebenarnya, seperti jumlah
penduduk, jumlah perusahaan, jumlah petani, dan jumlah modal yang sebenarnya.
2.
Tehnik Sampling
Kalau
seorang peneliti telah menetapkan ciri-ciri populasi yang akan ditelitinya,
persoalan yang kemudian harus dihadapinya adalah memilih sample yang
mencerminkan populasi dari mana sampel tersebut telah ditarik. Cara pengambilan
data atau penelitian kalau hanya elemen sampel (sebagian dari elemen populasi)
yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan (estimasi). Jadi bukan data yang sebenarnya. Oleh karena itu
tidak semua elemen diteliti, maka data perkiraan berbeda dengan parameter.
Perbedaan atau selisih itu disebut kesalahan sampling (sampling error). Makin
kecil kesalahan sampling suatu perkiraan, makin teliti perkiranaan tersebut,
sehingga nilainya semakin dekat dengan nilai sebenarnya.
Dalam
penelitian ada yang disebut dengan Elemen, adapun yang dimaksu dengan elemen
adalah sesuatu yang menjadi objek
penelitian. Orang misalnya karyawan, mahasiswa, petani, buruh, emigrant, dan
lain-lain. Barang misalnya berbagai jenis kendaraan, lampu, berbagai jenis
tumbuhan kacang-kacangan. Unit organisasi misalnya Negara, departemen,
perusahaan, rumah sakit, dan lain-lain.
Di bawah ini akan dibahas tentang beberapa tehnik atau
strategi
pengambilan sampel dan yang kemudian sering
disingkat dengan istilah tehnik samp

![]() |
![]() |
||
Dari
gambar tersebut di atas terlihat bahwa tehnik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability
Sampling dan Nonbrobability Sampling.
Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified
random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster)
sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari:
sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling,
sampling jenuh, snowball sampling.
1. Probability Sampling
Probality
sampling adalah tehnik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap
unsur (anggota) populasi untuk menjadi anggota sampel.
Teknik in meliputi:
a.
Simple
random sampling (
sampling acak sederhana)
Dikatakan sederhana (simpel) karena
pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
strata yang ada dalam populasi itu. Syarat anggota populasi harus bersifat
homogen.
Cara memilih elemen anggota sampel, antara
lain sebagai berikut:
1)
Pengambilan sampel dengan cara undian (fishbowl), dengan
prosedur pertama adalah menetapkan nomor-nomor pada anggota populasi yang
terkumpul dalam daftar sampling.
Kemudian tulis nomor anggota populasi pada potongan kertas kecil dan
selanjutnya digulung. Kocok-kocok gulungan kertas yang sudah berisi nomor
populasi tersebut dan ambil secara acak
sejumlah yang diinginkan.
2)
Dengan
menggunakan table bilangan acak.
Tehnik ini merupakan tehnik yang paling sistematis dalam perolehan unit-unit
sampel melalui acak. dengan prosedur sebagai berikut: mengidentifikasi semua
anggota populasi, dan kemudian memberi nomor pada setiap anggota. Daftar ini
disebut kerangka pengambilan sampel (sample frame),
seandainya kita memiliki 50 anggota populasi, dapat dimulai dari angka 01 s/d
50, penentuan arah bergerak, penentuan elemen pertama
b. Proportionate
Stratifified Random Sampling (Sampling
Acak Berlapis)
Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak
homogen dan berstrata secara proporsional.
Misalnya, Peneliti ingin meneliti suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata.
Maka dalam pengambilan sampelnya harus memperhatikan tingkat pendidikan
tersebut, misalnya Si = 20, S2 = 15, D3 = 45, SLTA = 140. SLTP = 100. Jumlah
sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional. Adapun
tehnik/prosedur pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut:
1)
Populasi dipecah/dibagi menjadi
populasi yang lebih kecil, disebut stratum.
2)
Pembentukan stratum harus menghasilkan stratum yang
homogin.
3)
Setiap stratum kemudian diambil sampel sacara acak dan
dibuat dapat mewakili tratum tersebut.
4)
Perkiraan secara menyeluruh (over all estimation) diperoleh secara gabungan.
Terdapat beberapa alasan penggunaan
tehning sampling SAB, yaitu: (1) setiap stratum homogin atau relative homogin,
sehingga sampel acak yang diambil dari setiap stratum akan memberikan perkiraan
yang dapat mewakili stratum yang bersangkutan. (2) biaya untuk pelaksaan
sampling acak berlapis lebih murah dari pada sampling acak sederhana, karena
alasan administrasi,(3) perkiraan bisa dibuat untuk setiap stratum yang dapat
dianggap sebagai populasi yang berdiri sendiri.
c. Disproporsionate Stratified Random
Sampling
Tehnik
ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsinal. Misal Jumlah Lulusan SD: 30orang, SLTP: 70, jumlah SLTA: 700,
S1: 4, S2: 3, maka yang S1
dan S2 diambil semua karena hanya sedikit jumlahnya.
d. Cluster Sampling (area
sampling)
Teknik
sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel abjek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misalnya penduduka dari suatu Negara, propinsi atau
kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka
pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang akan ditetapkan. Adapun
prosedurr pengambilan sampel daerah ini adalah sebagai berikut: (1) menentukan sampel daerah, misalnya memilih
secara random daerah dari sejumlah
daerah yang ada, (2) menentukan
orang-oramg yang ada pada daerah itu secara random sampling juga.
e. Sampling
Kelompok Dua Tingkat
Sampling kelompok dua tingkat (two
stage cluster sampling) ialah sampling di mana setiap kelompok yang terpilih
sebagai sampel, dipilih lagi sampel elemen dari masing-masing kelompok. Dengan
demikian memang ada dua tingkat kegiatan, yaitu : memilih kelompok sebagai
sample dan kedua adalah memilih elemen dari kelompok yang terpilih.
