musik

UNNES

Unnes adalah universitas negeri di semarang.

FIP

Fakultas Ilmu Pendidikan adalah salah satu fakultas di Universitas Negeri Semarang

Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu jurusan di Fakultas Ilmu Pendidikan

Bimbingan Konseling Belajar

Bantuan yang diberikan konselor kepada sekelompok individu untuk mengatasi masalah belajarnya

Bimbingan Konseling Karir

Bantuan yang diberikan konselor kepada sekelompok individu untuk mengatasi masalah Karirnya

Sabtu, 03 Januari 2015

untuk donwload buku ajar MPP Kuantitatif klik disini


BUKU AJAR

METODE PENELITIAN KUANTITATIF




Oleh
Dra. M.Th.Sri Hartati, M.Pd.







JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNEVERSITAS NEGERI SEMARANG




KATA PENGANTAR
       
            Di beberapa peguruan tinggi, baik pada tingkat jurusan maupun fakultas, utamanya yang mewajibkan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah atau skripsi berdasarkan penelitian, diajarkan mata kuliah Metodologi Penelitian. Kesulitan yang sering dihadapi oleh mahasiswa adalah masih langkanya bacaan yang dapat membantu mahasiswa untuk belajar secara aktif mandiri. Buku ini disusun untuk memenuhi kebutuhan buku bacaan seperti itu.
            Tujuan instruksional buku ini adalah agar mahasiswa mampu:
1.      Merumuskan masalah dan hipotesis penelitian,
2.      Menjabarkan variabel penelitian,
3.      Memilih prosedur dan tehnik pengumpulan data,
4.      Menarik sampel,
5.      Mengolah data,
6.      Menarik kesimpulan.
            Keenam kemampuan itu merupakan dasar untuk menyususn suatu usulan penelitian dan menyususn skripsi. Sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi, diharapkan, mata kuliah ini juga nemberikan landasan untuk bersikap ilmiah setelah mahasiswa lulus. Bersikap ilmiah artinya: Mengetahui ruang lingkup ilmu pengetahuan, mengetahui cara mengembangkan ilmu dan teknologi sesuai dengan profesinya, mampu mempergunakan ilmu sesuai dengan tanggung jawab seorang sarjana, yaitu selalu memakai asas kebenaran, kejujuran, tidak mengutamakan kepentingan golongan, dan mengakui kekuatan argumentasi.
Oleh karena itu, selain untuk mencapai tujuan instruksional seperti tersebut di atas, mata kuliah ini juga bertujuan agar mahasiswa memahami: fungsi ilmu pengetahuan, kriteria kebenaran ilmu pengatahuan, dan daur metode ilmiah. Untuk mewujudkan tujuan  instruksional tersebut di atas, maka diperlukan materi pembelajaran yang mencakup sejumlah pokok bahasan sebagai berikut: konsep dasar penelitian ilmiah, pemilihan topik dan perumusan masalah, kepustakaan dan perumusan hipotesis, variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, pengukuran penyusunan skala dan metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas instrument, rancangan eksperimen, dan penelitian tindakan.
         Perlu diperhatikan bahwa buku ini bukanlah satu-satunya sumber bacaan atau bahan studi, oleh karena itu sangat disarankan kepada para mahasiswa untuk lebih memperkaya dengan rujukan lainnya terutama yang ditunjuk dalam daptar pustaka di setiap akhir bab buku ini.
         Selesainya penyusunan buku ini tidak lepas dari kerja sama baik dengan  berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa kami ucapkan terimakasih. Kami sangat terbuka bagi kritik dan saran sebagai bahan penyempurnaan terbitan berikutnya.
         Harapan kami semoga buku ini bermanfaat bagi para dosen dan mahasisswa program kependidikan khususnya jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
                                                                                    

                                                                                    Semarang, September 2007

                                                                                    Penulis













BAB I
KONSEP DASAR PENELITIAN ILMIAH

TUJUAN
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      menjelaskan hakekat metodologi dan metode penelitian
2.      menjelaskan hakekat, katagori, aspek, dan fungsi ilmu pengetahuan.
3.      menjelaskan;  hakekat kebenaran; jenis dan sumber kebenaran;.
4.      menjelaskan prosedur cara memperoleh kebenaran ilmiah.

MATERI
A.  Metodologi dan Metode Penelitian
            Metode berasal dari kata latin”meta” yang berarti sesudah dan “hodos” yang berarti jalan. Jadi, makna metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi berasal dari kata “meta” dan “hodos” seperti tersebut di atas, ditambah kata “logos” yang beraarti uraian. Jadi, metodologi adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memehami sesuatu.
            Istilah “penelitian” merupakan padanan kata Inggris” research”. Kata ”research” ini beraral dari akar kata latin”re” (kembali) dan “circum” atau “circa” (sekitar) yang berkaitan dengan kata ”circare” (memeriksa).
            Dengan demikian, metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti. Menurut sejarah, dulu ada penelitian yang dilakukan secara nonilmiah. Cara nonilmiah ini kemudian tidak dipakai lagi dan digantikan dengan prosedur ilmiah. Penelitian secara ilmiah memerlukan syarat-syarat tertentu, misalnya tentang logika yang dipergunakan, syarat teori atau dalil keilmuan yang dipakai, postulat tentang objek yang diteliti, peluang kesalahan kesimpulan, dan sebagainya.
            Metode penelitian lebih sempit telaahnya daripada metodologi penelitian. Metode penelitian hanya mempelajari cara untuk meneliti, misalnya cara membuat usulan penelitian, cara merumuskan hipotesis, cara mengamati (mengumpulkan data), cara mengolah (menghitung data), cara meningkatkan validitas dan reliabilitas, cara membuat laporan, dan sebagainya. Metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial agak berbeda dengan metodologi penelitian ilmu-ilmu pasti, karena teori dan dalil (hukum) berbeda. Sehubungan itu setiap ilmu atau disiplin ilmu mempunyai metode penelitian sendiri-sendiri. Misalnya, dalam psikologi mempunyai metode penelitian yang berbeda dengan ilmu-ilmu pertanian.
1.   Pengetahuan
            Pengetahuan adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang secara intelektual diterima oleh orang yang pertama.
            Setiap jenis pengetahuan dapat dipandang dari tiga aspek, yang saling berkaitan, yaitu aspek ontologis, epistomologis, dan aspek aksiologis. Ontologi menjawab pertanyaan ” apakah yang disebut pengetahuan?”. epistomologi menjawab pertanyaan ”bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?”. sedang aksiologi mejawab pertanyaan ” untuk apa pengetuan itu?”
2.   Katagori Pengetahuan
a.       Pengetahuan diterima secara a priori, berarti pengetahuan itu langsung dipercaya  (langsung diyakini)
b.      Pengetahuan diterima secara posteriori, berarti pngetahuan itu diperoleh secara kritis (skeptis, harus ada bukti-buktinya) selanjutnya disebut  ”ilmu pengetahuan atau ilmu”
3.   Ilmu Pengetahuan
            Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan dapat  pula dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus ditempuh dengan prosedur ilmiah.                                             
4. Aspek Ilmu Pengetahuan
a.   Ontologis : Apa ?
1)   Objek penelaahan ilmu pengetahuan adalah pada wilayah yang berada didalam jangkauan pengelaman manusia.
2)   Harus dapat dideduksi secara rasional lalu dibuktikan secara empiris.
b.   Epistemologis :  Bagaimana cara ? (logico-hypotetico-verificatif  )
3)   artinya ilmu pengetahuan diperoleh dengan   cara logis (ada dasar atau alasan deduktif rasional) dalam membuat  dugaan (hipotesis) dalam menjelaskan setiap gejala.
4)   dugaan (hipotesis) harus dapat diuji (diverifikasi) secara emperis.
5)   Proses pengujian menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bersifat terbuka (selalau dilakukan koreksi dan kritik objektif)
c.   Aksiologis : Untuk apa ?
6)   Terikat pada asas moral  artinya bahwa penerapan ilmu pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan harkat (martabat) kemanuasiaan, tanpa menentang kodrat dan merusak alam.
7)   Bersifat komunal (semua orang berhak mempergunakannya)
8)   Bersifat universal ( tidak terikat ras, agama, dan suku)
5.   Fungsi Ilmu Pengetahuan
            Pada dasarnya ilmu pengetahuan mempunyai fungsi untuk memecahkan masalah yang dihadapi manusia. Jika diperinci secara lebih lanjut ilmu pengetahuan dqapat digunakan untuk
a.  Menerangkan suatu gejala (mengamati, memberi nama, memberi keterangan tentang gejala, dan akhirnya mempunyai deskripsi (pencandraan)tentang berbagai gejala tersebut),
b. Dapat memahami hakekat gejala (mengetahui alasan, sebab, dan kondisi yang menimbulkan gejala tersebut),
c. Dapat meramal gejala yang akan datang (menemukan hukum-hukum untuk menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. Ini berarti manusia dapat meramalkan munculnya gejala yang akan datang)
d.      Dapat mengendalikan gejala (melakukan manipulasi terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya suatau gejala sehingga dapat ”mengatur”  kapan suatau gejala harus terjadi.
6.   Metode ilmiah
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.

Text Box: Sumber Kebenaran

 



                                               

                                                                                                                            
Text Box: Rasio
(deduksi)
Text Box: Emperi (induksi)

Text Box: Wahyu (agama, dogmatis)Text Box: Otoritas ahli, intuisi,
pengalaman pribadi, &
akal sehat
Text Box: Ilmiah
(paduan rasio dan emperi)
                                                                                   

§  Asas korespondensi ( benar jika objek yg
dibahas adalah objek yg benar-benar ada)
§  Asas koherensi ( teori dlm ilmu itu harus
konsisten dan tdk bertentangan dengan
 teori lain sebelum dan atau  sesudahnya)
§  Asas pragmatis ( teori hrs bermanfaat praktis
dan mendukung teori tertentu.






§   
 
 


Text Box: Kriteria Kebenaran
 Ilmu Pengetahuan.
 










Text Box: Prosedur  non ilmiah  (sebelum prosedur ilmiah)
§  Trial and error (coba-coba)
§  Authority and tradition (otoritas dan tradisi)
§  Speculation and argumentation (spekulasi dan argumentasi)
§  Experimentation (percobaan)





 
                       





Text Box: Kegiatan mental yang terdiri atas 
§ membuat deskripsi (uraian dan penjelasan),
§ batasan (definisi),
§ klasifikasi (penggolongan),
§ pengukuran,
§ generalisasi,
§ penjelasan,
§ pendugaan,
§ penilaian (evaluasi)
§ kontrol

Text Box: BERPIKIR
         
 


         




Text Box: Berpikir kreatif: 
§ dilakukan tanpa aturan, cara atau prosedur tertentu, 
misal dengan akal sehat, intuisi, perasaan senang, 
Berpikir Logis (nalar)
§ berpikir dengan logika dilakukan dengan urutan tertentu.
Text Box: CARA PROSES
BERPIKIR



                  
                                                                                                                  
Text Box: adalah cara berpikir dengan aturan dan urutan tertentu (cara berpikir logis)
§ Logika deduksi (dari umum ke khusus)
§ Logika induksi (dari yang khusus ke umum)
Text Box: LOGIKA
 



.   







7.   Daur Metode Ilmiah
            Kenyataan menunjukan bahwa setelah metode ilmiah dirumuskan oleh John Dewey, pada tahun 1910, maka metode ini segera dipakai secara meluas. Hal ini terjadi karena metode ilmiah bersifat efisien, terbuka, dan teruji. Metode ilmiah efisien dalm mempergunakan sumber daya (tenaga, waktu, biaya) karena, misalnya, hasil penelitian seseorang dapat juga dijadikan dasar bagi penelitian orang lain. Hipotesis seseorang, dapat juga diuji oleh orang lain. Kerjasama atau komunikasi di antara para peneliti seperti ini dapat terjadi karena sifat keterbukaan metode ilmiah, yatu kemungkinan penggunaan metode ilmiah oleh siapapun. Tidak ada batasan, misalnya metode ilmiah hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Ini menunjukkan, bahwa metode ilmiah bersifat terbuka. Metode ilmiah teruji, karena prosedurnya logis, sehingga dianggap sahih untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, karena dalam penelitian ilmiah terdapat ururtan kegiatan, maka terjadi proses perencanaan yang matang.
            Pada prinsipnya, metode ilmiah mempergunakan logika deduksi lalu logika induksi (daur logico-hypothetico-verifikatif). Daur logico-hypothetico-verifikatif, jika dijabarkan, terdiri atas tahapan kerja seperti berikut:
1.      Ada kebutuhan objektif.
2.      Perumusan masalah.
3.      Pengumpulan teori.
4.      Perumusan hipotesis.
5.      Pengumpulan data.
6.      Analisis data (pengujian hipotesis).
7.      Penarikan kesimpulan.
            Penggunaaan istilah daur menunjukkan, bahwa tahapan kerja tersebut tidak pernah berhenti. Setelah tahap penarikan kesimpulan, akan timbul kebutuhan objektif atau timbul masalah yang baru lagi. Masalah ini merangsang munculnya teori baru. Miniatur tahapan berpikir ilmiah terdapat dalam suatu kegiatan penelitian ilmiah; jadi suatu penelitian ilmiah harus mengikuti tahap-tahap metode ilmiah.

RANGKUMAN
Makna metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memahami sesuatu. Sedangkan metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti.
Pengetahuan adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang
            Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan dapat  pula dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus ditempuh dengan prosedur ilmiah.                                 
Fungsi Ilmu Pengetahuan a). menerangkan suatu gejala, b). memahami hakekat gejala c). meramal gejala yang akan datang, d) menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. e) mengendalikan gejala
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.
            Terdapat berbagai sumber  kebenaran, yaitu: Wahyu (agama, dogmatis), Otoritas ahli, intuisi, pengalaman pribadi, & akal sehat, Rasio(deduksi), Emperi (induksi), Ilmiah
(paduan rasio dan emperi).
LATIHAN :
1.      Mengapa pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) harus mengandung kebenaran ?
2.      Sebutkan sumber atau cara memperoleh kebenaran.
3.      Jelaskan syarat benar bagi ilmu pengetahuan.
4.      Sebut dan jelaskan tahapan penemuan metode ilmiah.
5.      Sebut dan jelaskan cara berpikir.
6.      Apa yang dimaksud dengan logika yang dipakai dalam ilmu pengetahuan.
7.      Prosedur berpikir ilmiah:
a.       Apa arti “prosedur berpikir ilmiah”?
b.      Jelaskan syarat prosedur berpikir ilmiah
c.       Sebut dan jelaskan tahapan dalam prosedur berpikir ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES
           






BAB II
MASALAH PENELITIAN,
KAJIAN PUSTAKA dan PERUMUSAN HIPOTESIS
TUJUAN:
Setelah mengikuti perkuliahan pada bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      menjelaskan hakekat masalah, sumber-sumber masalah, dan katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
2.      merumuskan contoh permasalahan penelitian.
3.      menjelaskan hakekat kajian pustaka dan hipotesis penelitian.
4.      menjelakan prosedur penemuan rumusan hipotesis penelitian.

MATERI
A. Masalah Penelitian
1. Hakekat masalah
            Salah satu langkah yang paling penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Banyak mahasiswa mengatakan bahwa menemukana masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan. Dalam tahap pencarian masalah yang layak untuk diteliti sering merupakan sebuah hambatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi. Sauatu penelitian akan dilakukan selalu berangkat dari masalah. Memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1988:25)
            Masalah dapat dikatakan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Consuelo dkk mengatakan bahwa keadaan seperti di berikut ini dapat memunculkan suatu masalah, misalnya: a) bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita. b) bila ada hal-hal yang bertentangan. c) bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.
            Tidak semua masalah perlu dilakukan pemecahan melalui sebuah penelitian dengan menuntut metodologi penelitian ilmiah, karena sangat dimungkinkan cukup dipecahkan secara sederhana. Menurut Karlinger (1998: 29) Masalah yang baik harus bercirikan sebagai berikut: (a) masalah harus mengungkapakan hubungan antara dua variabel atau lebih, (b) masalah harus dinyatakan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak hambigu dan dikemukakan dengan kalimat tanya, (c) masalah harusndirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan adanya kemungkinan pengujian hipotesis.

2. Sumber Masalah
            Masalah dapat diperoleh dari berbagia sumber, baik dari pengamatan langsung  terhadap fenomena di lingkunagn sekitar, maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik, dari hasil-hasil penelitian terdahulu, membaca buku, mengikuti seminar ilmiah, pertemuan-pertemuan seprofesi, dan mungkin dari pengamatannya selama perkuliahan.
            Sedang menurut Stoner (1982:257) mengemukakan sumber-sumber masalah adalah sebagai berikut: a. adanya penyimpangan antara teori dan kenyataan. b. adanya penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan. c. adanya pengaduan. d.  adanya kompetisi.
         Terdapat beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
 a.      Membaca sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
b.      Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
 c.      Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian di sekitar.
d.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
 e.      Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
 f.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil penemuan yang diperolehnya.
g.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
h.      Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan bidangnya
3. Karakteristik masalah yang baik:
            Pada dasarnya hampir semua permasalahan memerlukan pemecahanan, baik secara sederhana maupun secara ilmiah. Pemecahan masalah dengan cara sederhana tidak perlu melalui tahapan - tahapan atau prosedur ilmiah. Permasalaha-permasalahan yang memerlukan prosedur dan tahap ilmiah adalah permasalahan-permasalahan yang bercirikan tertentu.
            Di bawah ini terdapat ciri-ciri masalah yang memerlukan pemecahan secara ilmiah:
a.             Masalah harus fisible, artinya bahwa masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
b.            Masalah harus jelas, yaitu menunjukkan semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
c.             Masalah harus signifikan, artinya bahwa jawaban atas masalah tersebut harus memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.            Masalah harus etis, artinya bahwa tidak bertentangan dengan etika dan nilai-nilai keyakinan dan agama tertentu.
e.             Masalah haruslah merupakan issu baru, artinya issu yang sedang dibicakan dan didiskusikan oleh sebagaian besar masyarakat.
f.              Masalah dapat dipecahkan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
g.            Masalah yang dipilih harus benar-benar menarik bagi calon penelitinya.