Jadi yang dimaksud dengan sampel kelompok
dua tingkat adalah: sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, yaitu pertama
memilih sampel kelompok secara acak dari populasi kelompok, kemudian memilih
sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel. Misal, pertama
memilih universitas sebagai sampel dari populasi yang terdiri dari beberapa
universitas negeri, kemudian memilih sampel mahasiswa dari setiap universitas
yang terpilih dan lain-lain. Jadi yang menjadi
kelompoknya adalah universitas, dan yang menjadi elemen sampelnya adalah
mahasiswa.
2. Non Probability Sampling
Teknik non probability sampling adalah tehnik penentuan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi
setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
a. Sampling sistematis
Teknik
untuk memilih anggota sampel dengan melalui peluang dan suatu “sistem” untuk menentukan keanggotaan sampel. Tehnik
untuk memilih anggota-anggota setelah memulai pemilihan acak, misalnya setiap
subjek ke -5, atau ke-10 dan seterusnya.
Adapun
prosedurnya adalah sebagai berikut: menentukan jumlah sampel yang akan
dibutuhkan. lalu membagi total populasi dengan jumlah yang diperlukan untuk
menentukan interval pengambilan sampel. Misal, akan memilih 200 sampel dari
2000, dapat dilakukan dengan cara memilih nomor secara acak antara no 1 s/d 10,
dan memulai dengan sampel pertama. Setelah itu ambil antara no 1 s/d 10 harus
dilakukan secara acak. Bila pengambilan
sampel antara no 1 s/d 10 dan kemudian
yang terambil nomor 3, maka tambahlah interval sampling (10) dengan nomor 3,
maka sampel ke dua adalah 13, selanjutnya no 23 dan seterusnya.
b. Kuota
Sampling
Teknik sampling kuota adalah teknik untuk menentukan
sampel dari populasi yang meiliki cirri-ciei tertentu samapai jumlah (kuota)
yang diinginkan.
c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah tehnik
penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang ditemui oleh
peneliti dapat digunakan sabagai sampel.
d. Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu, misalnya akan melakukan penelitian tentang
disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang
kepegawaian.
e. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah
tehnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini
disuruh memilih teman-temannya untuk dijaadikan sampel.
RANGKUMAN
Populasi adalah keseluruhan objek
penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan,
gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang
memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
Dilihat dari ragamnya, populasi dapat
dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
populasi
terbatas / terhingga, populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, populasi homogin, dan populasi heterogen
Sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang
ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, waktu, dan tanaga, maka
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang
dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi.
Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
Pada
dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti penggunaan sampel, diataratanya
adalah: efesien waktu, tenaga, dan biaya, sering tidak diketahui jumlah obyek
atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan,
dll.) penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak
bom, petasan, granat, dll. dan terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang
disebabkan oleh terlalu banyaknya objek
atau elemen yang harus dicatat.
Adapun ciri sample yang baik
adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar
mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan
ciri-ciri populasi.
Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau
seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya
yang disebut parameter
Tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability
sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random
sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling
menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling
sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling
jenuh, snowball sampling.
SOAL-SOAL
1. Jelaskan menurut pengertian anda, apa yang
dimaksud dengan populasi.
2. Jelaskan beberapa alasan peneliti melakukan
penelitian sampel.
3. Sebut dan jelaskan jenis-jenis teknik sampling dan anda sertai
prosedur pengambilan sampe sesuai dengan teknik yang ada.
DAFTAR
PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Cochran,W.G., 1191, Tehnik Penarikan Sampel, Jakarta , UI Press.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi
Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang ,
Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
BAB V
PENYUSUNAN SKALA
PSIKOLOGIS,
VALIDITAS DAN
RELIABILITAS
TUJUAN
Setelah proses
pembelajaran dalam bab in, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan
perbedaan antara skala pskologi dan angket.
2. Menjelaskan
langkah-langkah menyusun sklala psikologis
3. Menyusun
contoh skala psikologis sesuai
4. Mampu menghitung validitas dan reliabiltas skala
psikologi .
MATERI
Penggunaan pendekatan kuantitatif
menuntut kehati-hatian yang tinggi dalam proses kuantifikasi, yaitu proses
pengubahan data kualitatif menjadi data kuantitatif. Pada saat data sudah
dikuantifikasikan, maka akan sulit untuk dilacak kembali apakah data tersebut
mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau tidak. Upaya untuk menjamin adanya
kesesuaian antara data yang dikumpulkan dengan keadaan ini dapat dilakukan
dengan menggunakan instrument pengambil data yang secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan. Jika kesesuaian antara data yang diperoleh dengan
keadaan yang sebeanarnya itu diragukan, maka berarti bahwa validasi internal
penelitian yang bersangkutan diragukan. Guna menegakkan validasi internal
penelitian, yaitu menjamin bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan
keadaan yang sebenarnya, maka proses kuantifikasi itu harus dilakukan dalam
cara yang menjamin sampai batas tertentu terpenuhinya tuntutan mengenai adanya
kesesuaian tersebut. Sayang bahwa dalam khasanah ilmu-ilmu sosial instrumen-instrumen
seperti yang dimaksudkan tersebut di atas belum tersedia. Instrumen-instrumen
itu seringkali harus dikembangkan sendiri oleh si peneliti.
1. Skala
Psikologi Sebagai Alat Ukur
Pengukurasn
merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan
akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran
di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf
perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya.
Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan
pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang
tinggi. Hal ini dikarenakan oleh beberpa
alasan sebagai berikut:
a.
Atribut psikologis bersifat laten atau
tidak tampak sehingga konstruk yg dimiliki manusia tidak dapat diukur secara
langsung. Pengukuran hanya dapat dilakukan melalui indikator perilaku dan belum tentu mewakili domain (kawasan) secara
tepat, dimungkinkan terjadi tumpang tindih dengan konsep atribut lain.
b.
Aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh
indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas , mungkin terjadi tumpang
tindih antar indikator dari atribut.
c.
Respon dapat dipenagruhi oleh susasana hati subjek,
sikon, dan kesalahan administrasi
d.
Atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah
sesuai dengan sikon.
e. Interpretasi
terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga
terdapat banyak sumber eror.
2. Karakteristik
Skala Psikologi
a.
Stimulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang
hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang
akan diukur.
b.
Kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat
dicapai bila semua item telah diproses.
c.
Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara
jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan
berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).
3. Perbedaan
Skala dan angket
Dalam pemakaian sehari-hari banyak
praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan
skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok,.
|
ANGKET
|
SKALA
|
|
a.
Fakta dan kenebaran
|
a.
konstrak/konsep psikologis
|
|
b.
pertanyaan terararh pada informasi mengenai data yang
hendak diukur. (disadari /diketahui oleh responden)
|
b.
Pertanyaan tertuju pada indicator perilaku
(sering tidak disadari oleh responden)
|
|
c.
Responden tahu persis apa yang ditanyakan
|
c.
Tidak menyadari arah jawaban yang diharapkan.
|
|
d.
Jawaban berupa angka coding dan bukan skor
|
d.
Jawaban berbentuk skor yang melewati penskalaan (scalling)
Dapt 5 bukan berarti dpt nilai 5
|
|
e.
Satu angket dapat mengungkap banyak informasi
|
e.
Satu skala hanya untuk satu atribut.
|
|
f.
Tidak perlu ada uji emperis reliabiltas dan validitas
|
f.
Perlu uji emperis validitas dan reliabilitas
|
|
g.
Uji validitas ditentukan oleh kejelasaan dan lingkup
informasi yang hendak diungkap.
|
g.
Uji validitas lebih ditentukan oleh kejelasan konsep
psikologis yang hendak diukur.
|
Jelaslah bahwa beberapa perbedaan
pokok antara skala psikologis dan angket tersebut mernyebabkan pula perbedaan
dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaann, dan cara
interpretasi hasilnya.
4. Faktor-faktor
yang dapat melemahkan validitas
a. Identifikasi
kawasan ukur tidak jelas, maksudnya kawasan ukur (atribut psikologis) tidak
diidentifikasi dengan jelas sehingga dapat menimbulkan overlap derngan kawasan ukur/atribut lain.
b.
Operasinalisasi konsep yang tidak tepat, yang
disebabkan oleh kurang jelasnya batasan/definisi operasinal atribut yang akan
diukur.
c.
Penulisan item tidak mengikuti kaidah, maksudnya
item-item yang dimaksudkan sukar dimengerti dan dapat menimbulkan tafsiran
ganda untuk setiap orang.
d.
Administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang
meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.

Awal kerja perancangan suatu skala
psikologi dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi
dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak
diukur. Kemudian diadakaan pembatasan kawasan ukur berdasarkan definisi
operasional. Pembatasan ini harus diperjelas dengan menguraikan komponen atau
dimensi-dimensi yang ada dalam atribut termaksud.
Penulisan aitem dapat dilakukan apabila
komponen-komponen atribut telah jelas identifikasinya atau apabila komponen
indikator perilaku telah dirumuskan dengan benar. Agar penyusunan skala
psikologis benar-benar dapat mengukur apa yang diukur dan sesuai batasan
opeasional yang telah memuat komponen serta indikator atribtnya, maka
diperlukan blue-print atau sering
disebut dengan nama kisis-kisi. Melalui blue-print atau kisi-kisi dapat dilihat
pembobotan / prosentasi setiap komponen.
Reviu dilakukan pertama oleh penulis
aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja
ditulis, apakah telah sesuai denga
indicator perilaku yang hendak diungkap dan apakah tidak keluar dari
pedoman penulisan aitem. Apabila semua aitem sudah selesai ditulis, reviu
dilakukan oleh beberapa orang yang berkompeten.
Kumpulan aitem yang telah melewati
proses reviu dan analisis kualitatif
kemudian diujicobakan. Uji coba pertama ini bertujuan untuk mengetahui
apakah kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden sebagaimana
diinginkan oleh penulis aitem.
Analisis aitem merupakan proses
pengujian parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan
psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter aitem yang
diuji paling tidak adalah daya beda atau daya diskriminasi aitem, yaitu
kumpulan aitem dalam membedakan antar subjek yang memilki atribut yang diukur
dan yang tidak. Hasil analisis aitem menjadi dasar dalam seleksi aitem.
Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometri akan disingkirkan atau
diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagia dari skala.
Pengujian
reliabilitas skala dilakukan terhadap kumpulan aitem-aitem terpilih yang
banyaknya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh kisi-kisi
(Blue-print). Apabila koefesien
reliabiltas skala ternyata belum memuaskan, maka penyususnan skala dapat
kembali ke langkah kompilasi dan mmerakit ulang skala denga lebih mengutamakan
aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu sedikit mengubah
proporsi aitem dalam setriap komponen atau bagian skala. Untuk selanjutnya
dilakukan proses validasi yang pada hakekatnya merupakan proses berkelanjutan.