4.   Bentuk-Bentuk Masalah Penelitian
         Bila dilihat dari karakteristik variabel dan hubungan antar variabel dalam penelitian, maka bentuk- bentuk masalahan penelitian dapat dibedakan menjadi:
a.       Permasalahan deskriptif,  adalah permasalahan yang berkenaan dengan variable mandiri, yaitu tanpamembuat perbandingan atau menghubungkan.
Contoh:
1)   Seberapa tinggi produktivitas keja karyawan di PT Samudra?
2)   Seberapa baik interaksi kerja karyawan di industri A?
3)   Bagaimana sikap masyarakat terhadap pelaksanaan PIN Polio?
4)   Berapa persen motivasi pegawai negeri, bila didasarkan pada criteria ideal yang diterapkan?
b.      Permasalahan komparatif,  adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan variabel pada dua sample atau lebih.
Contoh:
1)   Adakah perbedaan produktifitas kerja antar pegawai negeri dan swasata?
2)   Adakah kesamaan interaksi kerja  antara  karyawan perusahaan A dan B?
3)   Adakah perbedaan disiplin kerja antara pegawai swata dan BUMN?
4)   Mana yang lebih tinggi prestasi kerja antar pegeawai negeri, swasta dan BUMN?
c.   Permasalahan asosiatif adalah : suatu pertanyaan penelitian yang menghubungkan dua atau lebih variabel. Terdapat dua hubungan asosiatif ini, yaitu hubungan Simetris dan hubungan Kausal.
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh:
1)   Adakah hubungan antara kecerdasan dan prestasi
2)   Adakah hubngan antara bakat, minat, dan kreativitas siswa?
3)  Adakah hubungan antara kodok ngorek dan jumlah paying yang terjual?
Hubungan kausal adalah hubngan yang bersifat sebab akibat, jadi akan ada variabel independen dan variabel depeden. Contoh:
1)   Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi kerja karyawan ?
2)   Adakah pengaruh tipe kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru?
3)   Seberapa besar pengaruh tata ruang terhadap kedisiplinsn karyawan?
4)   Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efesiensi kerja karyawan.     
   Hubungan interaktif, adalah hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga tidak diketahui mana variabel dependent dan mana variabel independent. Contoh:
1)   Hubungan antara kemiskinan dan kebodohan, Kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan, dan  kebodohan juga dapat menyebabkan kemiskinan.
2)  Hubungan antara motivasi dan prestasi. Motivasi dapat mempengaruhi prestasi, dan presatasi dapat mempangaruhi motivasi.
B. Teeori dan kajian Pustaka
         Teori adalah seperangkat konstruk (konsep, definisi, dan proposisi yang menyajikan gejala (fenomena) secara sistematis merinci hubungan antara variabel-variabel dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut. (Kerlinger, 1998). Sedangkan Singarimbun (1989) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat asumsi, konsep, konstrak, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematik dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.
            Dalam pencarian teori, kita mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Teori dapat dicari dari berbagai buku, jurnal, majalah, tesis, dan disertasi, serta sumber-sumber lain yang sesuai.
1. Fungsi Teori
  1. Sebagai identifikasi awal dari masalah penelitian dengan menampilkan kesenjangan, bagian-bagian yang lemah, dan ketidak sesuainnya dengan penelitian-penelitian terdahulu. Sehingga dapat memberikan suatu kerangka konsepsi penelitian dan memberikan alasan perlunya penyelidikan.
b.Untuk mengumpulkan semua konstruk atau konsep yang berkaitan dengan topic penelitian. Kemudian melalui teori ini dapat membuat pertanyaan-pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah.
c. Untuk menampilkan hubungan antara variable-variabel yang telah diteliti. Dengan ini kita dapat membandingkan topic penelitian dengan penemuan -penemuan sebelumnya.

2.   Kajian Pustaka

               Kajian pustaka adalah proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori terdahulu. Kajian pustaka ini meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan masalah penelitian.
3.   Fungsi kajian pustaka:
      a.   Menyediakan kerangka konsepsi atau kerangka teori utk penelitian yang direncanakan.
b.   Menyediakan informasi tetang penelitian yang lampau yang berhubungan dengan penelitian yg akan dilakukan.
      c.   Memberi informasi tentag metode penelitian, populasi & sample, intrumen
pengumpulan data, dan perhitungan statistic yang digunakan pada penelitian sebelumnya.
      d.   Mencari jawaban sementara (hipotesis) dari masalah yg dirumuskan.
      e.   Menyediakan temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan penelitian terdahulu yang dapat dihubungkan dengan kesimpulan kita.
      f.    Membantu menemukan topic yang lebih sesuai.
            Kepustakaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kepustakaan penelitian dan kepustakaan konseptual. Kepustakaan teori meliputi laporan penelitian yang sudah diterbitkan, misalnya jurnal dll. Sedangkang kepustakaan konseptual meliputi artikel - artikel atau buku-buku yang ditulis oleh para ahli. Sumber-sumber kepustakaan  dapat dicari  di dalam buku teks, jurnal, ensiklopedi, indeks, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan abstrak.
C.  HIPOTESIS
         Setelah peneliti melakukan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk  memeproleh jawaban sementara atas pertanyaan sementara yang telah dirumuskan sebelumnya. Dikatakan jawaban semenatara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan teori yang relevan, dan belum dibuktikan secara emperis yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian, oleh karena itu peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas. Borg and Gall (1976:61) mengemukakan adanya persyaratan merumuskan hipotesis sebagai berikut: (1)  Hipotesis harus dengan kalimat yang singkat dan jelas. (2) Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan dua atau lebih  variable. (3).  Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil peneliti yang relevan.
1.   Bentuk-Bentuk Rumusan Hipotesis Penelitian
            Bentuk hipotesis penelitian sangat tergantung pada bentuk permasalahan penelitian. Apabila masalah penelitiannya deskriptif maka bentuk hipotesisnya juga akan mengikutinya, yaitu berbentuk deskriptif.  Dengan demikian  terdapat tiga bentuk hipotesis, yaitu: hipotesis dIskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.
a.   Contoh rumusan hipotesis diskriptif :
     
1)   (Ho)  :  Daya Tahan Lampu Pijar mereke A = 600 jam
            (Ha)  :  Daya Tahan lampu Pijar A ≠ 600 jam  Ini dapat berarti ≤  atau  ≥  dari 600
            (Ho)  :  Âµ   =  600
            (Ha)  :  µ   ≠  600  atau > atau < 600
            µ  adalah nilai populasi yang dihipotesiskan / ditaksir.

      2).  (Ho) :   Semangat kerja karawan PT A =  75 % dari criteria yang ditetapkan.
            (Ha) :   Semangat kerja PT A ≠ 75%  atau > atau < 75%
            (Ho)  :  p  =  75 %
            (Ha)  :  p  ≠  75% atau > atau < 75%
b.   Contoh rumusan hipotesis komparatif
      Rumusan Masalah
1)   Bagaimana produktivitas kerja karyawan FIP bila dibandingkan dengan karyawan FMIPA ?
2)   Adakah perbedaan daya kepemimpinan di FIP dan FMIPA ?
      Rumusan Hipotesisnya:
1)                              (Ho) :   Tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara karywan di FIP dan FMIPA atau terdapat persamaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan FMIPA
            (Ha) :   Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan FMIPA.
            (Ho) :   µ1 = µ2
                (Ha) :   µ1 ≠ µ2
     
      2).  (Ho) :   Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil atau sama dengan (≤)  karyawan FMIPA
            (Ha) :   Produktivitas karywan FIP lebih besar dari karyawan FMIPA.
            (Ho) :   µ1 ≤ µ2                        
            (Ha) :   µ1 > µ2
      3). (Ho) :   Produktivitas karyawan FIP lebih besar atau sama dengan (≥) karyawan FMIPA.
            (Ha) :   Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil (<) dari karyawan FMIPA
            (Ho) :   µ1 ≥ µ2
                (Ha) :   µ1 < µ2
c.   Contoh rumusan hipotesis asosiatif
      Rumusan Masalahnya
1)   Adakah hubungan antara pengawasan melekat dengan efesiensi kerja pegawai di UNNES ?
2)   Adakah hubungan antara disiplin kerja gaya kepemimpinan di PTA
      Rumusan Hipotesis
      (Ho) :   Tidak ada hubungan ……..
      (Ha) :   Terdapat hubungan yang signivikan antara  …….dan ……
      (Ho) :   p  =  0  ,  0 berarti tidak ada hubungan
      (Ha) :   p  ≠  0  ,  tidak sama dengan 0 berarti lebih besar atau lebih kecil dari 0   (nol)
                  p   = adalah nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.
RANGKUMAN
            Salah satu langkah yang paling penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Menemukan masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan bagi seseorang untuk melakukan sebuah penelitian. Masalah dapat dikatakan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan.
            Terdapat beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
1.      Membaca sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
2.      Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
3.      Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian di sekitar.
4.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
5.      Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
6.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil penemuan yang diperolehnya.
7.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
8.      Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan bidangnya
            Terdapat 3 bentuk permasalahan, yaitu masalah diskriptif, komparatif, dan asosiatif, dengan demikian akan menghasilkan 3 bentuk hipotesis pula, yaitu : hipotesis diskriptif, asosiaytif , dan komparatif .






 SOAL LATIHAN
1.      Jelaskan dengan kata – kata sendiri tentang hakekat masalah.
2.      Sebut dan jelaskan sumber-sumber masalah.
3.      Jelaskan katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
4.      Jelaskan peranan kajian pustaka dalam suatu penelitian dan jelaskan berbagai sumber kajian pustaka.
5.      Tidak semua penelitian diperlukan suatu hipotesis, jelaskan alasannya.
6.      Buatlah contoh permasalahan penelitian yang sesuai dengan bidang anda dan rumuskan hipotesisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES













BAB III
VARIABEL PENELITIAN

TUJUAN
Setelah mempelajari bab III ini diharapkan mahasiswa :
1.      Mampu menjelaskan pengertian variabel penelitian
2.      Mampu menyebut dan menjelaskan macam variabel penelitian
3.      Mampu menjelaskan dan mencari contoh hubungan variabel.
4.      Mampu  menjelaskan pengertian definisi oprerasional variabel
5.      Mampu merumusakan definisi operasional variabel.

MATERI

1.   Pengertian variabel
        
            Istilah “variabel “ merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Kerlinger (1998: 49) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu sifat yang memiliki bermacam nilai atau dengan kata lain bahwa variabel adalah sesuatu yang bervariasi.  Lebih rinci lagi dikatakan bahwa yang dimaksud dengan variabel adalah symbol/lambang yang padanya kita lekatkan nilai yang berupa angka. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi (1997: 97) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang bervariasi seperti jenis kelamin (karena ada wanita dan pria), berat badan (karena ada yang mempunyai berat 40kg, 50kg, 55kg, dsb). Senada dengan pendapat tersebut, Sugiono (2005: 3) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati. Variabel itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi antar satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna kulit, dan lain sebagainya merupakan atribut dan obyek.
            Bila tinggi badan, berat badan, kemampuan, gaya kepemimpinan dari sejumlah orang (missal 30 orang) itu sama, maka semua itu bukanlah variabel. Jadi dikatan variabel karena ada variasinya.
            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel mempunyai beberapa pengertian. (a) Variabel adalah karakteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri-sendiri. (b) variabel adalah simbul atau lambang yang padanya diletakkan bilangan atau nilai, (ca) variabel adalah atribut dari seseorang atau obyek yang mempunyai variasi, (d)  variabel adalah atribut atau aspek atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.   
1.      Jenis-Jenis Variabel
Dengan latar belakang gagasan tentang definisi tersebut di atas, mari kembali
membicarakan variabel. Variabel dapat dikelompok-kelompokkan menurut berbagai cara. Kerlinger (1998: 59) mengelompokkan variabel menurut berbagai cara. Menurutnya terdapat tiga kelompok, yaitu : (1) variaabel bebas dan variabel tergantung, (2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinu dan variabel katagori. Suharsimi (1997: 97) membedakan jenis variabel menjadi: (1) variabel kuatitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuatitatif misalnya luasnya kota, umur, banyaknya jam dalam sehari. Contoh variabel kualitatif kemakmuran, kepandaian, dan lain-lain. Sedangkan variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu variabel diskrit dan variabel kontinum.
            Pada dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan atau posisi  dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum.  

a.       Variabel independent/prediktor/stimulus/bebas, adalah variabel yang dipandang sebagai sebab munculnya atau terjadinya perubahan pada variabel lain. Dalam penelitian eksperiman, variabel bebas ini adalah variabel yang dimanipulasikan oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat berbagai metode pengajaran, dia dapat memanipulasi metode (yakni variabel bebasnya) dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian yang tidak bersifat eksperimental, variabel  bebasnya adalah yang “secara logis”   menimbulkan akibat tertentu terhadap variabel terikat.  ( variabel yang keberadaaannya meningkatkan atau memperlemah variabel lainnya)  
b.   Variabel dependen/kriteria/output/konsekuensi, adalah variabel yang diramalkan, misalnya prestasi belajar sebagai variabel tergantung diramalkan oleh motivasi belajar sebagai variabel bebas.
c.   Variabel Intervening, adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperlambat/mempercepat) hbungan antara variabel independen dan variabel dependen, tetapi tidak teratur. Missal, anak yang pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak pandai tetapi nilai rendah. Ternyata ia sedang skit saat ujian.
d.   Variabel moderator, adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat /memperlemah) hubungan antara variabel independent dan variabel dependen. Variabel ini dsering disebut sebagai variabel independent ke dua. Misal, Hubungan suami dan istri akan semakin harmonis apabila sudah mempunyai anak. Jadi anak  adalah contoh variabel moderator.
e.   Variabel control, adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga tidak akan mempengaruhi variavel utama yang diteliti. Variabel control ini diciptakan oleh peneliti, bila peneliti akan melakukan penelitian. Misal, seorang peneliti ingin meneliti pengaruh pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Salah satu variabel controlnya adalah kecerdasan. Maka untuk menjadikan variabel control dengan cara semua siswa yang menjadi subjek sampel harus dicari yang mempunyai kecerdasan inteligensi yang relative sama/homogin.
e.   Variabel diskrit/variabel katagori, pembedaan yang istimewa dalam merencanakan penelitian dan mengalisis data, yakni pengelompokan variabel kontinu dan variabel diskrit/katagori. Variabel katagori/diskrit ini berkaitan dengan suatu jenis pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal. Pengukuran nominal termasuk taraf pengukuran yang paling rendah, karena angka-anagka yang diberikan pada objek-objek merupakan angka yang tidak mengandung arti kuantitatif (banyak-sedikitinya “jumlah”), agka-angka itu tidak dapat diurutkan atau ditambahkan / dijumlahkan. Angka-angka itu hanyalah label. Pengukuran nominal diangkakan / dikuantifikasikan manakala yang dilakukan hanyalah dikotomi., misalnya ia-tidak, benar-salah, waanita- pria, hadir-tidak hadir, dll.
f.    Variabel kontinu, variabel kontinu dapat memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Hal ini mengnadung arti bahwa harga-harga variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order), misalnya: sangat tinggi, samapai dengan  sangat rendah. Dalam variabel kontinu ini, sangat  dimukngkin mengandung nilai-nilai pecahan, misalnya, umur si A 47,5 tahun. IPK A: 3,6, dan lain sebagainya. Variabel kontinu ini dipisahkan  menjadi 3 variabel kecil, yaitu: viarabel ordinal, variabel interval, variabel ratio.
      (1)     Variabel ordinal, adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingakatan, misalnya panjang, kurang panjang, pendek. Perlu diketahui bahwa jarak antar jenjang yang satu dengan jejang yang berikutnya tidak selalu sama, misalnya, nilai juara I , juara II, dan juara III tidak sama.
      (2)  Variabel interval, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenjang seperti variabel ordinal, tetapi jarak nilai antar jenjang sama. Perlu diketahui bahwa data variabel interval ini tidak mengandung nilai nol mutlak atau absolute. Suhu 0 derajat Celsius bukan berarti tidak tidak bersuhu. Nilai matematika 0 bukan berarti dia tidak mempunyai kepandaian matematika sama sekali.
      (3)     variabel Ratio, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenang, jarak antar jenjang sama, dan memilki nilai 0 mutlak. Misal: ukuran panjang, berat, pendapatan. Pendapatan hari ini 0 berarti memang tidak mempunyai pendapatan sama sekali, berat 0 berarti memang tidak punyai berat, dll.


3.   Hubungan Variabel
         Pada umumnya, penelitian itu senantiasa menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Terdapat berbagai jenis hubungan variabel dalam penelitian, diantaranya adalah:

X
 
Y
 
         a.


X 1
 
X 2
 
Y
 
 


         b.


 


         c.
X 2
 
           


 




    d.
X2



 
X 3



 
Y 1
 
 






Y 2
 
         e.

RANGKUMAN
            Variabel adalah atribut atau aspek atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
            Pada dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan atau posisi  dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum.  Dengan mengetahui jenis variabel yang akan diteliti akan membawa konsekuensi terhadap jenis atau tehnik analisis data yang akan dipergunakan.                          
SOAL LATIHAN
1.            Jelaskan dengan kata-kata sendiri  pengertian variabel penelitian.
2.            Sebut dan dan jelaskan macam/jenis variabel penelitian
3.            Jelaskan berbagai jenis hubungan variabel dan perjelas jawab saudara dengan membuat contoh hubungan variabel.
4.            Apa yang dimaksud dengan definisi oprerasional variabel dalam penelitian.
5.         Buatlah contoh definisi operasional variabel (dengan vaiabel rekaan)
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.

Suharsimi ,1998, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES.

Supranto, J. 1998, Tehnik Sampling, Untuk Survey dan Eksperimen, Jakarta, Rineka Cipt





















BAB  IV
POPULASI dan SAMPEL

TUJUAN
Setelah mengikuti perkuliahanini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      Menjelaskan  dengan kata-kata sendiri pengertian populasi, sampel, dan teknik sampling.
2.      Menjelaskan prosedur pengambilan sampel sesuai dengan jenis-jenis teknik sampling.
3.       

MATERI

A.    Populasi

1.   Pengertian
     
Ada berbagai pengertian tentang populasi, namun sebenarnya antara pengertian atau batasan yang satu dengan yang lain itu mempunyai hakekat yang senada. Di bawah ini terdapat berbagai batasan tentang populasi.
a.       Populasi adalah keseluruhan anggota, kejadian, atau objek-objek yang telah ditetapkan dengan baik.
b.      Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kuantitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
c.       Populasi seluruh data yang terjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu  yang ditentukan.
d.      Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
      Atas dasar itu semua dapat dismpulkan bahwa populasi itu bukan terbatas pada orang, tetapi juga benda-benda lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajarai, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.
            Misalnya akan melakukan penelitiam di lembaga X, maka lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang(subjek) dan objek lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas. Tetapi lemabag X mempunyai orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, dan lain-lain, dan jugamempunyai karakterisitik objek lainnya, misalnya kebijakan, proseduru kerja, tata ruang, produk yang dihasilkan, dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam arti karakteristik.

2.   Ragam populasi
            Dilihat dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
a.       Populasi terbatas / terhingga, yaitu populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnya 500 orang guru BK di Semarang dengan karakteristik lulusan S1 BK , dengan masa kerja 3 tahun.
b.      Populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya petani di Indonesia.
c.       Populasi  homogin, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
d.      Populasi heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang berfariasi.

 

 

B.  Sampel

1. Pengertian sampel
            Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana , waktu, dan tanaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
            Pada dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti melakukan penelitian sampel, di ataratanya adalah:

a.       Efesien waktu, tenaga, dan biaya,

b.      Sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.)

c.       Penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak bom, petasan, granat, dll.

d.      Terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh terlalu    banyaknya obyek atau elemen yang harus dicatat.

            Adapun ciri  sample yang baik adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan ciri-ciri populasi.

            Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya yang disebut parameter. Misal: sensus penduduk, sensus industri, sensus pertanian,  sensus ekonomi,  yang bertujuan untuk memperoleh data penduduk, industri, pertanian, dan ekonomi yang sebenarnya, seperti jumlah penduduk, jumlah perusahaan, jumlah petani, dan jumlah modal yang sebenarnya.