Format final skala harus dirakit
dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca
dan menjawabnya. Dalam bentuk akhir, skala dilengkapi dengan petunjuk
pengerjaan dan mungkin pula lemabar jawaban yang terpisah.
6. Blue-print
Blue-Print adalah tabel yang memuat:
uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem
dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap
komponen.
Contoh kolom Blue-Print
|
No
|
Komponen
|
Bobot (%)
|
|
|
|
|
|
No
|
Komponen
|
indikator
|
No aitem
|
|
|
|
|
|
7. Penulisan
Item
Dari berbagai bentuk dan format aitem
yang dapat ditulis dalam penyusunan skala psikologis pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu a) bentuk pernyataan dengan pilihan, dan
b) bentuk pertanyaan. Disamping itu ada bentuk-bentuk yang merupakan kombinasi
keduanya dan bahkan ada pula bentuk aitem yang sertai gambar-gambar atau
figure-figur sebagai stimulusnya.
Taerdapat beberapa kaidah penulisan aitem yang seyogyanya
diikuti dalam proses penulisan aitem, di antaranya:
a.
Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan mudah
dimengerti oleh responden dengan tulis dengan tetap mengikuti tatatulis yang baku ,
b.
Kalimat tidak menimbulkan penaf siran ganda,
c.
Selalu ingat bahwa penulisan aitem harus mengacu pada
indikator atribut atau perilaku yang hendak diungkap.
d.
Stimulus atau pilihan jawaban harus tetap relevan
dengan tujuan pengukuran.
e.
Setiap aitem selalu mempunyai daya beda dengan aitem
lain,
f.
Aitem tidak boleh mengandung social desirability, artinya isi aitem jangan disesuaikan dengan
keinginan masyarakat pada umumnya.
g. Sebagian
aitem perlu dibuat arah negatif ( arah favorable),
8. Reliabiltas
Reabilitas merupakan penerjemahan dari
kata reliability yang mempunyai asal
kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan,
keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Ide pokok yang
terkandung dalam konsep reliabiltas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran
dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan sebagai memiliki reliabilitas tingi
apabila misalnya skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor
murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan seberapa tingginya
korelasi antara skor tampak pada dua tes pararel.
Terdapat beberapa metode yang dapat
dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk
skala psikologis) di anataranta adalah :
a. Pendekatan
Tes-Ulang (test-retest)
Dalam pendekatan ini suatu instrument
ukur diberikan kepada sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan tenggang waktu
tertentu. Koefisien reliabiltas diperoleh dengan cara menghitung koefisien
korelasi linier antara distribusi skor subjek pada pemberian tes pertama dan
distribusi skor tes yang ke dua.
Syarat-syarat pendekatan tes – ulang: (a)
pergunakan jumlah subjek yang mencukupi agar normalitas distribusi skor dapat
terpenuhi. (b) kelompok subjek yang dikenai tes merupakan sampel yang
representatif dari populasi subjek yang
akan dikenai tes nanti.
Adapun kelemahan metode tes-ulang ini di
antaranya adalagh sebagai berikut:
(a)
perbedaan kondisi subjek pada saat melakukan tes pertama dan kedua. (b) terjadinya
efek bawaan, maksudnya subjek masih ingat jawaban yang pernah diberikan pada
saat mengerjakan tes pertama dan kemudioan mempengaruhi jawaban pada tes kedua.
(c) dimungkinkan terjadinya rejeksi atau penolakan terhadap tes ke dua karena
subjek menyadari bahwa pernah mengerjakan tes yang sama sebelumnya sehingga
mersa menjadi kelinci percobaan. Adapun tehnik analisis yang dapat digunakan
dalam pengujian reliabilitas ini adalah korelasi product-moment.
b Pendekatan
Bentuk Paralel
Dalam pendektan ini dilakukan dengan
memberikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain, kepada
kelompok subjek. Adapun syarat-syarat tes paralel adalah mempunyai kesamaan
spesifikasi dalam hal: tujuan ukur, batasan objek ukur dan operasionalisasinya,
indikator-indikator perilakunya, banyaknya
aitem, format aitem, dan bila perlu taraf kesukaran aitemnya. means dan varians
ke dua tes tersebut harus setara.
Dalam pelaksanaannya, kedua tes
parallel itu dapat digabungkan terlebih dahulu sehingga seakan-akan merupakan
satu bentuk tes. Adapun langkah-langkah pendekatan bentuk parallel adalah
sebagai beiut: (1) buat dua tes parallel, (2) mengujicobakan kedua alat tes
tersebut kepada sejumlah subjek yang
sama, (3) menghitung koefisien korelasi distribusi skor dari kedua tes
yang dihasilkan oleh sejumlah respon
tersebut. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah: adalah sulitnya menyusun
tes parallel. Tehnik analisis yang dipergunakan adalah korelasi product-moment.
c. Pendekatan Konsistensi
Internal
Pendekatan konsistensi internal ini
dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes dan hanya dikenakan satu kali saja
pada sekelompok subjek (single – trial
administration). Tes yang akan diestimasi reliabiltasnya dapat di belah
menjadi dua bagian, tiga bagian atau empat bagian, dan bahkan dapat dibelah
menjadi sejumlah aitem, sehingga masing-masing belahan hanya berisi satu aitem.
(dengan catatan jumlah belahannya sama). Uji reliabiltsanya dapat dilakukan
dengan tehnik-tehnik korelasi, tehnik varians antar belahan, tehnik varians
perbedaan skor, dan lain-lain.
Beberapa model belah dua dikelompokkan
menjadi dua:pertama adalah pembelahan secara Random yaitu dengan cara mengundi
nomor-nomor mana yang masuk ke belahan pertama dan mana yang masuk ke balahan
kedua. Kedaua adalah pembelahan Gasal-Genap ( odd-even splits), yaitu membelah tes menjadi dua dimana seluruh
kelompok nomor aitem genap jadi kelompok pertama dan nomor aiten ganjil
kelompok ke dua. Sedangkan tehnik analisis yang dapat digunakan adalah:
1)
Formula Spearman-Brown
untuk Belah–Dua, hanya digunakan
apabila kedua belahan tes memenuhi asumsi paralelisme, dimana kedua tes
menghasilkan means yang setara dan varians skor yang sebanding.
2)
Formula Rulon,
dapat dipergunakan untuk mengistimasi reliabilitas belah –dua tanpa perlu
berasumsi bahwa kedua belahan harus mempunyai varians yang sama.
3)
Koefisien Alpha,
dapat digunakan apabila tidak yakin bahwa asumsi kedua tes adalah parallel.
9. Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu
tes atau oinstrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang
ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Suatu tes dimaksudkan
untuk mengukur atribut A dan kemudian memang menghasilkan informasi mengenai
atribut A, dapat dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki vaaliditas tinggi.
Sisi lain pengertian validitas
adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar
mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan
gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu
memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek
yang satu dengan subjek yang lainnya.
Tipe validitas pada umumnya
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content
validity (validitas isi), construct
validity (validitas konstrak), criterion-releted
validity (validitas berdasar kriteria).
a. Validitas
Isi
Validitas isi, yaitu validitas yang diestimasi
lewat pengujian terhadap isi tes dengan
analisis rasional atau lewat professional
judgment. Validitas isi ini menjawab pertanyaan “sejauhmana aitem-aitem
dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau
“sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur”
Pengertian “mencakup keseluruhan
kawasan” isi tidak hanya menunjukkan bahwa tes tersebut harus kompreshensif isinya akan tetapi harus
pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar darai batasan tujuan ukur.
Waluapun komprehensip apabila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang
tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuannya, maka validitas
tes tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang
sesungguhnya. Kelemahannya dari validitas isi ini adalah bahwa estimasi
validitasnya tidak melibatkan perhitungan statistic apapun, melainkan hanya
analisis rasional.
Validitas
isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face
validity (validitas muka) dan logical
validity (validitas logic).
1)
Validititas muka,
adalah
tipe validitas yang paling rendah signifikansnya karena hanya didasarkan pada
penilaian terhadap format penampilan tes saja. Namun demikian, validitas muka
ini bukalah tidak penting, karena suatu
tes yang nampak meyakinkan akan memancing motivasi individu yang dites untuk
menghadapi tes tersebut dengan sungguh-sungguh.
2)
Validitas logic,
validitas logic disebut juga validitas sampling.
Validitas ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari
cirri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logic yang
tinggi, tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar beiris hanya
aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Misal pada
tes hasil belajar, kawasan perilaku yang hendak diukur dapat dikembalikan pada tujuan instruksional
umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Validitas logik memang sangat
penting peranannya dalam penyususnan tes prestasi.
b. Validitas Konstrak
Validitas
konstrak adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu
trait atau konstrak teoritik yang
hendak diukurnya. Misal akan mengukur tingkat variabel kecemasan. Hal itu dapat
dimulai dari suatu batasan mengenai variabael yang hendak diukur (kecemasan),
kemudian batasan variabel itu dinyatakan sebagai suatu bentuk konstrak logis
menurut konsep-konsep kecemasan yang didasari oleh suatu teori.
c. Validitas
Berdasar Kriteria
Pada
validitas berdasar kriteria ini menghendaki tersedianya eksternal yang dapat
dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel yang akan
dipredesikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk
melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi
antara skor tes dengan skor kriteria.
RANGKUMAN
Pengukuran merupakan suatu proses
kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data
yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik,
khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang
mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis
sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan
validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi. Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan
sebagai berikut: 1
). atribut psikologis bersifat laten
atau tidak tampak. 2) aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh
indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas, 3) respon dapat
dipengaruhi oleh suasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi, 4) atribut psikologis bersifat labil, gampang
berubah sesuai dengan sikon, 5) interpretasi terhadap hasil ukur psikologis
hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror
Skala
Psikologi mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1)timulus
berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak
langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap
indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur, 2) kesimpulan akhir
sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses, 3) Semua
jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh,
namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar
dan yang salah).
Dalam pemakaian sehari-hari banyak
praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan
skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok. Perbedaan
pokok antara skala psikologis dan angket tersebut menyebabkan pula perbedaan
dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaan, dan cara
interpretasi hasilnya.
Terdapat beberapa fatoktor yang dapat melemahkan
validitas, diantaranya adalah 1) identifikasi
kawasan ukur tidak jelas, 2) operasinalisasi konsep yang tidak tepat, 3) penulisan
item tidak mengikuti kaidah, 4) administrasi skala yang tidak berhati-hati,
yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
Sebelum menyusun sebuah instrument,
terlebih dahulu peneliti harus membuat Blue-print. Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen
atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing
komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.