 

2.      Tehnik Sampling

            Kalau seorang peneliti telah menetapkan ciri-ciri populasi yang akan ditelitinya, persoalan yang kemudian harus dihadapinya adalah memilih sample yang mencerminkan populasi dari mana sampel tersebut telah ditarik. Cara pengambilan data atau penelitian kalau hanya elemen sampel (sebagian dari elemen populasi) yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan (estimasi). Jadi bukan data yang sebenarnya. Oleh karena itu tidak semua elemen diteliti, maka data perkiraan berbeda dengan parameter. Perbedaan atau selisih itu disebut kesalahan sampling (sampling error). Makin kecil kesalahan sampling suatu perkiraan, makin teliti perkiranaan tersebut, sehingga nilainya semakin dekat dengan nilai sebenarnya.
            Dalam penelitian ada yang disebut dengan Elemen, adapun yang dimaksu dengan elemen adalah  sesuatu yang menjadi objek penelitian. Orang misalnya karyawan, mahasiswa, petani, buruh, emigrant, dan lain-lain. Barang misalnya berbagai jenis kendaraan, lampu, berbagai jenis tumbuhan kacang-kacangan. Unit organisasi misalnya Negara, departemen, perusahaan, rumah sakit, dan lain-lain.
Di bawah ini  akan dibahas tentang beberapa tehnik atau strategi
pengambilan sampel dan yang kemudian sering disingkat dengan istilah tehnik samp








Organization Chart
Reserved: 1. Simple random sampling
2. Proportionate stratified random sampling
3. Disproportionate stratified random sampling
4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah
Reserved: 1. Sampling sitematika
2. Sampling kuota
3. Sampling aksidental
4. Purposive Sampling
5. Sampling Jenuh
6. Snowball Sampling
 











            Dari gambar tersebut di atas terlihat bahwa tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, snowball sampling.
1.   Probability Sampling
            Probality sampling adalah tehnik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk menjadi anggota sampel.
Teknik in meliputi:
a.      Simple random sampling ( sampling acak sederhana)
            Dikatakan sederhana (simpel) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Syarat anggota populasi harus bersifat homogen.
Cara memilih elemen anggota sampel, antara lain sebagai berikut:
1)   Pengambilan  sampel dengan cara undian (fishbowl), dengan prosedur pertama adalah menetapkan nomor-nomor pada anggota populasi yang terkumpul  dalam daftar sampling. Kemudian tulis nomor anggota populasi pada potongan kertas kecil dan selanjutnya digulung. Kocok-kocok gulungan kertas yang sudah berisi nomor populasi tersebut  dan ambil secara acak sejumlah yang diinginkan.
2)   Dengan menggunakan table bilangan acak. Tehnik ini merupakan tehnik yang paling sistematis dalam perolehan unit-unit sampel melalui acak. dengan prosedur sebagai berikut: mengidentifikasi semua anggota populasi, dan kemudian memberi nomor pada setiap anggota. Daftar ini disebut kerangka pengambilan sampel (sample frame), seandainya kita memiliki 50 anggota populasi, dapat dimulai dari angka 01 s/d 50, penentuan arah bergerak, penentuan elemen pertama
b.   Proportionate Stratifified Random Sampling (Sampling Acak Berlapis)
            Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.  Misalnya, Peneliti ingin meneliti suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Maka dalam pengambilan sampelnya harus memperhatikan tingkat pendidikan tersebut, misalnya Si = 20, S2 = 15, D3 = 45, SLTA = 140. SLTP = 100. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut  yang diambil secara proporsional. Adapun tehnik/prosedur pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut:
1)    Populasi dipecah/dibagi menjadi populasi yang lebih kecil, disebut stratum.
2)   Pembentukan stratum harus menghasilkan stratum yang homogin.
3)   Setiap stratum kemudian diambil sampel sacara acak dan dibuat dapat mewakili tratum tersebut.
4)   Perkiraan secara menyeluruh (over all estimation) diperoleh secara gabungan.
            Terdapat beberapa alasan penggunaan tehning sampling SAB, yaitu: (1) setiap stratum homogin atau relative homogin, sehingga sampel acak yang diambil dari setiap stratum akan memberikan perkiraan yang dapat mewakili stratum yang bersangkutan. (2) biaya untuk pelaksaan sampling acak berlapis lebih murah dari pada sampling acak sederhana, karena alasan administrasi,(3) perkiraan bisa dibuat untuk setiap stratum yang dapat dianggap sebagai populasi yang berdiri sendiri.
c.   Disproporsionate Stratified Random Sampling
            Tehnik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsinal. Misal Jumlah Lulusan SD: 30orang, SLTP: 70, jumlah SLTA: 700, S1: 4,   S2: 3, maka yang S1 dan S2 diambil semua karena hanya sedikit jumlahnya.
d.   Cluster Sampling (area sampling)
            Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel abjek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduka dari suatu Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang akan ditetapkan. Adapun prosedurr pengambilan sampel daerah ini adalah sebagai berikut:  (1) menentukan sampel daerah, misalnya memilih secara random  daerah dari sejumlah daerah yang ada,  (2) menentukan orang-oramg yang ada pada daerah itu secara random sampling juga.
e.         Sampling Kelompok Dua Tingkat
         Sampling kelompok dua tingkat (two stage cluster sampling) ialah sampling di mana setiap kelompok yang terpilih sebagai sampel, dipilih lagi sampel elemen dari masing-masing kelompok. Dengan demikian memang ada dua tingkat kegiatan, yaitu : memilih kelompok sebagai sample dan kedua adalah memilih elemen dari kelompok yang terpilih.
         Jadi yang dimaksud dengan sampel kelompok dua tingkat adalah: sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, yaitu pertama memilih sampel kelompok secara acak dari populasi kelompok, kemudian memilih sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel. Misal, pertama memilih universitas sebagai sampel dari populasi yang terdiri dari beberapa universitas negeri, kemudian memilih sampel mahasiswa dari setiap universitas yang terpilih dan lain-lain. Jadi yang menjadi  kelompoknya adalah universitas, dan yang menjadi elemen sampelnya adalah mahasiswa.
2.      Non Probability Sampling
            Teknik non probability sampling adalah tehnik penentuan sampel yang tidak memberi  peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
a.   Sampling sistematis
         Teknik untuk memilih anggota sampel dengan melalui peluang dan suatu “sistem”  untuk menentukan keanggotaan sampel. Tehnik untuk memilih anggota-anggota setelah memulai pemilihan acak, misalnya setiap subjek ke -5, atau ke-10 dan seterusnya.
         Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut: menentukan jumlah sampel yang akan dibutuhkan. lalu membagi  total  populasi dengan jumlah yang diperlukan untuk menentukan interval pengambilan sampel. Misal, akan memilih 200 sampel dari 2000, dapat dilakukan dengan cara memilih nomor secara acak antara no 1 s/d 10, dan memulai dengan sampel pertama. Setelah itu ambil antara no 1 s/d 10 harus dilakukan secara acak.  Bila pengambilan sampel antara no 1 s/d 10  dan kemudian yang terambil nomor 3, maka tambahlah interval sampling (10) dengan nomor 3, maka sampel ke dua adalah 13, selanjutnya no 23 dan seterusnya.                           
b.   Kuota Sampling               
            Teknik sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang meiliki cirri-ciei tertentu samapai jumlah (kuota) yang diinginkan.
c.   Sampling Aksidental
            Sampling aksidental adalah tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang ditemui oleh peneliti dapat digunakan sabagai sampel.
d.   Sampling Purposive
            Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian.
e.   Snowball Sampling
      Snowball sampling adalah tehnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijaadikan sampel.
RANGKUMAN                   
            Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
            Dilihat dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
populasi terbatas / terhingga, populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, populasi  homogin, dan populasi heterogen
            Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, waktu, dan tanaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
            Pada dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti penggunaan sampel, diataratanya adalah: efesien waktu, tenaga, dan biaya, sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.) penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak bom, petasan, granat, dll. dan terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh terlalu    banyaknya objek atau elemen yang harus dicatat.

            Adapun ciri  sample yang baik adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan ciri-ciri populasi.

            Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya yang disebut parameter
            Tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, snowball sampling.
SOAL-SOAL
1.  Jelaskan menurut pengertian anda, apa yang dimaksud dengan populasi.
2.   Jelaskan beberapa alasan peneliti melakukan penelitian sampel.
3.   Sebut dan jelaskan jenis-jenis teknik sampling dan anda sertai prosedur pengambilan sampe sesuai dengan teknik yang ada.
      DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Cochran,W.G., 1191, Tehnik Penarikan Sampel, Jakarta, UI  Press.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.



BAB V
PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGIS,
VALIDITAS DAN RELIABILITAS

TUJUAN
Setelah proses pembelajaran dalam bab in, diharapkan mahasiswa mampu:
1.      Menjelaskan perbedaan antara skala pskologi dan angket.
2.      Menjelaskan langkah-langkah menyusun sklala psikologis
3.      Menyusun contoh skala psikologis sesuai
4.      Mampu  menghitung validitas dan reliabiltas skala psikologi .

MATERI

            Penggunaan pendekatan kuantitatif menuntut kehati-hatian yang tinggi dalam proses kuantifikasi, yaitu proses pengubahan data kualitatif menjadi data kuantitatif. Pada saat data sudah dikuantifikasikan, maka akan sulit untuk dilacak kembali apakah data tersebut mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau tidak. Upaya untuk menjamin adanya kesesuaian antara data yang dikumpulkan dengan keadaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument pengambil data yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Jika kesesuaian antara data yang diperoleh dengan keadaan yang sebeanarnya itu diragukan, maka berarti bahwa validasi internal penelitian yang bersangkutan diragukan. Guna menegakkan validasi internal penelitian, yaitu menjamin bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka proses kuantifikasi itu harus dilakukan dalam cara yang menjamin sampai batas tertentu terpenuhinya tuntutan mengenai adanya kesesuaian tersebut. Sayang bahwa dalam khasanah ilmu-ilmu sosial instrumen-instrumen seperti yang dimaksudkan tersebut di atas belum tersedia. Instrumen-instrumen itu seringkali harus dikembangkan sendiri oleh si peneliti.



1.   Skala Psikologi Sebagai Alat Ukur
            Pengukurasn merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi.  Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan sebagai berikut:
a.       Atribut psikologis bersifat laten atau tidak tampak sehingga konstruk yg dimiliki manusia tidak dapat diukur secara langsung. Pengukuran hanya dapat dilakukan melalui indikator perilaku dan belum tentu mewakili domain (kawasan) secara tepat, dimungkinkan terjadi tumpang tindih dengan konsep atribut lain.
b.      Aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas , mungkin terjadi tumpang tindih antar indikator dari atribut.
c.       Respon dapat dipenagruhi oleh susasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi
d.      Atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah sesuai dengan sikon.
e.       Interpretasi terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror.
2.   Karakteristik Skala Psikologi
a.       Stimulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur.
b.      Kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses.
c.       Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).

3.   Perbedaan Skala dan angket 
            Dalam pemakaian sehari-hari banyak praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok,.
ANGKET
SKALA
a.       Fakta dan kenebaran
a.    konstrak/konsep psikologis
b.      pertanyaan terararh pada informasi mengenai data yang hendak diukur. (disadari /diketahui oleh responden)
b.    Pertanyaan tertuju pada indicator   perilaku  (sering tidak disadari oleh responden)
c.       Responden tahu persis apa yang ditanyakan
c.       Tidak menyadari arah jawaban yang diharapkan.
d.      Jawaban berupa angka coding dan bukan skor
d.      Jawaban berbentuk skor yang melewati penskalaan (scalling)
Dapt 5 bukan berarti dpt nilai 5
e.       Satu angket dapat mengungkap banyak informasi
e.       Satu skala hanya untuk satu atribut.
f.       Tidak perlu ada uji emperis reliabiltas dan validitas
f.       Perlu uji emperis validitas dan reliabilitas
g.      Uji validitas ditentukan oleh kejelasaan dan lingkup informasi yang hendak diungkap.
g.      Uji validitas lebih ditentukan oleh kejelasan konsep psikologis yang hendak diukur.

            Jelaslah bahwa beberapa perbedaan pokok antara skala psikologis dan angket tersebut mernyebabkan pula perbedaan dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaann, dan cara interpretasi hasilnya.
4.   Faktor-faktor yang dapat melemahkan validitas
a.      Identifikasi kawasan ukur tidak jelas, maksudnya kawasan ukur (atribut psikologis) tidak diidentifikasi dengan jelas sehingga dapat menimbulkan overlap derngan kawasan ukur/atribut lain.
b.      Operasinalisasi konsep yang tidak tepat, yang disebabkan oleh kurang jelasnya batasan/definisi operasinal atribut yang akan diukur.
c.       Penulisan item tidak mengikuti kaidah, maksudnya item-item yang dimaksudkan sukar dimengerti dan dapat menimbulkan tafsiran ganda untuk setiap orang.
d.      Administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
         Awal kerja perancangan suatu skala psikologi dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur. Kemudian diadakaan pembatasan kawasan ukur berdasarkan definisi operasional. Pembatasan ini harus diperjelas dengan menguraikan komponen atau dimensi-dimensi yang ada dalam atribut termaksud.
         Penulisan aitem dapat dilakukan apabila komponen-komponen atribut telah jelas identifikasinya atau apabila komponen indikator perilaku telah dirumuskan dengan benar. Agar penyusunan skala psikologis benar-benar dapat mengukur apa yang diukur dan sesuai batasan opeasional yang telah memuat komponen serta indikator atribtnya, maka diperlukan blue-print atau sering disebut dengan nama kisis-kisi. Melalui blue-print atau kisi-kisi dapat dilihat pembobotan / prosentasi setiap komponen.
         Reviu dilakukan pertama oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja ditulis, apakah telah sesuai denga  indicator perilaku yang hendak diungkap dan apakah tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Apabila semua aitem sudah selesai ditulis, reviu dilakukan oleh beberapa orang yang berkompeten.
         Kumpulan aitem yang telah melewati proses reviu dan analisis kualitatif  kemudian diujicobakan. Uji coba pertama ini bertujuan untuk mengetahui apakah kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden sebagaimana diinginkan oleh penulis aitem.
         Analisis aitem merupakan proses pengujian parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter aitem yang diuji paling tidak adalah daya beda atau daya diskriminasi aitem, yaitu kumpulan aitem dalam membedakan antar subjek yang memilki atribut yang diukur dan yang tidak. Hasil analisis aitem menjadi dasar dalam seleksi aitem. Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometri akan disingkirkan atau diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagia dari skala.
            Pengujian reliabilitas skala dilakukan terhadap kumpulan aitem-aitem terpilih yang banyaknya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh kisi-kisi (Blue-print). Apabila koefesien reliabiltas skala ternyata belum memuaskan, maka penyususnan skala dapat kembali ke langkah kompilasi dan mmerakit ulang skala denga lebih mengutamakan aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu sedikit mengubah proporsi aitem dalam setriap komponen atau bagian skala. Untuk selanjutnya dilakukan proses validasi yang pada hakekatnya merupakan proses berkelanjutan.
            Format final skala harus dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk akhir, skala dilengkapi dengan petunjuk pengerjaan dan mungkin pula lemabar jawaban yang terpisah.

6.  Blue-print
            Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.                             
Contoh kolom Blue-Print
No
Komponen
Bobot (%)




No
Komponen
indikator
No aitem





7.  Penulisan Item
            Dari berbagai bentuk dan format aitem yang dapat ditulis dalam penyusunan skala psikologis pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu a) bentuk pernyataan dengan pilihan, dan b) bentuk pertanyaan. Disamping itu ada bentuk-bentuk yang merupakan kombinasi keduanya dan bahkan ada pula bentuk aitem yang sertai gambar-gambar atau figure-figur sebagai stimulusnya.
Taerdapat beberapa kaidah penulisan aitem yang seyogyanya diikuti dalam proses penulisan aitem, di antaranya:
a.       Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti oleh responden dengan tulis dengan tetap mengikuti tatatulis yang baku,
b.      Kalimat tidak menimbulkan penaf siran ganda,
c.       Selalu ingat bahwa penulisan aitem harus mengacu pada indikator atribut atau perilaku yang hendak diungkap.
d.      Stimulus atau pilihan jawaban harus tetap relevan dengan tujuan pengukuran.
e.       Setiap aitem selalu mempunyai daya beda dengan aitem lain,
f.       Aitem tidak boleh mengandung social desirability, artinya isi aitem jangan disesuaikan dengan keinginan masyarakat pada umumnya.
g.      Sebagian aitem perlu dibuat arah negatif ( arah favorable),

8.   Reliabiltas
         Reabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabiltas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan sebagai memiliki reliabilitas tingi apabila misalnya skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan seberapa tingginya korelasi antara skor tampak pada dua tes pararel.
         Terdapat beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk skala psikologis) di anataranta adalah :
a.   Pendekatan Tes-Ulang (test-retest)
         Dalam pendekatan ini suatu instrument ukur diberikan kepada sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan tenggang waktu tertentu. Koefisien reliabiltas diperoleh dengan cara menghitung koefisien korelasi linier antara distribusi skor subjek pada pemberian tes pertama dan distribusi skor tes yang ke dua.
         Syarat-syarat pendekatan tes – ulang: (a) pergunakan jumlah subjek yang mencukupi agar normalitas distribusi skor dapat terpenuhi. (b) kelompok subjek yang dikenai tes merupakan sampel yang representatif  dari populasi subjek yang akan dikenai tes nanti.
Adapun kelemahan metode tes-ulang ini di antaranya adalagh sebagai berikut:
(a) perbedaan kondisi subjek pada saat melakukan tes pertama dan kedua. (b) terjadinya efek bawaan, maksudnya subjek masih ingat jawaban yang pernah diberikan pada saat mengerjakan tes pertama dan kemudioan mempengaruhi jawaban pada tes kedua. (c) dimungkinkan terjadinya rejeksi atau penolakan terhadap tes ke dua karena subjek menyadari bahwa pernah mengerjakan tes yang sama sebelumnya sehingga mersa menjadi kelinci percobaan. Adapun tehnik analisis yang dapat digunakan dalam pengujian reliabilitas ini adalah korelasi product-moment.
b    Pendekatan Bentuk Paralel
         Dalam pendektan ini dilakukan dengan memberikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain, kepada kelompok subjek. Adapun syarat-syarat tes paralel adalah mempunyai kesamaan spesifikasi dalam hal: tujuan ukur, batasan objek ukur dan operasionalisasinya, indikator-indikator perilakunya,  banyaknya aitem, format aitem, dan bila perlu taraf kesukaran aitemnya. means dan varians ke dua tes tersebut harus setara.
         Dalam pelaksanaannya, kedua tes parallel itu dapat digabungkan terlebih dahulu sehingga seakan-akan merupakan satu bentuk tes. Adapun langkah-langkah pendekatan bentuk parallel adalah sebagai beiut: (1) buat dua tes parallel, (2) mengujicobakan kedua alat tes tersebut kepada sejumlah subjek  yang sama, (3) menghitung koefisien korelasi distribusi skor dari kedua tes yang   dihasilkan oleh sejumlah respon tersebut. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah: adalah sulitnya menyusun tes parallel. Tehnik analisis yang dipergunakan adalah  korelasi product-moment.
c.  Pendekatan Konsistensi Internal
         Pendekatan konsistensi internal ini dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes dan hanya dikenakan satu kali saja pada sekelompok subjek (single – trial administration). Tes yang akan diestimasi reliabiltasnya dapat di belah menjadi dua bagian, tiga bagian atau empat bagian, dan bahkan dapat dibelah menjadi sejumlah aitem, sehingga masing-masing belahan hanya berisi satu aitem. (dengan catatan jumlah belahannya sama). Uji reliabiltsanya dapat dilakukan dengan tehnik-tehnik korelasi, tehnik varians antar belahan, tehnik varians perbedaan skor, dan lain-lain.
         Beberapa model belah dua dikelompokkan menjadi dua:pertama adalah pembelahan secara Random yaitu dengan cara mengundi nomor-nomor mana yang masuk ke belahan pertama dan mana yang masuk ke balahan kedua. Kedaua adalah pembelahan Gasal-Genap ( odd-even splits), yaitu membelah tes menjadi dua dimana seluruh kelompok nomor aitem genap jadi kelompok pertama dan nomor aiten ganjil kelompok ke dua. Sedangkan tehnik analisis yang dapat digunakan adalah:
1)      Formula Spearman-Brown untuk Belah–Dua, hanya digunakan apabila kedua belahan tes memenuhi asumsi paralelisme, dimana kedua tes menghasilkan means yang setara dan varians skor yang sebanding.
2)      Formula Rulon, dapat dipergunakan untuk mengistimasi reliabilitas belah –dua tanpa perlu berasumsi bahwa kedua belahan harus mempunyai varians yang sama.
3)      Koefisien Alpha, dapat digunakan apabila tidak yakin bahwa asumsi kedua tes adalah parallel.