Reabilitas merupakan penerjemahan dari
kata reliability yang mempunyai asal
kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan,
keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Terdapat beberapa metode
yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument
(termasuk skala psikologis) di anataranta adalah : pendekatan Tes – Ulang (test-retest) , pendekatan Bentuk Paralel,
Pendekatan Konsistensi Internal
Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu
tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang
ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Sisi lain pengertian
validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak
sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus
memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa
pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang
sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
Tipe validitas pada umumnya
digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content
validity (validitas isi), construct
validity (validitas konstrak), criterion-releted
validity (validitas berdasar kriteria). Sedangkan validitas isi ini terbagi
menjadi dua tipe, yaitu face validity
(validitas muka) dan logical validity
(validitas logic).
SOAL-SOAL
1. Jelaskan mengapa menyusun skala psikologis
adalah pekerjaan yang tidak mudah.
2. Apa perbedaan antara angket dan skala
psikologis.
3. Jelaskan langkah-langlah atau prosedur
penyususnan skala psikologis.
4. Buatlah minimal satu variabel beserta definisi oprasional variabelnya dan kemudian
susunlah skala psikologisnya, dengan jumlah aitem minimal 25 butir. (boleh
dibuat secara kelompok, jamlah anggota maksimal 4 orang.
5. Hasil penyusunana skala psikologis pada no 4 tersebut selanjutnya
diujicobakan untuk dihitung tingkat validitas dan reliablitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Syaifudin, Azwar, 1999, Penyusunan
Skala Psikologi, Yogyakarta , Pustaka
Pelajar Offset
…………………., 2000,
Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta ,
Pustaka Pelajar Offset.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.
BAB VI
PENELITIAN
EKSPERIMEN
TUJUAN
Setelah proses
belajar pembelajaran pada bab ini selesai, diharapkan mahasiswa dapat:
1.
Menjelaskan hakekat penelitian eksperimen.
2.
Menjelaskan ancaman terhadap validitas dalam rancangan
eksperimental.
3.
Menjelaskan macam-macam desain eksperimen penelitian.
4.
Membuat rancangan penelitian eksperimen sesuai desain
yang dipilihnya.
MATERI
A. Hakekat
Penelitian Eksperimen
Terdapat
beberapa pendapat tentang penelitian eksperimen, di antaranya adalah Travers
(1978) dalam Consuelo (1993:93) yang mengemukakan bahwa eksperimen ilmiah
adalah merupakan metode yang paling bergengsi di dalam perkembangan ilmu
pengetahuan. Sedangkan Gay berpendapat bahwa metode eksperimen adalah
satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis
mengenai hubungan sebab dan akibat. Senada dengan kedua pendapat tersebut Ary, dkk yang mengemukakan bahwa pada umumnya
eksperimen merupakan metode penelitian yang paling tangguh dalam pengujian
hipotesis.
Dalam penelitian eksperimen ini
paling sedikit dapat dilakukan dalam satu kondisi yang dapat dimanipulasikan, sementara kondisi lain
dianggap konstan dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi atau variabel tersebut
dapat diukur. Padahal, pemanipulasian variabel ini merupakan karakterisitik yang membedakan semua
penelitian eksperimen dengan metode-metode penelitian lain.
Sebagai peneliti harus
menghindari kesalahan yang berupa tidak
memberikan perlakuan kepada kelompok kontrol. Hal ini bias bertentangan dengan
prinsip-prinsip penelitian ilmiah, karena perlakukan yang hanya dilakukankepada
eksperimen akan menciptakan keuntungan pada kelompok yang diberi perlakuan
saja. Tentu, bagi kelompok (control) yang tidak diberi perlakuan tidak
memperoleh apa-apa.
Sangat penting bagi peneliti yang menggunakan
kelompok kontrol untuk menetapkan bahwa
variabel-variabel lainnya pada awal percobaan kedua kelompok harus sama. Peneliti harus yakin bahwa perbedaan yang
terjadi hanya disebabkan oleh perlakuan yang diberikan kepada kelompok
eksperimen saja. Sebagai contoh, peneliti ingin mencobakan dua metode
pengajaran di kelas, mungkin salah satu metode memperoleh hasil yang baik yang
tidak disebabkan olehnperlakukan eksperimen tetapi murid-murid yang ada dalam
kelompok eksperimen tersebut telah mengikuti remedial tanpa sepengetahuan
peneliti. Dalam kasus sepeerti ini, tidaklah bijaksana untuk membandingkan
kelompok-kelompok tersebut setelah diadakan eksperimen, karena adanya variabel
intervening yang menghubungkan antara variabel bebas dan terikat.
Pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti tersebut menunjukkan bahwa di dalam ekperimen peneliti gagal dalam
mengontrol kemampuan mental, oleh karena itu kemampuan mental dijadikan
variabel intervening.
Suatu penelitian eksperimen disebut
valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian
variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi
eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang
diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari
pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
Dalam penelitian eksperimental
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh
variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di
antaranya adalah:
1. Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan
sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah merencanakaan suatu system
di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat
sebelah peneliti.
2. Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti
mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam
hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
B. Ancaman Terhadap Validitas
Seperti
penelitian-penelitian lainnya, penelitian eksperimen juga tidak lepas dari
gangguan atau ancaman terhadap validitas hailnya. Campbell
dan Stanley
dalam Consuelo, dkk (1993:97) mengemukakan bahwa ancaman terhadap validitas
penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas
Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal.
1. Ancaman validitas internal. Ancaman validitas
internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, di antaranya adalah sebagai
berikut:
a.
Sejarah. Beberapa peristiwa mungkin akan terjadi selama
dilakukan eksperimen dan akan mengakibatkan perubahan serius pada variabel
terikat. Peristiwa-periswa tersebut bukan bagian dari perlakuan eksperimental,
tetapi dapat memberikan pengaruh yang serius pada variabel terikat.
b.