9.   Validitas
            Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau oinstrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Suatu tes dimaksudkan untuk mengukur atribut A dan kemudian memang menghasilkan informasi mengenai atribut A, dapat dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki vaaliditas tinggi.
            Sisi lain pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
            Tipe validitas pada umumnya digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstrak), criterion-releted validity (validitas berdasar kriteria).
a.   Validitas Isi
             Validitas isi, yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes   dengan analisis rasional atau lewat professional judgment. Validitas isi ini menjawab pertanyaan “sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau “sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur”
         Pengertian “mencakup keseluruhan kawasan” isi tidak hanya menunjukkan bahwa tes tersebut harus kompreshensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar darai batasan tujuan ukur. Waluapun komprehensip apabila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuannya, maka validitas tes tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya. Kelemahannya dari validitas isi ini adalah bahwa estimasi validitasnya tidak melibatkan perhitungan statistic apapun, melainkan hanya analisis rasional.
         Validitas isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logic).

1)   Validititas muka,
         adalah tipe validitas yang paling rendah signifikansnya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes saja. Namun demikian, validitas muka ini bukalah tidak penting, karena  suatu tes yang nampak meyakinkan akan memancing motivasi individu yang dites untuk menghadapi tes tersebut dengan sungguh-sungguh.
2)   Validitas logic,
         validitas  logic disebut juga validitas sampling. Validitas ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari cirri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logic yang tinggi, tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar beiris hanya aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Misal pada tes hasil belajar, kawasan perilaku yang hendak diukur  dapat dikembalikan pada tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Validitas logik memang sangat penting peranannya dalam penyususnan tes prestasi.
b.  Validitas Konstrak
         Validitas konstrak adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya. Misal akan mengukur tingkat variabel kecemasan. Hal itu dapat dimulai dari suatu batasan mengenai variabael yang hendak diukur (kecemasan), kemudian batasan variabel itu dinyatakan sebagai suatu bentuk konstrak logis menurut konsep-konsep kecemasan yang didasari oleh suatu teori.
c.   Validitas Berdasar Kriteria
            Pada validitas berdasar kriteria ini menghendaki tersedianya eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel yang akan dipredesikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria.
RANGKUMAN
         Pengukuran merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi.  Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan sebagai berikut: 1). atribut psikologis bersifat laten atau tidak tampak. 2) aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas, 3) respon dapat dipengaruhi oleh suasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi,  4) atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah sesuai dengan sikon, 5) interpretasi terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror
      Skala Psikologi mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1)timulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur, 2) kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses, 3) Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).
            Dalam pemakaian sehari-hari banyak praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok. Perbedaan pokok antara skala psikologis dan angket tersebut menyebabkan pula perbedaan dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaan, dan cara interpretasi hasilnya.
         Terdapat beberapa fatoktor yang dapat melemahkan validitas,  diantaranya adalah 1) identifikasi kawasan ukur tidak jelas, 2) operasinalisasi konsep yang tidak tepat, 3) penulisan item tidak mengikuti kaidah, 4) administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
            Sebelum menyusun sebuah instrument, terlebih dahulu peneliti harus membuat   Blue-print. Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.                            
 Reabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk skala psikologis) di anataranta adalah : pendekatan Tes – Ulang (test-retest) , pendekatan Bentuk Paralel, Pendekatan Konsistensi Internal               
            Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Sisi lain pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
            Tipe validitas pada umumnya digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstrak), criterion-releted validity (validitas berdasar kriteria). Sedangkan validitas isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logic).
SOAL-SOAL
1.   Jelaskan mengapa menyusun skala psikologis adalah pekerjaan yang tidak mudah.
2.   Apa perbedaan antara angket dan skala psikologis.
3.   Jelaskan langkah-langlah atau prosedur penyususnan skala psikologis.
4.   Buatlah minimal satu variabel beserta  definisi oprasional variabelnya dan kemudian susunlah skala psikologisnya, dengan jumlah aitem minimal 25 butir. (boleh dibuat secara kelompok, jamlah anggota maksimal 4 orang.
5.   Hasil penyusunana skala psikologis pada no 4 tersebut selanjutnya diujicobakan untuk dihitung tingkat validitas dan reliablitasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Syaifudin, Azwar, 1999, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset

…………………., 2000, Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.

BAB VI
PENELITIAN EKSPERIMEN

TUJUAN
Setelah proses belajar pembelajaran pada bab ini selesai, diharapkan mahasiswa dapat:
1.      Menjelaskan hakekat penelitian eksperimen.
2.      Menjelaskan ancaman terhadap validitas dalam rancangan eksperimental.
3.      Menjelaskan macam-macam desain eksperimen penelitian.
4.      Membuat rancangan penelitian eksperimen sesuai desain yang dipilihnya.

MATERI

A.  Hakekat Penelitian Eksperimen
            Terdapat beberapa pendapat tentang penelitian eksperimen, di antaranya adalah Travers (1978) dalam Consuelo (1993:93) yang mengemukakan bahwa eksperimen ilmiah adalah merupakan metode yang paling bergengsi di dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan Gay berpendapat bahwa metode eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis mengenai hubungan sebab dan akibat. Senada dengan kedua pendapat tersebut  Ary, dkk yang mengemukakan bahwa pada umumnya eksperimen merupakan metode penelitian yang paling tangguh dalam pengujian hipotesis.
            Dalam penelitian eksperimen ini paling sedikit dapat dilakukan dalam satu kondisi yang dapat  dimanipulasikan, sementara kondisi lain dianggap konstan dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi atau variabel tersebut dapat diukur. Padahal, pemanipulasian variabel ini  merupakan karakterisitik yang membedakan semua penelitian eksperimen dengan metode-metode penelitian lain.
            Sebagai peneliti harus menghindari  kesalahan yang berupa tidak memberikan perlakuan kepada kelompok kontrol. Hal ini bias bertentangan dengan prinsip-prinsip penelitian ilmiah, karena perlakukan yang hanya dilakukankepada eksperimen akan menciptakan keuntungan pada kelompok yang diberi perlakuan saja. Tentu, bagi kelompok (control) yang tidak diberi perlakuan tidak memperoleh apa-apa.
             Sangat penting bagi peneliti yang menggunakan kelompok  kontrol untuk menetapkan bahwa variabel-variabel lainnya pada awal percobaan kedua kelompok harus sama.  Peneliti harus yakin bahwa perbedaan yang terjadi hanya disebabkan oleh perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen saja. Sebagai contoh, peneliti ingin mencobakan dua metode pengajaran di kelas, mungkin salah satu metode memperoleh hasil yang baik yang tidak disebabkan olehnperlakukan eksperimen tetapi murid-murid yang ada dalam kelompok eksperimen tersebut telah mengikuti remedial tanpa sepengetahuan peneliti. Dalam kasus sepeerti ini, tidaklah bijaksana untuk membandingkan kelompok-kelompok tersebut setelah diadakan eksperimen, karena adanya variabel intervening yang menghubungkan antara variabel bebas dan terikat.
            Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tersebut menunjukkan bahwa di dalam ekperimen peneliti gagal dalam mengontrol kemampuan mental, oleh karena itu kemampuan mental dijadikan variabel intervening.
            Suatu penelitian eksperimen disebut valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1.   Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah merencanakaan suatu system di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti.
2.   Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.

B.  Ancaman Terhadap Validitas
            Seperti penelitian-penelitian lainnya, penelitian eksperimen juga tidak lepas dari gangguan atau ancaman terhadap validitas hailnya. Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (1993:97) mengemukakan bahwa ancaman terhadap validitas penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal.
1.   Ancaman validitas internal. Ancaman validitas internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Sejarah. Beberapa peristiwa mungkin akan terjadi selama dilakukan eksperimen dan akan mengakibatkan perubahan serius pada variabel terikat. Peristiwa-periswa tersebut bukan bagian dari perlakuan eksperimental, tetapi dapat memberikan pengaruh yang serius pada variabel terikat.
b.      Kematangan. Istilah ini sebagai proses psikologis atau biologis yang secara sistematis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu, serta bebas dari kejadian eksternal khusus.
c.       Pengujian. Peningkatan prestasi sujek pascauji (post-test) yang merupakan fungsi dari prauji (pre-test) dan bukan perlakuan eksperimental. Hal ini bias terjadi apabila ujiannnya sangat mudah diingat oleh subjek.
d.      Instrumen. Ancaman instrument terhadap validasi internal terjadi pada situasisebagai berikut: a) bila pra da pascauji tidak memilki tingkat kesulitan yang sama, b) bila nilai ujian pertama dan kedua berfluktuasi, c) bila pengamatan digunakan sebagai alat pengukuran, sedangkan pengamatnya lebih dari seorang.
e.       Seleksi. Dalam proses seleksi anggota kelompok tidak seimbang atau homogin.
f.       Droup-out, ada anggota yang keluar sehingga mempengaruhi jumlah anggota pada masing-masing kelompok,
2.   Ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. Hal ini terjadi bila tanggapan atau reaksi terhadap subjek berbeda terhadap perlakuan kerena mereka telah mengikuti pretest, sehingga penemuan-penemuan selama eksperimen tidak dapat digenrelasisasikan pada populasi yang tidak mengikuti pretes.
b.      Interaksi Seleksi-Perlakuan. Ini terjadi bila kelompok yang diseleksi tidak representative mewakili populasi seperti yang diinginkan dalam eksperimen, sehingga hasilnya kemungkinan hanya baik pada sampelnya saja dan tidak dapat digeneralisasikan.
c.       Susuanan reaktif. Di sini diartikan sebagai kepalsuan perangkat eksperimen dan subjek-subjek yang mengetahui bahwa dirinya dilibatkan dalam eksperimen. Peneliti harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua kelompok, sehingga kelompok eksperimen tidak merasa diistimewakan dan kelompok kontrol tidak merasa dianaktirikan.
d.      Perlakuan ganda. Ini terjadi apabila subjek mendapatkan perlakuan lebih dari satu kali, sehingga ada pengaruh pengalihan dari satu perlakuan ke perlakuan berikutnya.

C.  Berbagai Cara Mengontrol Variabel-Variabel dari Luar

            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1.   Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah menerncanakan suatu system di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah. Kaerlinger (1973) mengemukakan bahwa pengacakan adalah satu-satunya metode untuk mengontrol semua kemungkinan variabel-variabel luar. Pengacakan berarti bahwa penetapan dilakukan melalui kesempatan murni,  isalnya menggunakan tabel bilangan acak atau prosedur sampling acak lain yang sudah disepakati.
2.   Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
3.   Kelompok-kelompok yang homogen. Jalan lain untuk mengontrol variabel luar adalah dengan membandingkan kelompok yang homogen. Misalnya bila peneliti merasa bahwa umur dapat berpengaruh terhadap variabel terikat, maka penelitian seharusnya hanya memakai satu kelompok umur saja. Demikian juga bila IQ dianggap mempengaruhi hasil studi, maka dalam penelitian ini hanya menarik subjek yang mempunyai satu tinggat IQ saja. Kelemahan dari penelitian ini adalah bahwa hasilnya hanya penemuan yang dieroleh hanya terbatas pada subjek-subjek yang terlibat saja.

D.  Macam-Macam Desain Esperimental
            Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (193:104) mengkatagorikan desain eksperimental menjadi tiga, yaitu desain praeksperimental, desain eksperimental su ngghan (True Eksperimen Design), dan desain eksperiemntal semu (Quasi-Eksperimental Design).

1.   Pre-Eksperimental Design (nondesign).
            Dikatakan nondesigns, karena sumber-sumber yang mempengaruhi validitas internal sulit dikontrol, sehingga hasil penelitian bukan semata-mata hasil pengaruh dari variabel yang dipilih ole peneliti. Bnrtuk-bentuk pre-eksperiment ada bebarapa, di antaranya adalah sebagai berikut:

a.   One-Shot Case Study  (studi kasus satu sasaran)
            Studi kasus satu-sasaran ini terdiri dari satu kelompok perlakuan (X) dan kemudian diberikan tes akhir /post-test (O) tanpa control apapun. Dengan desain sebagai berikut:
           
X         O                     X   =   treatment yang diberikan / variabel tergantung
                                                O   =   variabel bebas (posttest)
                        Misal :             X   =  diklat yang diberikan kepada pegawai
                                                O   =  prestasi kerja pegawai.

b.   One-Group Pretest-Posttes Design
            Desain ini juga hanya terdiri dari satu kelompok eksperimen saja tanpa kelompok kontrol.  Desain ini lebih baik dari pada rancangan no satu di atas, karena sebelum perlakuan diberikan pretest terlebih dahulu.  Ancaman validitas internal pada desain ini meliputi ancaman sejarah, kematangan, pengujian, dan instrument yang digunakan. Dengan desain sebagai berikut:

      O1    X       O2                          X    =   treatmet / perlakuan (variabel tergantung)
                                                O1   =   diadakan pretest sebelum diberi perlskuan
                                                O2  =   diadakan posttest sesudah perlakuan
                                                            Pengaruh perlakuan adalah:  O2  -  O1
c.   Intact –Group Comption
     
      X               O1                    O1   =  hasil pengukuran setelah diberi perlakuan pada
                        O2                                Kelompok yang diberi perlakuan
                                          O2   =  hasil pengukuran pada kelompok yang tidak diberi
                                                      Perlakuan.
            Dalam desain ini ada dua kelompok yaitu kelompok yang diberi treatment dan kelompok yang tidak diberi treatment sama sekali. Kelemahan dari desian ini adalah banyaknya variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga tingkat validitas internalnya menjadi berkurang.

2.   True Experimental Design
            Dikatakan true eksperimet design dengan desian ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Dengan demikian validitas internal penelitian menjadi tinggi. Ciri utama dari True Experimet Design adalah bahwa subjek dipilih secara random dan ada kelompok kontrol.  Adapun bentuk-bentuk true experiment design ini meliputi sebagai berikut:
a.   Posttest – Only Desaign
            R         X            O1
            R                        O2
                Desain menggunakan dua kelompok yang pemilihan subjeknya dilakukan secara random, satu kelompok diberi perlakuan yang disebut kelompok ekperimen dan kelompok lainnya tidak diberi perelakuan yang disebut kelompok control. Pengaruh perelakuannnya diperoleh dari O2  -  O1

b.   Pretest-Control group Design
            R         O1           X      O2
            R         O3                    O4

            Dalam desain ini, dua kelompok yang telah dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen dengan kelompok kontrolnya. Hasil pretest yang baik apabila ada kesamaan karakteriristik antara kelompok eksperimen dengan kelompok control. Pengaruh dari perlakuannya adalah:  (O2 – O1) – (O4 - O3)

3.   Quasi Experimetal Design
            Bentuk desain ini adalah sebagian dari true-experiment desaign. Desain ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya, untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi eksperimen.  Walaupun demikian, eksperimen ini lebih baik daripada pre-experiment design.  Adapun bentuk desain quasi experiment ini diantaranya adalah

a.   Times-Series Design  (Eksperimen Seri Waktu)
      O1   O2   O3   O4       X          O1   O2   O3   O4
          Dalam desain ini kelompok yang digunakan dalam penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi trieament, kelompok diberi pretest sampai 4 empat kali. Dengan empat kali test ini maka keadaan kelompok betul-betul dapat diketahui dengan jelas. Setelah keadaan kelompok diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Setelah treatnmen selesai lansung diberi posttes sampai empat kali. Nilai pada masing-masing pretes harus sama, demikian juga pada posttes.
Jadi (O1 = O2 = O3 = O4) dan (O5 = O6 = O7 = O8).
Besarnya pengaruh treatment adalah
 (O5 + O6 + O7 + O8)  -  (O1 + O2 + O3 + O4)

b. Nonequivalent Control Group Design (Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)

            Desain ini hampir sama dengan pretes-posttest control group design, hanya saja kelompok-kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih secara random.
U r
O1                    X                     O2         
------------------------------------------------------------
O3                                            O4

X     =  eksperimen
O1    =  pretest                                    O3        =          pretest
O2     =  posttest                       O4          =          posttest
       
        Desain ini dipertimbangkan sebagai salah desain yang paling umum dipilih dalam penelitian pendidikan. Kelompoknya terdiri dari dua, dan masing-masing diberi pretest dan posttest, tetapi hanya satu yang diberi perlakuan atu eksperimen. Desain ini biasa digunakan pada kelompok yang pesertanya terkumpul secara alami, misalnya murid di ruangan kelas.
RANGKUMAN
            Suatu penelitian eksperimen disebut valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah: 1). Pengacakan, artinya bahwa subjek yang ditetapkan sebagai kelompok eksperimen harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti. 2). Tandingan, artinya bahwa dalam peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
            Beberapa  ancaman terhadap validitas penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Sejarah. 2) Kematangan. 3) Pengujian. 4) Instrumen.  5) Seleksi. 6) Droup-out
            Sedangkan yang termasuk ancaman validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah: 1). Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. 2) Interaksi Seleksi-Perlakuan. 3) Susuanan reaktif. 4) Perlakuan ganda.
            Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (193:104) mengkatagorikan desain eksperimental menjadi tiga, yaitu desain praeksperimental, desain eksperimental su ngghan (True Eksperimen Design), dan desain eksperiemntal semu (Quasi-Eksperimental Design). 
             Adapun Pre-Eksperimental Design (nondesign) terdiri dari: a). One-Shot Case Study  (studi kasus satu sasaran), b).     One-Group Pretest-Posttes Desig. c). Intact-roup Comption. Adapun True Experimental Design terdiri dari: a).Posttest- Only Desaign dan
b) Pretest-Control group Design.
            Demikian juga  Quasi Experimetal Design terdiri dari Times-Series Design  (Eksperimen Seri Waktu) dan Nonequivalent Control Group Design (Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
LATIHAN
1.   Jelaskan alasan mengapa penelitian eksperimen merupakan penelitian paling baik dalam membuktikan hipotesis?
2.   Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis penelitian eksperimen dan beri contoh model desainnya..     
3.   Sebut dan jelaskan berbagai ancaman validitas internal dan eksternal penelitian eksperimen.
4.   Jelaskan bagaimana cara yang dapat dilakukan peneliti untuk mengurangi atau meminimalis terjadinya ancaman tersebut pada soal nomor tiga di atas.
3.   Buatlah contoh penelitian eksperimen yang disertai desain yang anda pilih, dan beri alasan mengapa anda memilih desin tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.