Kematangan. Istilah ini sebagai proses psikologis atau
biologis yang secara sistematis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu,
serta bebas dari kejadian eksternal khusus.
c.
Pengujian. Peningkatan prestasi sujek pascauji
(post-test) yang merupakan fungsi dari prauji (pre-test) dan bukan perlakuan
eksperimental. Hal ini bias terjadi apabila ujiannnya sangat mudah diingat oleh
subjek.
d.
Instrumen. Ancaman
instrument terhadap validasi internal terjadi pada situasisebagai berikut: a)
bila pra da pascauji tidak memilki tingkat kesulitan yang sama, b) bila nilai
ujian pertama dan kedua berfluktuasi, c) bila pengamatan digunakan sebagai alat
pengukuran, sedangkan pengamatnya lebih dari seorang.
e.
Seleksi.
Dalam proses seleksi anggota kelompok tidak seimbang atau homogin.
f.
Droup-out, ada anggota yang keluar sehingga
mempengaruhi jumlah anggota pada masing-masing kelompok,
2. Ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas eksternal ini
bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.
Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. Hal ini terjadi
bila tanggapan atau reaksi terhadap subjek berbeda terhadap perlakuan kerena
mereka telah mengikuti pretest, sehingga penemuan-penemuan selama eksperimen
tidak dapat digenrelasisasikan pada populasi yang tidak mengikuti pretes.
b.
Interaksi Seleksi-Perlakuan. Ini terjadi bila kelompok
yang diseleksi tidak representative mewakili populasi seperti yang diinginkan
dalam eksperimen, sehingga hasilnya kemungkinan hanya baik pada sampelnya saja
dan tidak dapat digeneralisasikan.
c.
Susuanan reaktif. Di sini diartikan sebagai kepalsuan
perangkat eksperimen dan subjek-subjek yang mengetahui bahwa dirinya dilibatkan
dalam eksperimen. Peneliti harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua
kelompok, sehingga kelompok eksperimen tidak merasa diistimewakan dan kelompok
kontrol tidak merasa dianaktirikan.
d.
Perlakuan ganda. Ini terjadi apabila subjek mendapatkan
perlakuan lebih dari satu kali, sehingga ada pengaruh pengalihan dari satu
perlakuan ke perlakuan berikutnya.
C. Berbagai Cara Mengontrol
Variabel-Variabel dari Luar
Dalam penelitian eksperimental
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh
variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di
antaranya adalah:
1. Pengacakan. Ketika
peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas
peneliti adalah menerncanakan suatu system di mana dalam penetapannya harus
bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah. Kaerlinger (1973)
mengemukakan bahwa pengacakan adalah
satu-satunya metode untuk mengontrol semua kemungkinan variabel-variabel luar.
Pengacakan berarti bahwa penetapan dilakukan melalui kesempatan murni, isalnya menggunakan tabel bilangan acak atau
prosedur sampling acak lain yang sudah disepakati.
2. Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti
mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam
hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
3. Kelompok-kelompok yang homogen. Jalan lain untuk mengontrol
variabel luar adalah dengan membandingkan kelompok yang homogen. Misalnya bila
peneliti merasa bahwa umur dapat berpengaruh terhadap variabel terikat, maka
penelitian seharusnya hanya memakai satu kelompok umur saja. Demikian juga bila
IQ dianggap mempengaruhi hasil studi, maka dalam penelitian ini hanya menarik
subjek yang mempunyai satu tinggat IQ saja. Kelemahan dari penelitian ini
adalah bahwa hasilnya hanya penemuan yang dieroleh hanya terbatas pada subjek-subjek
yang terlibat saja.
D. Macam-Macam
Desain Esperimental
1. Pre-Eksperimental Design (nondesign).
Dikatakan nondesigns, karena sumber-sumber yang mempengaruhi validitas
internal sulit dikontrol, sehingga hasil penelitian bukan semata-mata hasil pengaruh
dari variabel yang dipilih ole peneliti. Bnrtuk-bentuk pre-eksperiment ada
bebarapa, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. One-Shot Case Study (studi kasus satu sasaran)
Studi kasus satu-sasaran ini terdiri
dari satu kelompok perlakuan (X) dan kemudian diberikan tes akhir /post-test (O) tanpa control apapun.
Dengan desain sebagai berikut:
X O
X
=
treatment yang diberikan / variabel tergantung
O = variabel bebas (posttest)
Misal : X = diklat
yang diberikan kepada pegawai
O = prestasi kerja pegawai.
b. One-Group Pretest-Posttes Design
Desain
ini juga hanya terdiri dari satu kelompok eksperimen saja tanpa kelompok
kontrol. Desain ini lebih baik dari pada
rancangan no satu di atas, karena sebelum perlakuan diberikan pretest terlebih dahulu. Ancaman validitas internal pada desain ini
meliputi ancaman sejarah, kematangan, pengujian, dan instrument yang digunakan.
Dengan desain sebagai berikut:
O1 X O2 X
=
treatmet / perlakuan (variabel tergantung)
O1
= diadakan pretest sebelum diberi perlskuan
O2
= diadakan posttest sesudah perlakuan
Pengaruh perlakuan adalah: O2 - O1
c. Intact –Group Comption
X O1 O1 =
hasil pengukuran setelah diberi perlakuan pada
O2 Kelompok yang
diberi perlakuan
O2 =
hasil pengukuran pada kelompok yang tidak diberi
Perlakuan.