 BUKU AJAR

METODE PENELITIAN KUANTITATIF




Oleh
Dra. M.Th.Sri Hartati, M.Pd.







JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNEVERSITAS NEGERI SEMARANG




KATA PENGANTAR
       
            Di beberapa peguruan tinggi, baik pada tingkat jurusan maupun fakultas, utamanya yang mewajibkan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah atau skripsi berdasarkan penelitian, diajarkan mata kuliah Metodologi Penelitian. Kesulitan yang sering dihadapi oleh mahasiswa adalah masih langkanya bacaan yang dapat membantu mahasiswa untuk belajar secara aktif mandiri. Buku ini disusun untuk memenuhi kebutuhan buku bacaan seperti itu.
            Tujuan instruksional buku ini adalah agar mahasiswa mampu:
1.      Merumuskan masalah dan hipotesis penelitian,
2.      Menjabarkan variabel penelitian,
3.      Memilih prosedur dan tehnik pengumpulan data,
4.      Menarik sampel,
5.      Mengolah data,
6.      Menarik kesimpulan.
            Keenam kemampuan itu merupakan dasar untuk menyususn suatu usulan penelitian dan menyususn skripsi. Sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi, diharapkan, mata kuliah ini juga nemberikan landasan untuk bersikap ilmiah setelah mahasiswa lulus. Bersikap ilmiah artinya: Mengetahui ruang lingkup ilmu pengetahuan, mengetahui cara mengembangkan ilmu dan teknologi sesuai dengan profesinya, mampu mempergunakan ilmu sesuai dengan tanggung jawab seorang sarjana, yaitu selalu memakai asas kebenaran, kejujuran, tidak mengutamakan kepentingan golongan, dan mengakui kekuatan argumentasi.
Oleh karena itu, selain untuk mencapai tujuan instruksional seperti tersebut di atas, mata kuliah ini juga bertujuan agar mahasiswa memahami: fungsi ilmu pengetahuan, kriteria kebenaran ilmu pengatahuan, dan daur metode ilmiah. Untuk mewujudkan tujuan  instruksional tersebut di atas, maka diperlukan materi pembelajaran yang mencakup sejumlah pokok bahasan sebagai berikut: konsep dasar penelitian ilmiah, pemilihan topik dan perumusan masalah, kepustakaan dan perumusan hipotesis, variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, pengukuran penyusunan skala dan metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas instrument, rancangan eksperimen, dan penelitian tindakan.
         Perlu diperhatikan bahwa buku ini bukanlah satu-satunya sumber bacaan atau bahan studi, oleh karena itu sangat disarankan kepada para mahasiswa untuk lebih memperkaya dengan rujukan lainnya terutama yang ditunjuk dalam daptar pustaka di setiap akhir bab buku ini.
         Selesainya penyusunan buku ini tidak lepas dari kerja sama baik dengan  berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa kami ucapkan terimakasih. Kami sangat terbuka bagi kritik dan saran sebagai bahan penyempurnaan terbitan berikutnya.
         Harapan kami semoga buku ini bermanfaat bagi para dosen dan mahasisswa program kependidikan khususnya jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
                                                                                    

                                                                                    Semarang, September 2007

                                                                                    Penulis













BAB I
KONSEP DASAR PENELITIAN ILMIAH

TUJUAN
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      menjelaskan hakekat metodologi dan metode penelitian
2.      menjelaskan hakekat, katagori, aspek, dan fungsi ilmu pengetahuan.
3.      menjelaskan;  hakekat kebenaran; jenis dan sumber kebenaran;.
4.      menjelaskan prosedur cara memperoleh kebenaran ilmiah.

MATERI
A.  Metodologi dan Metode Penelitian
            Metode berasal dari kata latin”meta” yang berarti sesudah dan “hodos” yang berarti jalan. Jadi, makna metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi berasal dari kata “meta” dan “hodos” seperti tersebut di atas, ditambah kata “logos” yang beraarti uraian. Jadi, metodologi adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memehami sesuatu.
            Istilah “penelitian” merupakan padanan kata Inggris” research”. Kata ”research” ini beraral dari akar kata latin”re” (kembali) dan “circum” atau “circa” (sekitar) yang berkaitan dengan kata ”circare” (memeriksa).
            Dengan demikian, metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti. Menurut sejarah, dulu ada penelitian yang dilakukan secara nonilmiah. Cara nonilmiah ini kemudian tidak dipakai lagi dan digantikan dengan prosedur ilmiah. Penelitian secara ilmiah memerlukan syarat-syarat tertentu, misalnya tentang logika yang dipergunakan, syarat teori atau dalil keilmuan yang dipakai, postulat tentang objek yang diteliti, peluang kesalahan kesimpulan, dan sebagainya.
            Metode penelitian lebih sempit telaahnya daripada metodologi penelitian. Metode penelitian hanya mempelajari cara untuk meneliti, misalnya cara membuat usulan penelitian, cara merumuskan hipotesis, cara mengamati (mengumpulkan data), cara mengolah (menghitung data), cara meningkatkan validitas dan reliabilitas, cara membuat laporan, dan sebagainya. Metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial agak berbeda dengan metodologi penelitian ilmu-ilmu pasti, karena teori dan dalil (hukum) berbeda. Sehubungan itu setiap ilmu atau disiplin ilmu mempunyai metode penelitian sendiri-sendiri. Misalnya, dalam psikologi mempunyai metode penelitian yang berbeda dengan ilmu-ilmu pertanian.
1.   Pengetahuan
            Pengetahuan adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang secara intelektual diterima oleh orang yang pertama.
            Setiap jenis pengetahuan dapat dipandang dari tiga aspek, yang saling berkaitan, yaitu aspek ontologis, epistomologis, dan aspek aksiologis. Ontologi menjawab pertanyaan ” apakah yang disebut pengetahuan?”. epistomologi menjawab pertanyaan ”bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?”. sedang aksiologi mejawab pertanyaan ” untuk apa pengetuan itu?”
2.   Katagori Pengetahuan
a.       Pengetahuan diterima secara a priori, berarti pengetahuan itu langsung dipercaya  (langsung diyakini)
b.      Pengetahuan diterima secara posteriori, berarti pngetahuan itu diperoleh secara kritis (skeptis, harus ada bukti-buktinya) selanjutnya disebut  ”ilmu pengetahuan atau ilmu”
3.   Ilmu Pengetahuan
            Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan dapat  pula dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus ditempuh dengan prosedur ilmiah.                                             
4. Aspek Ilmu Pengetahuan
a.   Ontologis : Apa ?
1)   Objek penelaahan ilmu pengetahuan adalah pada wilayah yang berada didalam jangkauan pengelaman manusia.
2)   Harus dapat dideduksi secara rasional lalu dibuktikan secara empiris.
b.   Epistemologis :  Bagaimana cara ? (logico-hypotetico-verificatif  )
3)   artinya ilmu pengetahuan diperoleh dengan   cara logis (ada dasar atau alasan deduktif rasional) dalam membuat  dugaan (hipotesis) dalam menjelaskan setiap gejala.
4)   dugaan (hipotesis) harus dapat diuji (diverifikasi) secara emperis.
5)   Proses pengujian menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bersifat terbuka (selalau dilakukan koreksi dan kritik objektif)
c.   Aksiologis : Untuk apa ?
6)   Terikat pada asas moral  artinya bahwa penerapan ilmu pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan harkat (martabat) kemanuasiaan, tanpa menentang kodrat dan merusak alam.
7)   Bersifat komunal (semua orang berhak mempergunakannya)
8)   Bersifat universal ( tidak terikat ras, agama, dan suku)
5.   Fungsi Ilmu Pengetahuan
            Pada dasarnya ilmu pengetahuan mempunyai fungsi untuk memecahkan masalah yang dihadapi manusia. Jika diperinci secara lebih lanjut ilmu pengetahuan dqapat digunakan untuk
a.  Menerangkan suatu gejala (mengamati, memberi nama, memberi keterangan tentang gejala, dan akhirnya mempunyai deskripsi (pencandraan)tentang berbagai gejala tersebut),
b. Dapat memahami hakekat gejala (mengetahui alasan, sebab, dan kondisi yang menimbulkan gejala tersebut),
c. Dapat meramal gejala yang akan datang (menemukan hukum-hukum untuk menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. Ini berarti manusia dapat meramalkan munculnya gejala yang akan datang)
d.      Dapat mengendalikan gejala (melakukan manipulasi terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya suatau gejala sehingga dapat ”mengatur”  kapan suatau gejala harus terjadi.
6.   Metode ilmiah
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.

Text Box: Sumber Kebenaran

 


                                               

                                                                                                                            
Text Box: Rasio
(deduksi)
Text Box: Emperi (induksi)

Text Box: Wahyu (agama, dogmatis)Text Box: Otoritas ahli, intuisi,
pengalaman pribadi, &
akal sehat
Text Box: Ilmiah
(paduan rasio dan emperi)
                                                                                   

§  Asas korespondensi ( benar jika objek yg
dibahas adalah objek yg benar-benar ada)
§  Asas koherensi ( teori dlm ilmu itu harus
konsisten dan tdk bertentangan dengan
 teori lain sebelum dan atau  sesudahnya)
§  Asas pragmatis ( teori hrs bermanfaat praktis
dan mendukung teori tertentu.






§   
 
 

Text Box: Kriteria Kebenaran
 Ilmu Pengetahuan.
 









Text Box: Prosedur  non ilmiah  (sebelum prosedur ilmiah)
§  Trial and error (coba-coba)
§  Authority and tradition (otoritas dan tradisi)
§  Speculation and argumentation (spekulasi dan argumentasi)
§  Experimentation (percobaan)





 
                       




Text Box: Kegiatan mental yang terdiri atas 
§ membuat deskripsi (uraian dan penjelasan),
§ batasan (definisi),
§ klasifikasi (penggolongan),
§ pengukuran,
§ generalisasi,
§ penjelasan,
§ pendugaan,
§ penilaian (evaluasi)
§ kontrol

Text Box: BERPIKIR
         
 

         




Text Box: Berpikir kreatif: 
§ dilakukan tanpa aturan, cara atau prosedur tertentu, 
misal dengan akal sehat, intuisi, perasaan senang, 
Berpikir Logis (nalar)
§ berpikir dengan logika dilakukan dengan urutan tertentu.
Text Box: CARA PROSES
BERPIKIR


                  
                                                                                                                  
Text Box: adalah cara berpikir dengan aturan dan urutan tertentu (cara berpikir logis)
§ Logika deduksi (dari umum ke khusus)
§ Logika induksi (dari yang khusus ke umum)
Text Box: LOGIKA
 


.   







7.   Daur Metode Ilmiah
            Kenyataan menunjukan bahwa setelah metode ilmiah dirumuskan oleh John Dewey, pada tahun 1910, maka metode ini segera dipakai secara meluas. Hal ini terjadi karena metode ilmiah bersifat efisien, terbuka, dan teruji. Metode ilmiah efisien dalm mempergunakan sumber daya (tenaga, waktu, biaya) karena, misalnya, hasil penelitian seseorang dapat juga dijadikan dasar bagi penelitian orang lain. Hipotesis seseorang, dapat juga diuji oleh orang lain. Kerjasama atau komunikasi di antara para peneliti seperti ini dapat terjadi karena sifat keterbukaan metode ilmiah, yatu kemungkinan penggunaan metode ilmiah oleh siapapun. Tidak ada batasan, misalnya metode ilmiah hanya boleh dilakukan oleh para ahli. Ini menunjukkan, bahwa metode ilmiah bersifat terbuka. Metode ilmiah teruji, karena prosedurnya logis, sehingga dianggap sahih untuk memperoleh kebenaran. Selain itu, karena dalam penelitian ilmiah terdapat ururtan kegiatan, maka terjadi proses perencanaan yang matang.
            Pada prinsipnya, metode ilmiah mempergunakan logika deduksi lalu logika induksi (daur logico-hypothetico-verifikatif). Daur logico-hypothetico-verifikatif, jika dijabarkan, terdiri atas tahapan kerja seperti berikut:
1.      Ada kebutuhan objektif.
2.      Perumusan masalah.
3.      Pengumpulan teori.
4.      Perumusan hipotesis.
5.      Pengumpulan data.
6.      Analisis data (pengujian hipotesis).
7.      Penarikan kesimpulan.
            Penggunaaan istilah daur menunjukkan, bahwa tahapan kerja tersebut tidak pernah berhenti. Setelah tahap penarikan kesimpulan, akan timbul kebutuhan objektif atau timbul masalah yang baru lagi. Masalah ini merangsang munculnya teori baru. Miniatur tahapan berpikir ilmiah terdapat dalam suatu kegiatan penelitian ilmiah; jadi suatu penelitian ilmiah harus mengikuti tahap-tahap metode ilmiah.

RANGKUMAN
Makna metode kurang lebih adalah “jalan sesudah” atau cara untuk mencapai atau memahami sesuatu yang belum diketahui. Metodologi adalah pengetahuan (penjelasan) tentang metode atau pengetahuan tentang berbagai cara untuk memahami sesuatu. Sedangkan metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang berbagai cara untuk meneliti.
Pengetahuan adalah semua pengalaman manusia, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak. Pengalaman langsung diperoleh seseorang melalui alat indra (sistem syaraf) yang dimilikinya, atau bersifat intelektual (misalnya sikap atau pendapat). Sedangkan pengalaman tidak langsung diperoleh lewat pengalaman orang lain, yang
            Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai suatu proses atau prosedur dan dapat  pula dianggap sebagai produk atau hasil. Sebagai proses, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui suatu ilmu pengetahuan formal, yaitu prosedur ilmiah yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan secara sahih, harus ditempuh dengan prosedur ilmiah.                                 
Fungsi Ilmu Pengetahuan a). menerangkan suatu gejala, b). memahami hakekat gejala c). meramal gejala yang akan datang, d) menemukan kepastian kejadian yang ditimbulkan oleh gejala atau yang menimbulkan suatau gejala. e) mengendalikan gejala
Agar pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) dapat dipakai (berfungasi) bagi manusia, misalnya untuk memecahkan masalah (bersifat praktis), maka penegetahuan itu harus mengandung ” kebenaran” Pengetahuan yang tidak mengandung kebenaran, tidak dapat dimanfaatkan. Pembahasan tentang kebenaran suatu pengetahuan merupakan aspek ontologi.
            Terdapat berbagai sumber  kebenaran, yaitu: Wahyu (agama, dogmatis), Otoritas ahli, intuisi, pengalaman pribadi, & akal sehat, Rasio(deduksi), Emperi (induksi), Ilmiah
(paduan rasio dan emperi).
LATIHAN :
1.      Mengapa pengetahuan (termasuk ilmu pengetahuan atau ilmu) harus mengandung kebenaran ?
2.      Sebutkan sumber atau cara memperoleh kebenaran.
3.      Jelaskan syarat benar bagi ilmu pengetahuan.
4.      Sebut dan jelaskan tahapan penemuan metode ilmiah.
5.      Sebut dan jelaskan cara berpikir.
6.      Apa yang dimaksud dengan logika yang dipakai dalam ilmu pengetahuan.
7.      Prosedur berpikir ilmiah:
a.       Apa arti “prosedur berpikir ilmiah”?
b.      Jelaskan syarat prosedur berpikir ilmiah
c.       Sebut dan jelaskan tahapan dalam prosedur berpikir ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES
           






BAB II
MASALAH PENELITIAN,
KAJIAN PUSTAKA dan PERUMUSAN HIPOTESIS
TUJUAN:
Setelah mengikuti perkuliahan pada bab ini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      menjelaskan hakekat masalah, sumber-sumber masalah, dan katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
2.      merumuskan contoh permasalahan penelitian.
3.      menjelaskan hakekat kajian pustaka dan hipotesis penelitian.
4.      menjelakan prosedur penemuan rumusan hipotesis penelitian.

MATERI
A. Masalah Penelitian
1. Hakekat masalah
            Salah satu langkah yang paling penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Banyak mahasiswa mengatakan bahwa menemukana masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan. Dalam tahap pencarian masalah yang layak untuk diteliti sering merupakan sebuah hambatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi. Sauatu penelitian akan dilakukan selalu berangkat dari masalah. Memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1988:25)
            Masalah dapat dikatakan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Consuelo dkk mengatakan bahwa keadaan seperti di berikut ini dapat memunculkan suatu masalah, misalnya: a) bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita. b) bila ada hal-hal yang bertentangan. c) bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.
            Tidak semua masalah perlu dilakukan pemecahan melalui sebuah penelitian dengan menuntut metodologi penelitian ilmiah, karena sangat dimungkinkan cukup dipecahkan secara sederhana. Menurut Karlinger (1998: 29) Masalah yang baik harus bercirikan sebagai berikut: (a) masalah harus mengungkapakan hubungan antara dua variabel atau lebih, (b) masalah harus dinyatakan dalam bentuk kalimat yang jelas dan tidak hambigu dan dikemukakan dengan kalimat tanya, (c) masalah harusndirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan adanya kemungkinan pengujian hipotesis.

2. Sumber Masalah
            Masalah dapat diperoleh dari berbagia sumber, baik dari pengamatan langsung  terhadap fenomena di lingkunagn sekitar, maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik, dari hasil-hasil penelitian terdahulu, membaca buku, mengikuti seminar ilmiah, pertemuan-pertemuan seprofesi, dan mungkin dari pengamatannya selama perkuliahan.
            Sedang menurut Stoner (1982:257) mengemukakan sumber-sumber masalah adalah sebagai berikut: a. adanya penyimpangan antara teori dan kenyataan. b. adanya penyimpangan antara apa yang direncanakan dengan kenyataan. c. adanya pengaduan. d.  adanya kompetisi.
         Terdapat beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
 a.      Membaca sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
b.      Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
 c.      Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian di sekitar.
d.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
 e.      Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
 f.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil penemuan yang diperolehnya.
g.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
h.      Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan bidangnya
3. Karakteristik masalah yang baik:
            Pada dasarnya hampir semua permasalahan memerlukan pemecahanan, baik secara sederhana maupun secara ilmiah. Pemecahan masalah dengan cara sederhana tidak perlu melalui tahapan - tahapan atau prosedur ilmiah. Permasalaha-permasalahan yang memerlukan prosedur dan tahap ilmiah adalah permasalahan-permasalahan yang bercirikan tertentu.
            Di bawah ini terdapat ciri-ciri masalah yang memerlukan pemecahan secara ilmiah:
a.             Masalah harus fisible, artinya bahwa masalah tersebut harus dapat dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
b.            Masalah harus jelas, yaitu menunjukkan semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah tersebut.
c.             Masalah harus signifikan, artinya bahwa jawaban atas masalah tersebut harus memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan manusia.
d.            Masalah harus etis, artinya bahwa tidak bertentangan dengan etika dan nilai-nilai keyakinan dan agama tertentu.
e.             Masalah haruslah merupakan issu baru, artinya issu yang sedang dibicakan dan didiskusikan oleh sebagaian besar masyarakat.
f.              Masalah dapat dipecahkan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
g.            Masalah yang dipilih harus benar-benar menarik bagi calon penelitinya.

4.   Bentuk-Bentuk Masalah Penelitian
         Bila dilihat dari karakteristik variabel dan hubungan antar variabel dalam penelitian, maka bentuk- bentuk masalahan penelitian dapat dibedakan menjadi:
a.       Permasalahan deskriptif,  adalah permasalahan yang berkenaan dengan variable mandiri, yaitu tanpamembuat perbandingan atau menghubungkan.
Contoh:
1)   Seberapa tinggi produktivitas keja karyawan di PT Samudra?
2)   Seberapa baik interaksi kerja karyawan di industri A?
3)   Bagaimana sikap masyarakat terhadap pelaksanaan PIN Polio?
4)   Berapa persen motivasi pegawai negeri, bila didasarkan pada criteria ideal yang diterapkan?
b.      Permasalahan komparatif,  adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan variabel pada dua sample atau lebih.
Contoh:
1)   Adakah perbedaan produktifitas kerja antar pegawai negeri dan swasata?
2)   Adakah kesamaan interaksi kerja  antara  karyawan perusahaan A dan B?
3)   Adakah perbedaan disiplin kerja antara pegawai swata dan BUMN?
4)   Mana yang lebih tinggi prestasi kerja antar pegeawai negeri, swasta dan BUMN?
c.   Permasalahan asosiatif adalah : suatu pertanyaan penelitian yang menghubungkan dua atau lebih variabel. Terdapat dua hubungan asosiatif ini, yaitu hubungan Simetris dan hubungan Kausal.
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh:
1)   Adakah hubungan antara kecerdasan dan prestasi
2)   Adakah hubngan antara bakat, minat, dan kreativitas siswa?
3)  Adakah hubungan antara kodok ngorek dan jumlah paying yang terjual?
Hubungan kausal adalah hubngan yang bersifat sebab akibat, jadi akan ada variabel independen dan variabel depeden. Contoh:
1)   Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi kerja karyawan ?
2)   Adakah pengaruh tipe kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru?
3)   Seberapa besar pengaruh tata ruang terhadap kedisiplinsn karyawan?
4)   Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efesiensi kerja karyawan.     
   Hubungan interaktif, adalah hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga tidak diketahui mana variabel dependent dan mana variabel independent. Contoh:
1)   Hubungan antara kemiskinan dan kebodohan, Kemiskinan dapat menyebabkan kebodohan, dan  kebodohan juga dapat menyebabkan kemiskinan.
2)  Hubungan antara motivasi dan prestasi. Motivasi dapat mempengaruhi prestasi, dan presatasi dapat mempangaruhi motivasi.
B. Teeori dan kajian Pustaka
         Teori adalah seperangkat konstruk (konsep, definisi, dan proposisi yang menyajikan gejala (fenomena) secara sistematis merinci hubungan antara variabel-variabel dengan tujuan meramalkan dan menerangkan gejala tersebut. (Kerlinger, 1998). Sedangkan Singarimbun (1989) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat asumsi, konsep, konstrak, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematik dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.
            Dalam pencarian teori, kita mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Teori dapat dicari dari berbagai buku, jurnal, majalah, tesis, dan disertasi, serta sumber-sumber lain yang sesuai.
1. Fungsi Teori
  1. Sebagai identifikasi awal dari masalah penelitian dengan menampilkan kesenjangan, bagian-bagian yang lemah, dan ketidak sesuainnya dengan penelitian-penelitian terdahulu. Sehingga dapat memberikan suatu kerangka konsepsi penelitian dan memberikan alasan perlunya penyelidikan.
b.Untuk mengumpulkan semua konstruk atau konsep yang berkaitan dengan topic penelitian. Kemudian melalui teori ini dapat membuat pertanyaan-pertanyaan yang terinci sebagai pokok masalah.
c. Untuk menampilkan hubungan antara variable-variabel yang telah diteliti. Dengan ini kita dapat membandingkan topic penelitian dengan penemuan -penemuan sebelumnya.

2.   Kajian Pustaka

               Kajian pustaka adalah proses umum yang dilalui untuk mendapatkan teori terdahulu. Kajian pustaka ini meliputi pengidentifikasian secara sistematis, penemuan, dan analisis dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan masalah penelitian.
3.   Fungsi kajian pustaka:
      a.   Menyediakan kerangka konsepsi atau kerangka teori utk penelitian yang direncanakan.
b.   Menyediakan informasi tetang penelitian yang lampau yang berhubungan dengan penelitian yg akan dilakukan.
      c.   Memberi informasi tentag metode penelitian, populasi & sample, intrumen
pengumpulan data, dan perhitungan statistic yang digunakan pada penelitian sebelumnya.
      d.   Mencari jawaban sementara (hipotesis) dari masalah yg dirumuskan.
      e.   Menyediakan temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan penelitian terdahulu yang dapat dihubungkan dengan kesimpulan kita.
      f.    Membantu menemukan topic yang lebih sesuai.
            Kepustakaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kepustakaan penelitian dan kepustakaan konseptual. Kepustakaan teori meliputi laporan penelitian yang sudah diterbitkan, misalnya jurnal dll. Sedangkang kepustakaan konseptual meliputi artikel - artikel atau buku-buku yang ditulis oleh para ahli. Sumber-sumber kepustakaan  dapat dicari  di dalam buku teks, jurnal, ensiklopedi, indeks, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan abstrak.
C.  HIPOTESIS
         Setelah peneliti melakukan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk  memeproleh jawaban sementara atas pertanyaan sementara yang telah dirumuskan sebelumnya. Dikatakan jawaban semenatara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan teori yang relevan, dan belum dibuktikan secara emperis yang diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian, oleh karena itu peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas. Borg and Gall (1976:61) mengemukakan adanya persyaratan merumuskan hipotesis sebagai berikut: (1)  Hipotesis harus dengan kalimat yang singkat dan jelas. (2) Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan dua atau lebih  variable. (3).  Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil peneliti yang relevan.
1.   Bentuk-Bentuk Rumusan Hipotesis Penelitian
            Bentuk hipotesis penelitian sangat tergantung pada bentuk permasalahan penelitian. Apabila masalah penelitiannya deskriptif maka bentuk hipotesisnya juga akan mengikutinya, yaitu berbentuk deskriptif.  Dengan demikian  terdapat tiga bentuk hipotesis, yaitu: hipotesis dIskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif.
a.   Contoh rumusan hipotesis diskriptif :
     
1)   (Ho)  :  Daya Tahan Lampu Pijar mereke A = 600 jam
            (Ha)  :  Daya Tahan lampu Pijar A ≠ 600 jam  Ini dapat berarti ≤  atau  ≥  dari 600
            (Ho)  :  Âµ   =  600
            (Ha)  :  µ   ≠  600  atau > atau < 600
            µ  adalah nilai populasi yang dihipotesiskan / ditaksir.

      2).  (Ho) :   Semangat kerja karawan PT A =  75 % dari criteria yang ditetapkan.
            (Ha) :   Semangat kerja PT A ≠ 75%  atau > atau < 75%
            (Ho)  :  p  =  75 %
            (Ha)  :  p  ≠  75% atau > atau < 75%
b.   Contoh rumusan hipotesis komparatif
      Rumusan Masalah
1)   Bagaimana produktivitas kerja karyawan FIP bila dibandingkan dengan karyawan FMIPA ?
2)   Adakah perbedaan daya kepemimpinan di FIP dan FMIPA ?
      Rumusan Hipotesisnya:
1)                              (Ho) :   Tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara karywan di FIP dan FMIPA atau terdapat persamaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan FMIPA
            (Ha) :   Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan FIP dan FMIPA.
            (Ho) :   µ1 = µ2
                (Ha) :   µ1 ≠ µ2
     
      2).  (Ho) :   Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil atau sama dengan (≤)  karyawan FMIPA
            (Ha) :   Produktivitas karywan FIP lebih besar dari karyawan FMIPA.
            (Ho) :   µ1 ≤ µ2                        
            (Ha) :   µ1 > µ2
      3). (Ho) :   Produktivitas karyawan FIP lebih besar atau sama dengan (≥) karyawan FMIPA.
            (Ha) :   Produktivitas kerja karyawan FIP lebih kecil (<) dari karyawan FMIPA
            (Ho) :   µ1 ≥ µ2
                (Ha) :   µ1 < µ2
c.   Contoh rumusan hipotesis asosiatif
      Rumusan Masalahnya
1)   Adakah hubungan antara pengawasan melekat dengan efesiensi kerja pegawai di UNNES ?
2)   Adakah hubungan antara disiplin kerja gaya kepemimpinan di PTA
      Rumusan Hipotesis
      (Ho) :   Tidak ada hubungan ……..
      (Ha) :   Terdapat hubungan yang signivikan antara  …….dan ……
      (Ho) :   p  =  0  ,  0 berarti tidak ada hubungan
      (Ha) :   p  ≠  0  ,  tidak sama dengan 0 berarti lebih besar atau lebih kecil dari 0   (nol)
                  p   = adalah nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.
RANGKUMAN
            Salah satu langkah yang paling penting dalam membuat penelitian adalah pemilihan masalah. Menemukan masalah merupakan dorongan dan bahkan tantangan dan mungkin sebuah hambatan bagi seseorang untuk melakukan sebuah penelitian. Masalah dapat dikatakan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, atau dengan kata lain adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan.
            Terdapat beberapa cara yang dapat membantu mahasiswa menemukan dan mengidentifikasi masalah penelitian, yaitu:
1.      Membaca sebanyak-banyak literature yang berhubungan dengan bidang kita dan bersikap kritis terhadap apa yang dibaca.
2.      Menghadiri kuliah atau ceramah profesional.
3.      Mengamati dari dekat situasi atau kejadian - kejadian di sekitar.
4.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapat waktu kuliah.
5.      Menghadiri seminar-seminar hasil penelitian.
6.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil penemuan yang diperolehnya.
7.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
8.      Mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan bidangnya
            Terdapat 3 bentuk permasalahan, yaitu masalah diskriptif, komparatif, dan asosiatif, dengan demikian akan menghasilkan 3 bentuk hipotesis pula, yaitu : hipotesis diskriptif, asosiaytif , dan komparatif .






 SOAL LATIHAN
1.      Jelaskan dengan kata – kata sendiri tentang hakekat masalah.
2.      Sebut dan jelaskan sumber-sumber masalah.
3.      Jelaskan katagori permasalahan yang baik dan layak untuk diteliti.
4.      Jelaskan peranan kajian pustaka dalam suatu penelitian dan jelaskan berbagai sumber kajian pustaka.
5.      Tidak semua penelitian diperlukan suatu hipotesis, jelaskan alasannya.
6.      Buatlah contoh permasalahan penelitian yang sesuai dengan bidang anda dan rumuskan hipotesisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.
Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.
Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.
Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.
Suharsimi hari Kunto, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES













BAB III
VARIABEL PENELITIAN

TUJUAN
Setelah mempelajari bab III ini diharapkan mahasiswa :
1.      Mampu menjelaskan pengertian variabel penelitian
2.      Mampu menyebut dan menjelaskan macam variabel penelitian
3.      Mampu menjelaskan dan mencari contoh hubungan variabel.
4.      Mampu  menjelaskan pengertian definisi oprerasional variabel
5.      Mampu merumusakan definisi operasional variabel.

MATERI

1.   Pengertian variabel
        
            Istilah “variabel “ merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Kerlinger (1998: 49) mengemukakan bahwa variabel adalah suatu sifat yang memiliki bermacam nilai atau dengan kata lain bahwa variabel adalah sesuatu yang bervariasi.  Lebih rinci lagi dikatakan bahwa yang dimaksud dengan variabel adalah symbol/lambang yang padanya kita lekatkan nilai yang berupa angka. Sutrisno Hadi dalam Suharsimi (1997: 97) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang bervariasi seperti jenis kelamin (karena ada wanita dan pria), berat badan (karena ada yang mempunyai berat 40kg, 50kg, 55kg, dsb). Senada dengan pendapat tersebut, Sugiono (2005: 3) mendefinisikan variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati. Variabel itu sebagai atribut dari sekelompok orang atau obyek yang mempunyai variasi antar satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, warna kulit, dan lain sebagainya merupakan atribut dan obyek.
            Bila tinggi badan, berat badan, kemampuan, gaya kepemimpinan dari sejumlah orang (missal 30 orang) itu sama, maka semua itu bukanlah variabel. Jadi dikatan variabel karena ada variasinya.
            Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa variabel mempunyai beberapa pengertian. (a) Variabel adalah karakteristik yang memeliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri-sendiri. (b) variabel adalah simbul atau lambang yang padanya diletakkan bilangan atau nilai, (ca) variabel adalah atribut dari seseorang atau obyek yang mempunyai variasi, (d)  variabel adalah atribut atau aspek atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.   
1.      Jenis-Jenis Variabel
Dengan latar belakang gagasan tentang definisi tersebut di atas, mari kembali
membicarakan variabel. Variabel dapat dikelompok-kelompokkan menurut berbagai cara. Kerlinger (1998: 59) mengelompokkan variabel menurut berbagai cara. Menurutnya terdapat tiga kelompok, yaitu : (1) variaabel bebas dan variabel tergantung, (2) variabel aktif dan variabel atribut, (3) variabel kontinu dan variabel katagori. Suharsimi (1997: 97) membedakan jenis variabel menjadi: (1) variabel kuatitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuatitatif misalnya luasnya kota, umur, banyaknya jam dalam sehari. Contoh variabel kualitatif kemakmuran, kepandaian, dan lain-lain. Sedangkan variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu variabel diskrit dan variabel kontinum.
            Pada dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan atau posisi  dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum.  

a.       Variabel independent/prediktor/stimulus/bebas, adalah variabel yang dipandang sebagai sebab munculnya atau terjadinya perubahan pada variabel lain. Dalam penelitian eksperiman, variabel bebas ini adalah variabel yang dimanipulasikan oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat berbagai metode pengajaran, dia dapat memanipulasi metode (yakni variabel bebasnya) dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian yang tidak bersifat eksperimental, variabel  bebasnya adalah yang “secara logis”   menimbulkan akibat tertentu terhadap variabel terikat.  ( variabel yang keberadaaannya meningkatkan atau memperlemah variabel lainnya)  
b.   Variabel dependen/kriteria/output/konsekuensi, adalah variabel yang diramalkan, misalnya prestasi belajar sebagai variabel tergantung diramalkan oleh motivasi belajar sebagai variabel bebas.
c.   Variabel Intervening, adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperlambat/mempercepat) hbungan antara variabel independen dan variabel dependen, tetapi tidak teratur. Missal, anak yang pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak pandai tetapi nilai rendah. Ternyata ia sedang skit saat ujian.
d.   Variabel moderator, adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat /memperlemah) hubungan antara variabel independent dan variabel dependen. Variabel ini dsering disebut sebagai variabel independent ke dua. Misal, Hubungan suami dan istri akan semakin harmonis apabila sudah mempunyai anak. Jadi anak  adalah contoh variabel moderator.
e.   Variabel control, adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga tidak akan mempengaruhi variavel utama yang diteliti. Variabel control ini diciptakan oleh peneliti, bila peneliti akan melakukan penelitian. Misal, seorang peneliti ingin meneliti pengaruh pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Salah satu variabel controlnya adalah kecerdasan. Maka untuk menjadikan variabel control dengan cara semua siswa yang menjadi subjek sampel harus dicari yang mempunyai kecerdasan inteligensi yang relative sama/homogin.
e.   Variabel diskrit/variabel katagori, pembedaan yang istimewa dalam merencanakan penelitian dan mengalisis data, yakni pengelompokan variabel kontinu dan variabel diskrit/katagori. Variabel katagori/diskrit ini berkaitan dengan suatu jenis pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal. Pengukuran nominal termasuk taraf pengukuran yang paling rendah, karena angka-anagka yang diberikan pada objek-objek merupakan angka yang tidak mengandung arti kuantitatif (banyak-sedikitinya “jumlah”), agka-angka itu tidak dapat diurutkan atau ditambahkan / dijumlahkan. Angka-angka itu hanyalah label. Pengukuran nominal diangkakan / dikuantifikasikan manakala yang dilakukan hanyalah dikotomi., misalnya ia-tidak, benar-salah, waanita- pria, hadir-tidak hadir, dll.
f.    Variabel kontinu, variabel kontinu dapat memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Hal ini mengnadung arti bahwa harga-harga variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order), misalnya: sangat tinggi, samapai dengan  sangat rendah. Dalam variabel kontinu ini, sangat  dimukngkin mengandung nilai-nilai pecahan, misalnya, umur si A 47,5 tahun. IPK A: 3,6, dan lain sebagainya. Variabel kontinu ini dipisahkan  menjadi 3 variabel kecil, yaitu: viarabel ordinal, variabel interval, variabel ratio.
      (1)     Variabel ordinal, adalah variabel yang menunjukkan tingkatan-tingakatan, misalnya panjang, kurang panjang, pendek. Perlu diketahui bahwa jarak antar jenjang yang satu dengan jejang yang berikutnya tidak selalu sama, misalnya, nilai juara I , juara II, dan juara III tidak sama.
      (2)  Variabel interval, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenjang seperti variabel ordinal, tetapi jarak nilai antar jenjang sama. Perlu diketahui bahwa data variabel interval ini tidak mengandung nilai nol mutlak atau absolute. Suhu 0 derajat Celsius bukan berarti tidak tidak bersuhu. Nilai matematika 0 bukan berarti dia tidak mempunyai kepandaian matematika sama sekali.
      (3)     variabel Ratio, adalah variabel yang mempunyai nilai data berjenang, jarak antar jenjang sama, dan memilki nilai 0 mutlak. Misal: ukuran panjang, berat, pendapatan. Pendapatan hari ini 0 berarti memang tidak mempunyai pendapatan sama sekali, berat 0 berarti memang tidak punyai berat, dll.


3.   Hubungan Variabel
         Pada umumnya, penelitian itu senantiasa menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Terdapat berbagai jenis hubungan variabel dalam penelitian, diantaranya adalah:

X
 
Y
 
         a.


X 1
 
X 2
 
Y
 
 

         b.


 

         c.
X 2
 
           


 



    d.
X2



 
X 3



 
Y 1
 
 





Y 2
 
         e.

RANGKUMAN
            Variabel adalah atribut atau aspek atau sifat dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.
            Pada dasarnya, jenis-jenis variabel dapat ditinjau dari berbagai hal, misalnya bila dilihat dari letak hubungan atau posisi  dalam penelitian, variabel dapat dibedakan menjadi: (a) Variabel bebas (independent)., (b) Variabel terikat (dependent), variabel moderator, (c) Variabel intervening, dan (d) Variabel control. Bila dilihat dari jenis datanya, jenis-jenis variabel terdiri dari: (a) variabel diskrit, (b) variabel kontinum.  Dengan mengetahui jenis variabel yang akan diteliti akan membawa konsekuensi terhadap jenis atau tehnik analisis data yang akan dipergunakan.                          
SOAL LATIHAN
1.            Jelaskan dengan kata-kata sendiri  pengertian variabel penelitian.
2.            Sebut dan dan jelaskan macam/jenis variabel penelitian
3.            Jelaskan berbagai jenis hubungan variabel dan perjelas jawab saudara dengan membuat contoh hubungan variabel.
4.            Apa yang dimaksud dengan definisi oprerasional variabel dalam penelitian.
5.         Buatlah contoh definisi operasional variabel (dengan vaiabel rekaan)
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.

Suharsimi ,1998, Prosedur Penelitian, Jakarta, LP3ES.