Dalam desain ini ada dua kelompok
yaitu kelompok yang diberi treatment dan kelompok yang tidak diberi treatment
sama sekali. Kelemahan dari desian ini adalah banyaknya variabel luar yang
berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga tingkat validitas internalnya menjadi
berkurang.
2. True Experimental Design
Dikatakan true eksperimet design
dengan desian ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang
mempengaruhi eksperimen. Dengan demikian validitas internal penelitian menjadi
tinggi. Ciri utama dari True Experimet Design
adalah bahwa subjek dipilih secara random dan ada kelompok kontrol. Adapun bentuk-bentuk true experiment design
ini meliputi sebagai berikut:
a. Posttest
– Only Desaign
R X O1
R O2
Desain menggunakan dua
kelompok yang pemilihan subjeknya dilakukan secara random, satu kelompok diberi
perlakuan yang disebut kelompok ekperimen dan kelompok lainnya tidak diberi
perelakuan yang disebut kelompok control. Pengaruh perelakuannnya diperoleh
dari O2 - O1
b. Pretest-Control group Design
R O1 X O2
R O3 O4
Dalam desain ini, dua kelompok yang
telah dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui apakah ada
perbedaan antara kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen dengan kelompok
kontrolnya. Hasil pretest yang baik apabila ada kesamaan karakteriristik antara
kelompok eksperimen dengan kelompok control. Pengaruh dari perlakuannya
adalah: (O2 – O1) – (O4 - O3)
3. Quasi Experimetal Design
Bentuk desain ini adalah sebagian
dari true-experiment desaign. Desain
ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya, untuk
mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Walaupun demikian, eksperimen ini lebih baik
daripada pre-experiment design. Adapun bentuk desain quasi experiment ini diantaranya
adalah
a. Times-Series Design (Eksperimen Seri Waktu)
O1 O2 O3 O4 X O1 O2 O3 O4
Dalam desain ini kelompok yang
digunakan dalam penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi
trieament, kelompok diberi pretest sampai 4 empat kali. Dengan empat kali test
ini maka keadaan kelompok betul-betul dapat diketahui dengan jelas. Setelah
keadaan kelompok diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Setelah
treatnmen selesai lansung diberi posttes sampai empat kali. Nilai pada
masing-masing pretes harus sama, demikian juga pada posttes.
Jadi
(O1 = O2 = O3 = O4) dan (O5
= O6 = O7 = O8).
Besarnya
pengaruh treatment adalah
(O5 + O6 + O7 +
O8) - (O1 + O2 + O3
+ O4)
b. Nonequivalent Control Group Design
(Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
Desain ini hampir sama dengan pretes-posttest control group design,
hanya saja kelompok-kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih
secara random.
U
r
O1 X O2
------------------------------------------------------------
O3 O4
X =
eksperimen
O1 =
pretest O3 =
pretest
O2 =
posttest O4 = posttest
Desain ini dipertimbangkan sebagai salah
desain yang paling umum dipilih dalam penelitian pendidikan. Kelompoknya
terdiri dari dua, dan masing-masing diberi pretest
dan posttest, tetapi hanya satu
yang diberi perlakuan atu eksperimen. Desain ini biasa digunakan pada kelompok
yang pesertanya terkumpul secara alami, misalnya murid di ruangan kelas.
RANGKUMAN
Suatu penelitian eksperimen disebut
valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian
variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi
eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang
diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari
pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
Dalam penelitian eksperimental terdapat
beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel
luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1). Pengacakan, artinya bahwa subjek yang ditetapkan sebagai kelompok
eksperimen harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti.
2). Tandingan, artinya bahwa dalam peneliti mencari pasangan-pasangan dalam
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan
mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
Beberapa ancaman terhadap validitas penelitian berasal
dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan
ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas
internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, diantaranya adalah sebagai
berikut: 1) Sejarah. 2) Kematangan. 3) Pengujian. 4) Instrumen. 5)
Seleksi. 6) Droup-out
Sedangkan yang termasuk ancaman
validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah: 1). Interaksi
Prauji (pretest)-Perlakuan. 2) Interaksi Seleksi-Perlakuan. 3) Susuanan
reaktif. 4) Perlakuan ganda.
Adapun Pre-Eksperimental
Design (nondesign) terdiri dari: a). One-Shot
Case Study (studi kasus satu
sasaran), b). One-Group Pretest-Posttes
Desig. c). Intact-roup Comption. Adapun
True Experimental Design terdiri
dari: a).Posttest- Only Desaign dan
b)
Pretest-Control group Design.
Demikian juga Quasi
Experimetal Design terdiri dari Times-Series
Design (Eksperimen Seri Waktu) dan Nonequivalent Control Group Design
(Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
LATIHAN
1. Jelaskan alasan mengapa penelitian eksperimen
merupakan penelitian paling baik dalam membuktikan hipotesis?
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis penelitian
eksperimen dan hbbhberi contoh model desainnya..
3. Sebut dan jelaskan berbagai ancaman validitas
internal dan eksternal penelitian eksperimen.
4. Jelaskan bagaimana cara yang dapat dilakukan
peneliti untuk mengurangi atau meminimalis terjadinya ancaman tersebut pada
soal nomor tiga di atas.
3. Buatlah contoh penelitian eksperimen yang
disertai desain yang anda pilih, dan beri alasan mengapa anda memilih desin
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta , Depdikbud
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Jakarta ,
Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas
Penelitian Behavioral, Yogyakarta , Gajah
Mada University Press.
Singarimbun, 1989, Metode
Penelitan Survai, Jakarta ,
LP3ES.