Supranto, J. 1998, Tehnik Sampling, Untuk Survey dan Eksperimen, Jakarta, Rineka Cipt





















BAB  IV
POPULASI dan SAMPEL

TUJUAN
Setelah mengikuti perkuliahanini diharapkan mahasiswa mampu:
1.      Menjelaskan  dengan kata-kata sendiri pengertian populasi, sampel, dan teknik sampling.
2.      Menjelaskan prosedur pengambilan sampel sesuai dengan jenis-jenis teknik sampling.
3.       

MATERI

A.    Populasi

1.   Pengertian
     
Ada berbagai pengertian tentang populasi, namun sebenarnya antara pengertian atau batasan yang satu dengan yang lain itu mempunyai hakekat yang senada. Di bawah ini terdapat berbagai batasan tentang populasi.
a.       Populasi adalah keseluruhan anggota, kejadian, atau objek-objek yang telah ditetapkan dengan baik.
b.      Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kuantitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
c.       Populasi seluruh data yang terjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu  yang ditentukan.
d.      Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
      Atas dasar itu semua dapat dismpulkan bahwa populasi itu bukan terbatas pada orang, tetapi juga benda-benda lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajarai, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.
            Misalnya akan melakukan penelitiam di lembaga X, maka lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang(subjek) dan objek lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas. Tetapi lemabag X mempunyai orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, dan lain-lain, dan jugamempunyai karakterisitik objek lainnya, misalnya kebijakan, proseduru kerja, tata ruang, produk yang dihasilkan, dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam arti karakteristik.

2.   Ragam populasi
            Dilihat dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
a.       Populasi terbatas / terhingga, yaitu populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnya 500 orang guru BK di Semarang dengan karakteristik lulusan S1 BK , dengan masa kerja 3 tahun.
b.      Populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya petani di Indonesia.
c.       Populasi  homogin, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
d.      Populasi heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang berfariasi.

 

 

B.  Sampel

1. Pengertian sampel
            Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana , waktu, dan tanaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
            Pada dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti melakukan penelitian sampel, di ataratanya adalah:

a.       Efesien waktu, tenaga, dan biaya,

b.      Sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.)

c.       Penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak bom, petasan, granat, dll.

d.      Terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh terlalu    banyaknya obyek atau elemen yang harus dicatat.

            Adapun ciri  sample yang baik adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan ciri-ciri populasi.

            Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya yang disebut parameter. Misal: sensus penduduk, sensus industri, sensus pertanian,  sensus ekonomi,  yang bertujuan untuk memperoleh data penduduk, industri, pertanian, dan ekonomi yang sebenarnya, seperti jumlah penduduk, jumlah perusahaan, jumlah petani, dan jumlah modal yang sebenarnya.

 

2.      Tehnik Sampling

            Kalau seorang peneliti telah menetapkan ciri-ciri populasi yang akan ditelitinya, persoalan yang kemudian harus dihadapinya adalah memilih sample yang mencerminkan populasi dari mana sampel tersebut telah ditarik. Cara pengambilan data atau penelitian kalau hanya elemen sampel (sebagian dari elemen populasi) yang diteliti, hasilnya merupakan data perkiraan (estimasi). Jadi bukan data yang sebenarnya. Oleh karena itu tidak semua elemen diteliti, maka data perkiraan berbeda dengan parameter. Perbedaan atau selisih itu disebut kesalahan sampling (sampling error). Makin kecil kesalahan sampling suatu perkiraan, makin teliti perkiranaan tersebut, sehingga nilainya semakin dekat dengan nilai sebenarnya.
            Dalam penelitian ada yang disebut dengan Elemen, adapun yang dimaksu dengan elemen adalah  sesuatu yang menjadi objek penelitian. Orang misalnya karyawan, mahasiswa, petani, buruh, emigrant, dan lain-lain. Barang misalnya berbagai jenis kendaraan, lampu, berbagai jenis tumbuhan kacang-kacangan. Unit organisasi misalnya Negara, departemen, perusahaan, rumah sakit, dan lain-lain.
Di bawah ini  akan dibahas tentang beberapa tehnik atau strategi
pengambilan sampel dan yang kemudian sering disingkat dengan istilah tehnik samp








Organization Chart
Reserved: 1. Simple random sampling
2. Proportionate stratified random sampling
3. Disproportionate stratified random sampling
4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah
Reserved: 1. Sampling sitematika
2. Sampling kuota
3. Sampling aksidental
4. Purposive Sampling
5. Sampling Jenuh
6. Snowball Sampling
 










            Dari gambar tersebut di atas terlihat bahwa tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, snowball sampling.
1.   Probability Sampling
            Probality sampling adalah tehnik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk menjadi anggota sampel.
Teknik in meliputi:
a.      Simple random sampling ( sampling acak sederhana)
            Dikatakan sederhana (simpel) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Syarat anggota populasi harus bersifat homogen.
Cara memilih elemen anggota sampel, antara lain sebagai berikut:
1)   Pengambilan  sampel dengan cara undian (fishbowl), dengan prosedur pertama adalah menetapkan nomor-nomor pada anggota populasi yang terkumpul  dalam daftar sampling. Kemudian tulis nomor anggota populasi pada potongan kertas kecil dan selanjutnya digulung. Kocok-kocok gulungan kertas yang sudah berisi nomor populasi tersebut  dan ambil secara acak sejumlah yang diinginkan.
2)   Dengan menggunakan table bilangan acak. Tehnik ini merupakan tehnik yang paling sistematis dalam perolehan unit-unit sampel melalui acak. dengan prosedur sebagai berikut: mengidentifikasi semua anggota populasi, dan kemudian memberi nomor pada setiap anggota. Daftar ini disebut kerangka pengambilan sampel (sample frame), seandainya kita memiliki 50 anggota populasi, dapat dimulai dari angka 01 s/d 50, penentuan arah bergerak, penentuan elemen pertama
b.   Proportionate Stratifified Random Sampling (Sampling Acak Berlapis)
            Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota / unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.  Misalnya, Peneliti ingin meneliti suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Maka dalam pengambilan sampelnya harus memperhatikan tingkat pendidikan tersebut, misalnya Si = 20, S2 = 15, D3 = 45, SLTA = 140. SLTP = 100. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut  yang diambil secara proporsional. Adapun tehnik/prosedur pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut:
1)    Populasi dipecah/dibagi menjadi populasi yang lebih kecil, disebut stratum.
2)   Pembentukan stratum harus menghasilkan stratum yang homogin.
3)   Setiap stratum kemudian diambil sampel sacara acak dan dibuat dapat mewakili tratum tersebut.
4)   Perkiraan secara menyeluruh (over all estimation) diperoleh secara gabungan.
            Terdapat beberapa alasan penggunaan tehning sampling SAB, yaitu: (1) setiap stratum homogin atau relative homogin, sehingga sampel acak yang diambil dari setiap stratum akan memberikan perkiraan yang dapat mewakili stratum yang bersangkutan. (2) biaya untuk pelaksaan sampling acak berlapis lebih murah dari pada sampling acak sederhana, karena alasan administrasi,(3) perkiraan bisa dibuat untuk setiap stratum yang dapat dianggap sebagai populasi yang berdiri sendiri.
c.   Disproporsionate Stratified Random Sampling
            Tehnik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsinal. Misal Jumlah Lulusan SD: 30orang, SLTP: 70, jumlah SLTA: 700, S1: 4,   S2: 3, maka yang S1 dan S2 diambil semua karena hanya sedikit jumlahnya.
d.   Cluster Sampling (area sampling)
            Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel abjek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduka dari suatu Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang akan ditetapkan. Adapun prosedurr pengambilan sampel daerah ini adalah sebagai berikut:  (1) menentukan sampel daerah, misalnya memilih secara random  daerah dari sejumlah daerah yang ada,  (2) menentukan orang-oramg yang ada pada daerah itu secara random sampling juga.
e.         Sampling Kelompok Dua Tingkat
         Sampling kelompok dua tingkat (two stage cluster sampling) ialah sampling di mana setiap kelompok yang terpilih sebagai sampel, dipilih lagi sampel elemen dari masing-masing kelompok. Dengan demikian memang ada dua tingkat kegiatan, yaitu : memilih kelompok sebagai sample dan kedua adalah memilih elemen dari kelompok yang terpilih.
         Jadi yang dimaksud dengan sampel kelompok dua tingkat adalah: sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, yaitu pertama memilih sampel kelompok secara acak dari populasi kelompok, kemudian memilih sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel. Misal, pertama memilih universitas sebagai sampel dari populasi yang terdiri dari beberapa universitas negeri, kemudian memilih sampel mahasiswa dari setiap universitas yang terpilih dan lain-lain. Jadi yang menjadi  kelompoknya adalah universitas, dan yang menjadi elemen sampelnya adalah mahasiswa.
2.      Non Probability Sampling
            Teknik non probability sampling adalah tehnik penentuan sampel yang tidak memberi  peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
a.   Sampling sistematis
         Teknik untuk memilih anggota sampel dengan melalui peluang dan suatu “sistem”  untuk menentukan keanggotaan sampel. Tehnik untuk memilih anggota-anggota setelah memulai pemilihan acak, misalnya setiap subjek ke -5, atau ke-10 dan seterusnya.
         Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut: menentukan jumlah sampel yang akan dibutuhkan. lalu membagi  total  populasi dengan jumlah yang diperlukan untuk menentukan interval pengambilan sampel. Misal, akan memilih 200 sampel dari 2000, dapat dilakukan dengan cara memilih nomor secara acak antara no 1 s/d 10, dan memulai dengan sampel pertama. Setelah itu ambil antara no 1 s/d 10 harus dilakukan secara acak.  Bila pengambilan sampel antara no 1 s/d 10  dan kemudian yang terambil nomor 3, maka tambahlah interval sampling (10) dengan nomor 3, maka sampel ke dua adalah 13, selanjutnya no 23 dan seterusnya.                           
b.   Kuota Sampling               
            Teknik sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang meiliki cirri-ciei tertentu samapai jumlah (kuota) yang diinginkan.
c.   Sampling Aksidental
            Sampling aksidental adalah tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang ditemui oleh peneliti dapat digunakan sabagai sampel.
d.   Sampling Purposive
            Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian.
e.   Snowball Sampling
      Snowball sampling adalah tehnik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijaadikan sampel.
RANGKUMAN                   
            Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai suber data yang memilki karakteristik tertentu di dalam penelitian.
            Dilihat dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
populasi terbatas / terhingga, populasi tak terbatas / populasi tak terhingga, populasi  homogin, dan populasi heterogen
            Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, waktu, dan tanaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil harus betul-betul represnetatif
            Pada dasarnya terdapat beberapa alasan, peneliti penggunaan sampel, diataratanya adalah: efesien waktu, tenaga, dan biaya, sering tidak diketahui jumlah obyek atau subyek secara keseluruhan ( missal ikan di laut, binatang buas di hutan, dll.) penelitian sensus kadang dapat merugikan (missal ingin menguji daya ledak bom, petasan, granat, dll. dan terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang disebabkan oleh terlalu    banyaknya objek atau elemen yang harus dicatat.

            Adapun ciri  sample yang baik adalah harus Representatif, artinya data dalam sample harus benar-benar mewakili data populasi, sehingga ciri-ciri dan karakteristik sample sama dengan ciri-ciri populasi.

            Sedangkan sensus adalah cara pengumpulan data atau penelitian kalau seluruh elemen populasi diteliti satu persatu dan hasilnya merupakan data sebenarnya yang disebut parameter
            Tehnik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling. Probability sampling meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, area (cluster) sampling menurut daerah. Sedangkan Non Probability Sampling terdiri dari: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, snowball sampling.
SOAL-SOAL
1.  Jelaskan menurut pengertian anda, apa yang dimaksud dengan populasi.
2.   Jelaskan beberapa alasan peneliti melakukan penelitian sampel.
3.   Sebut dan jelaskan jenis-jenis teknik sampling dan anda sertai prosedur pengambilan sampe sesuai dengan teknik yang ada.
      DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Cochran,W.G., 1191, Tehnik Penarikan Sampel, Jakarta, UI  Press.
Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Sudarmoyo, B., 1993, Metodologi Penelitian Bagi Mahasiswa, Semarang, Universitas Diponegoro.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.



BAB V
PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGIS,
VALIDITAS DAN RELIABILITAS

TUJUAN
Setelah proses pembelajaran dalam bab in, diharapkan mahasiswa mampu:
1.      Menjelaskan perbedaan antara skala pskologi dan angket.
2.      Menjelaskan langkah-langkah menyusun sklala psikologis
3.      Menyusun contoh skala psikologis sesuai
4.      Mampu  menghitung validitas dan reliabiltas skala psikologi .

MATERI

            Penggunaan pendekatan kuantitatif menuntut kehati-hatian yang tinggi dalam proses kuantifikasi, yaitu proses pengubahan data kualitatif menjadi data kuantitatif. Pada saat data sudah dikuantifikasikan, maka akan sulit untuk dilacak kembali apakah data tersebut mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau tidak. Upaya untuk menjamin adanya kesesuaian antara data yang dikumpulkan dengan keadaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument pengambil data yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Jika kesesuaian antara data yang diperoleh dengan keadaan yang sebeanarnya itu diragukan, maka berarti bahwa validasi internal penelitian yang bersangkutan diragukan. Guna menegakkan validasi internal penelitian, yaitu menjamin bahwa data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka proses kuantifikasi itu harus dilakukan dalam cara yang menjamin sampai batas tertentu terpenuhinya tuntutan mengenai adanya kesesuaian tersebut. Sayang bahwa dalam khasanah ilmu-ilmu sosial instrumen-instrumen seperti yang dimaksudkan tersebut di atas belum tersedia. Instrumen-instrumen itu seringkali harus dikembangkan sendiri oleh si peneliti.



1.   Skala Psikologi Sebagai Alat Ukur
            Pengukurasn merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi.  Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan sebagai berikut:
a.       Atribut psikologis bersifat laten atau tidak tampak sehingga konstruk yg dimiliki manusia tidak dapat diukur secara langsung. Pengukuran hanya dapat dilakukan melalui indikator perilaku dan belum tentu mewakili domain (kawasan) secara tepat, dimungkinkan terjadi tumpang tindih dengan konsep atribut lain.
b.      Aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas , mungkin terjadi tumpang tindih antar indikator dari atribut.
c.       Respon dapat dipenagruhi oleh susasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi
d.      Atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah sesuai dengan sikon.
e.       Interpretasi terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror.
2.   Karakteristik Skala Psikologi
a.       Stimulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur.
b.      Kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses.
c.       Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).

3.   Perbedaan Skala dan angket 
            Dalam pemakaian sehari-hari banyak praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok,.
ANGKET
SKALA
a.       Fakta dan kenebaran
a.    konstrak/konsep psikologis
b.      pertanyaan terararh pada informasi mengenai data yang hendak diukur. (disadari /diketahui oleh responden)
b.    Pertanyaan tertuju pada indicator   perilaku  (sering tidak disadari oleh responden)
c.       Responden tahu persis apa yang ditanyakan
c.       Tidak menyadari arah jawaban yang diharapkan.
d.      Jawaban berupa angka coding dan bukan skor
d.      Jawaban berbentuk skor yang melewati penskalaan (scalling)
Dapt 5 bukan berarti dpt nilai 5
e.       Satu angket dapat mengungkap banyak informasi
e.       Satu skala hanya untuk satu atribut.
f.       Tidak perlu ada uji emperis reliabiltas dan validitas
f.       Perlu uji emperis validitas dan reliabilitas
g.      Uji validitas ditentukan oleh kejelasaan dan lingkup informasi yang hendak diungkap.
g.      Uji validitas lebih ditentukan oleh kejelasan konsep psikologis yang hendak diukur.

            Jelaslah bahwa beberapa perbedaan pokok antara skala psikologis dan angket tersebut mernyebabkan pula perbedaan dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaann, dan cara interpretasi hasilnya.
4.   Faktor-faktor yang dapat melemahkan validitas
a.      Identifikasi kawasan ukur tidak jelas, maksudnya kawasan ukur (atribut psikologis) tidak diidentifikasi dengan jelas sehingga dapat menimbulkan overlap derngan kawasan ukur/atribut lain.
b.      Operasinalisasi konsep yang tidak tepat, yang disebabkan oleh kurang jelasnya batasan/definisi operasinal atribut yang akan diukur.
c.       Penulisan item tidak mengikuti kaidah, maksudnya item-item yang dimaksudkan sukar dimengerti dan dapat menimbulkan tafsiran ganda untuk setiap orang.
d.      Administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
         Awal kerja perancangan suatu skala psikologi dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur. Kemudian diadakaan pembatasan kawasan ukur berdasarkan definisi operasional. Pembatasan ini harus diperjelas dengan menguraikan komponen atau dimensi-dimensi yang ada dalam atribut termaksud.
         Penulisan aitem dapat dilakukan apabila komponen-komponen atribut telah jelas identifikasinya atau apabila komponen indikator perilaku telah dirumuskan dengan benar. Agar penyusunan skala psikologis benar-benar dapat mengukur apa yang diukur dan sesuai batasan opeasional yang telah memuat komponen serta indikator atribtnya, maka diperlukan blue-print atau sering disebut dengan nama kisis-kisi. Melalui blue-print atau kisi-kisi dapat dilihat pembobotan / prosentasi setiap komponen.
         Reviu dilakukan pertama oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja ditulis, apakah telah sesuai denga  indicator perilaku yang hendak diungkap dan apakah tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Apabila semua aitem sudah selesai ditulis, reviu dilakukan oleh beberapa orang yang berkompeten.
         Kumpulan aitem yang telah melewati proses reviu dan analisis kualitatif  kemudian diujicobakan. Uji coba pertama ini bertujuan untuk mengetahui apakah kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden sebagaimana diinginkan oleh penulis aitem.
         Analisis aitem merupakan proses pengujian parameter aitem guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter aitem yang diuji paling tidak adalah daya beda atau daya diskriminasi aitem, yaitu kumpulan aitem dalam membedakan antar subjek yang memilki atribut yang diukur dan yang tidak. Hasil analisis aitem menjadi dasar dalam seleksi aitem. Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometri akan disingkirkan atau diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagia dari skala.
            Pengujian reliabilitas skala dilakukan terhadap kumpulan aitem-aitem terpilih yang banyaknya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh kisi-kisi (Blue-print). Apabila koefesien reliabiltas skala ternyata belum memuaskan, maka penyususnan skala dapat kembali ke langkah kompilasi dan mmerakit ulang skala denga lebih mengutamakan aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu sedikit mengubah proporsi aitem dalam setriap komponen atau bagian skala. Untuk selanjutnya dilakukan proses validasi yang pada hakekatnya merupakan proses berkelanjutan.
            Format final skala harus dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk akhir, skala dilengkapi dengan petunjuk pengerjaan dan mungkin pula lemabar jawaban yang terpisah.

6.  Blue-print
            Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.                             
Contoh kolom Blue-Print
No
Komponen
Bobot (%)




No
Komponen
indikator
No aitem





7.  Penulisan Item
            Dari berbagai bentuk dan format aitem yang dapat ditulis dalam penyusunan skala psikologis pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu a) bentuk pernyataan dengan pilihan, dan b) bentuk pertanyaan. Disamping itu ada bentuk-bentuk yang merupakan kombinasi keduanya dan bahkan ada pula bentuk aitem yang sertai gambar-gambar atau figure-figur sebagai stimulusnya.
Taerdapat beberapa kaidah penulisan aitem yang seyogyanya diikuti dalam proses penulisan aitem, di antaranya:
a.       Gunakan kalimat yang sederhana, jelas, dan mudah dimengerti oleh responden dengan tulis dengan tetap mengikuti tatatulis yang baku,
b.      Kalimat tidak menimbulkan penaf siran ganda,
c.       Selalu ingat bahwa penulisan aitem harus mengacu pada indikator atribut atau perilaku yang hendak diungkap.
d.      Stimulus atau pilihan jawaban harus tetap relevan dengan tujuan pengukuran.
e.       Setiap aitem selalu mempunyai daya beda dengan aitem lain,
f.       Aitem tidak boleh mengandung social desirability, artinya isi aitem jangan disesuaikan dengan keinginan masyarakat pada umumnya.
g.      Sebagian aitem perlu dibuat arah negatif ( arah favorable),

8.   Reliabiltas
         Reabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabiltas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan sebagai memiliki reliabilitas tingi apabila misalnya skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan seberapa tingginya korelasi antara skor tampak pada dua tes pararel.
         Terdapat beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk skala psikologis) di anataranta adalah :
a.   Pendekatan Tes-Ulang (test-retest)
         Dalam pendekatan ini suatu instrument ukur diberikan kepada sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan tenggang waktu tertentu. Koefisien reliabiltas diperoleh dengan cara menghitung koefisien korelasi linier antara distribusi skor subjek pada pemberian tes pertama dan distribusi skor tes yang ke dua.
         Syarat-syarat pendekatan tes – ulang: (a) pergunakan jumlah subjek yang mencukupi agar normalitas distribusi skor dapat terpenuhi. (b) kelompok subjek yang dikenai tes merupakan sampel yang representatif  dari populasi subjek yang akan dikenai tes nanti.
Adapun kelemahan metode tes-ulang ini di antaranya adalagh sebagai berikut:
(a) perbedaan kondisi subjek pada saat melakukan tes pertama dan kedua. (b) terjadinya efek bawaan, maksudnya subjek masih ingat jawaban yang pernah diberikan pada saat mengerjakan tes pertama dan kemudioan mempengaruhi jawaban pada tes kedua. (c) dimungkinkan terjadinya rejeksi atau penolakan terhadap tes ke dua karena subjek menyadari bahwa pernah mengerjakan tes yang sama sebelumnya sehingga mersa menjadi kelinci percobaan. Adapun tehnik analisis yang dapat digunakan dalam pengujian reliabilitas ini adalah korelasi product-moment.
b    Pendekatan Bentuk Paralel
         Dalam pendektan ini dilakukan dengan memberikan sekaligus dua bentuk tes yang paralel satu sama lain, kepada kelompok subjek. Adapun syarat-syarat tes paralel adalah mempunyai kesamaan spesifikasi dalam hal: tujuan ukur, batasan objek ukur dan operasionalisasinya, indikator-indikator perilakunya,  banyaknya aitem, format aitem, dan bila perlu taraf kesukaran aitemnya. means dan varians ke dua tes tersebut harus setara.
         Dalam pelaksanaannya, kedua tes parallel itu dapat digabungkan terlebih dahulu sehingga seakan-akan merupakan satu bentuk tes. Adapun langkah-langkah pendekatan bentuk parallel adalah sebagai beiut: (1) buat dua tes parallel, (2) mengujicobakan kedua alat tes tersebut kepada sejumlah subjek  yang sama, (3) menghitung koefisien korelasi distribusi skor dari kedua tes yang   dihasilkan oleh sejumlah respon tersebut. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah: adalah sulitnya menyusun tes parallel. Tehnik analisis yang dipergunakan adalah  korelasi product-moment.
c.  Pendekatan Konsistensi Internal
         Pendekatan konsistensi internal ini dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes dan hanya dikenakan satu kali saja pada sekelompok subjek (single – trial administration). Tes yang akan diestimasi reliabiltasnya dapat di belah menjadi dua bagian, tiga bagian atau empat bagian, dan bahkan dapat dibelah menjadi sejumlah aitem, sehingga masing-masing belahan hanya berisi satu aitem. (dengan catatan jumlah belahannya sama). Uji reliabiltsanya dapat dilakukan dengan tehnik-tehnik korelasi, tehnik varians antar belahan, tehnik varians perbedaan skor, dan lain-lain.
         Beberapa model belah dua dikelompokkan menjadi dua:pertama adalah pembelahan secara Random yaitu dengan cara mengundi nomor-nomor mana yang masuk ke belahan pertama dan mana yang masuk ke balahan kedua. Kedaua adalah pembelahan Gasal-Genap ( odd-even splits), yaitu membelah tes menjadi dua dimana seluruh kelompok nomor aitem genap jadi kelompok pertama dan nomor aiten ganjil kelompok ke dua. Sedangkan tehnik analisis yang dapat digunakan adalah:
1)      Formula Spearman-Brown untuk Belah–Dua, hanya digunakan apabila kedua belahan tes memenuhi asumsi paralelisme, dimana kedua tes menghasilkan means yang setara dan varians skor yang sebanding.
2)      Formula Rulon, dapat dipergunakan untuk mengistimasi reliabilitas belah –dua tanpa perlu berasumsi bahwa kedua belahan harus mempunyai varians yang sama.
3)      Koefisien Alpha, dapat digunakan apabila tidak yakin bahwa asumsi kedua tes adalah parallel.

9.   Validitas
            Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau oinstrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Suatu tes dimaksudkan untuk mengukur atribut A dan kemudian memang menghasilkan informasi mengenai atribut A, dapat dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki vaaliditas tinggi.
            Sisi lain pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
            Tipe validitas pada umumnya digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstrak), criterion-releted validity (validitas berdasar kriteria).
a.   Validitas Isi
             Validitas isi, yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes   dengan analisis rasional atau lewat professional judgment. Validitas isi ini menjawab pertanyaan “sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur” atau “sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur”
         Pengertian “mencakup keseluruhan kawasan” isi tidak hanya menunjukkan bahwa tes tersebut harus kompreshensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar darai batasan tujuan ukur. Waluapun komprehensip apabila tes tersebut mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuannya, maka validitas tes tersebut tidaklah dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya. Kelemahannya dari validitas isi ini adalah bahwa estimasi validitasnya tidak melibatkan perhitungan statistic apapun, melainkan hanya analisis rasional.
         Validitas isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logic).

1)   Validititas muka,
         adalah tipe validitas yang paling rendah signifikansnya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes saja. Namun demikian, validitas muka ini bukalah tidak penting, karena  suatu tes yang nampak meyakinkan akan memancing motivasi individu yang dites untuk menghadapi tes tersebut dengan sungguh-sungguh.
2)   Validitas logic,
         validitas  logic disebut juga validitas sampling. Validitas ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari cirri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logic yang tinggi, tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar beiris hanya aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Misal pada tes hasil belajar, kawasan perilaku yang hendak diukur  dapat dikembalikan pada tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Validitas logik memang sangat penting peranannya dalam penyususnan tes prestasi.
b.  Validitas Konstrak
         Validitas konstrak adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauhmana tes mengungkap suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya. Misal akan mengukur tingkat variabel kecemasan. Hal itu dapat dimulai dari suatu batasan mengenai variabael yang hendak diukur (kecemasan), kemudian batasan variabel itu dinyatakan sebagai suatu bentuk konstrak logis menurut konsep-konsep kecemasan yang didasari oleh suatu teori.
c.   Validitas Berdasar Kriteria
            Pada validitas berdasar kriteria ini menghendaki tersedianya eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel yang akan dipredesikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan. Untuk melihat tingginya validitas berdasar kriteria dilakukan komputasi korelasi antara skor tes dengan skor kriteria.
RANGKUMAN
         Pengukuran merupakan suatu proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis. Pengukuran di bidang nonfisik, khususnya di bidang paikologis masih berada dalam taraf perkembangan yang mungkin tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya. Pengukuran atribut psikologis sangat sukar atau bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang tinggi.  Hal ini dikarenakan oleh beberpa alasan sebagai berikut: 1). atribut psikologis bersifat laten atau tidak tampak. 2) aitem- aitem dalam skala psikologis didasari oleh indikator-indikator perilaku yang jumlahnya terbatas, 3) respon dapat dipengaruhi oleh suasana hati subjek, sikon, dan kesalahan administrasi,  4) atribut psikologis bersifat labil, gampang berubah sesuai dengan sikon, 5) interpretasi terhadap hasil ukur psikologis hanya dapat dilakukan secara normative, sehingga terdapat banyak sumber eror
      Skala Psikologi mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1)timulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, tetapi mengungkap indikator-indikator perilaku dari atribut yang akan diukur, 2) kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah diproses, 3) Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sunguh-sungguh, namun jawaban yang berbeda akan diintepretasikan berbeda. (tidak ada yang benar dan yang salah).
            Dalam pemakaian sehari-hari banyak praktisi pegukuran maupun peneliti yang menukarpakaikan saja istilah angket dan skala psikologi, padahal kedua hal itu mempunyai perbedaan pokok. Perbedaan pokok antara skala psikologis dan angket tersebut menyebabkan pula perbedaan dalam penyususnan, cara pengujian kualitas, cara penggunaan, dan cara interpretasi hasilnya.
         Terdapat beberapa fatoktor yang dapat melemahkan validitas,  diantaranya adalah 1) identifikasi kawasan ukur tidak jelas, 2) operasinalisasi konsep yang tidak tepat, 3) penulisan item tidak mengikuti kaidah, 4) administrasi skala yang tidak berhati-hati, yang meliputi validitas tampang, kondisi subjek, dan kondisi testing.
            Sebelum menyusun sebuah instrument, terlebih dahulu peneliti harus membuat   Blue-print. Blue-Print adalah tabel yang memuat: uraian komponen-komponen atribut yang harus dibuat aitemnya, proporsi aitem dalam masing-masing komponen, indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen.                            
 Reabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. nama-nama lain reliabiltas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menguji tingkat reliabailtas suatu instrument (termasuk skala psikologis) di anataranta adalah : pendekatan Tes – Ulang (test-retest) , pendekatan Bentuk Paralel, Pendekatan Konsistensi Internal               
            Validitas berasal dari kata validity yang mampunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, memberikan hasil ukur yang ssesuai dengan maksud dilakukan penguluran tersebut. Sisi lain pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid, tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut, artinya bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya.
            Tipe validitas pada umumnya digolongkan dalam tiga katagori, yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstrak), criterion-releted validity (validitas berdasar kriteria). Sedangkan validitas isi ini terbagi menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logic).
SOAL-SOAL
1.   Jelaskan mengapa menyusun skala psikologis adalah pekerjaan yang tidak mudah.
2.   Apa perbedaan antara angket dan skala psikologis.
3.   Jelaskan langkah-langlah atau prosedur penyususnan skala psikologis.
4.   Buatlah minimal satu variabel beserta  definisi oprasional variabelnya dan kemudian susunlah skala psikologisnya, dengan jumlah aitem minimal 25 butir. (boleh dibuat secara kelompok, jamlah anggota maksimal 4 orang.
5.   Hasil penyusunana skala psikologis pada no 4 tersebut selanjutnya diujicobakan untuk dihitung tingkat validitas dan reliablitasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Syaifudin, Azwar, 1999, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset

…………………., 2000, Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.

BAB VI
PENELITIAN EKSPERIMEN

TUJUAN
Setelah proses belajar pembelajaran pada bab ini selesai, diharapkan mahasiswa dapat:
1.      Menjelaskan hakekat penelitian eksperimen.
2.      Menjelaskan ancaman terhadap validitas dalam rancangan eksperimental.
3.      Menjelaskan macam-macam desain eksperimen penelitian.
4.      Membuat rancangan penelitian eksperimen sesuai desain yang dipilihnya.

MATERI

A.  Hakekat Penelitian Eksperimen
            Terdapat beberapa pendapat tentang penelitian eksperimen, di antaranya adalah Travers (1978) dalam Consuelo (1993:93) yang mengemukakan bahwa eksperimen ilmiah adalah merupakan metode yang paling bergengsi di dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan Gay berpendapat bahwa metode eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis mengenai hubungan sebab dan akibat. Senada dengan kedua pendapat tersebut  Ary, dkk yang mengemukakan bahwa pada umumnya eksperimen merupakan metode penelitian yang paling tangguh dalam pengujian hipotesis.
            Dalam penelitian eksperimen ini paling sedikit dapat dilakukan dalam satu kondisi yang dapat  dimanipulasikan, sementara kondisi lain dianggap konstan dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi atau variabel tersebut dapat diukur. Padahal, pemanipulasian variabel ini  merupakan karakterisitik yang membedakan semua penelitian eksperimen dengan metode-metode penelitian lain.
            Sebagai peneliti harus menghindari  kesalahan yang berupa tidak memberikan perlakuan kepada kelompok kontrol. Hal ini bias bertentangan dengan prinsip-prinsip penelitian ilmiah, karena perlakukan yang hanya dilakukankepada eksperimen akan menciptakan keuntungan pada kelompok yang diberi perlakuan saja. Tentu, bagi kelompok (control) yang tidak diberi perlakuan tidak memperoleh apa-apa.
             Sangat penting bagi peneliti yang menggunakan kelompok  kontrol untuk menetapkan bahwa variabel-variabel lainnya pada awal percobaan kedua kelompok harus sama.  Peneliti harus yakin bahwa perbedaan yang terjadi hanya disebabkan oleh perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen saja. Sebagai contoh, peneliti ingin mencobakan dua metode pengajaran di kelas, mungkin salah satu metode memperoleh hasil yang baik yang tidak disebabkan olehnperlakukan eksperimen tetapi murid-murid yang ada dalam kelompok eksperimen tersebut telah mengikuti remedial tanpa sepengetahuan peneliti. Dalam kasus sepeerti ini, tidaklah bijaksana untuk membandingkan kelompok-kelompok tersebut setelah diadakan eksperimen, karena adanya variabel intervening yang menghubungkan antara variabel bebas dan terikat.
            Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tersebut menunjukkan bahwa di dalam ekperimen peneliti gagal dalam mengontrol kemampuan mental, oleh karena itu kemampuan mental dijadikan variabel intervening.
            Suatu penelitian eksperimen disebut valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1.   Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah merencanakaan suatu system di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti.
2.   Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.

B.  Ancaman Terhadap Validitas
            Seperti penelitian-penelitian lainnya, penelitian eksperimen juga tidak lepas dari gangguan atau ancaman terhadap validitas hailnya. Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (1993:97) mengemukakan bahwa ancaman terhadap validitas penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal.
1.   Ancaman validitas internal. Ancaman validitas internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Sejarah. Beberapa peristiwa mungkin akan terjadi selama dilakukan eksperimen dan akan mengakibatkan perubahan serius pada variabel terikat. Peristiwa-periswa tersebut bukan bagian dari perlakuan eksperimental, tetapi dapat memberikan pengaruh yang serius pada variabel terikat.
b.      Kematangan. Istilah ini sebagai proses psikologis atau biologis yang secara sistematis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu, serta bebas dari kejadian eksternal khusus.
c.       Pengujian. Peningkatan prestasi sujek pascauji (post-test) yang merupakan fungsi dari prauji (pre-test) dan bukan perlakuan eksperimental. Hal ini bias terjadi apabila ujiannnya sangat mudah diingat oleh subjek.
d.      Instrumen. Ancaman instrument terhadap validasi internal terjadi pada situasisebagai berikut: a) bila pra da pascauji tidak memilki tingkat kesulitan yang sama, b) bila nilai ujian pertama dan kedua berfluktuasi, c) bila pengamatan digunakan sebagai alat pengukuran, sedangkan pengamatnya lebih dari seorang.
e.       Seleksi. Dalam proses seleksi anggota kelompok tidak seimbang atau homogin.
f.       Droup-out, ada anggota yang keluar sehingga mempengaruhi jumlah anggota pada masing-masing kelompok,
2.   Ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. Hal ini terjadi bila tanggapan atau reaksi terhadap subjek berbeda terhadap perlakuan kerena mereka telah mengikuti pretest, sehingga penemuan-penemuan selama eksperimen tidak dapat digenrelasisasikan pada populasi yang tidak mengikuti pretes.
b.      Interaksi Seleksi-Perlakuan. Ini terjadi bila kelompok yang diseleksi tidak representative mewakili populasi seperti yang diinginkan dalam eksperimen, sehingga hasilnya kemungkinan hanya baik pada sampelnya saja dan tidak dapat digeneralisasikan.
c.       Susuanan reaktif. Di sini diartikan sebagai kepalsuan perangkat eksperimen dan subjek-subjek yang mengetahui bahwa dirinya dilibatkan dalam eksperimen. Peneliti harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua kelompok, sehingga kelompok eksperimen tidak merasa diistimewakan dan kelompok kontrol tidak merasa dianaktirikan.
d.      Perlakuan ganda. Ini terjadi apabila subjek mendapatkan perlakuan lebih dari satu kali, sehingga ada pengaruh pengalihan dari satu perlakuan ke perlakuan berikutnya.

C.  Berbagai Cara Mengontrol Variabel-Variabel dari Luar

            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah:
1.   Pengacakan. Ketika peneliti memilih subjek untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, tugas peneliti adalah menerncanakan suatu system di mana dalam penetapannya harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah. Kaerlinger (1973) mengemukakan bahwa pengacakan adalah satu-satunya metode untuk mengontrol semua kemungkinan variabel-variabel luar. Pengacakan berarti bahwa penetapan dilakukan melalui kesempatan murni,  isalnya menggunakan tabel bilangan acak atau prosedur sampling acak lain yang sudah disepakati.
2.   Tandingan. Di dalam penelitian eksperimental, peneliti mengidentifikasi variabel yang berhubungan erat dengan variabel terikat. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
3.   Kelompok-kelompok yang homogen. Jalan lain untuk mengontrol variabel luar adalah dengan membandingkan kelompok yang homogen. Misalnya bila peneliti merasa bahwa umur dapat berpengaruh terhadap variabel terikat, maka penelitian seharusnya hanya memakai satu kelompok umur saja. Demikian juga bila IQ dianggap mempengaruhi hasil studi, maka dalam penelitian ini hanya menarik subjek yang mempunyai satu tinggat IQ saja. Kelemahan dari penelitian ini adalah bahwa hasilnya hanya penemuan yang dieroleh hanya terbatas pada subjek-subjek yang terlibat saja.

D.  Macam-Macam Desain Esperimental
            Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (193:104) mengkatagorikan desain eksperimental menjadi tiga, yaitu desain praeksperimental, desain eksperimental su ngghan (True Eksperimen Design), dan desain eksperiemntal semu (Quasi-Eksperimental Design).

1.   Pre-Eksperimental Design (nondesign).
            Dikatakan nondesigns, karena sumber-sumber yang mempengaruhi validitas internal sulit dikontrol, sehingga hasil penelitian bukan semata-mata hasil pengaruh dari variabel yang dipilih ole peneliti. Bnrtuk-bentuk pre-eksperiment ada bebarapa, di antaranya adalah sebagai berikut:

a.   One-Shot Case Study  (studi kasus satu sasaran)
            Studi kasus satu-sasaran ini terdiri dari satu kelompok perlakuan (X) dan kemudian diberikan tes akhir /post-test (O) tanpa control apapun. Dengan desain sebagai berikut:
           
X         O                     X   =   treatment yang diberikan / variabel tergantung
                                                O   =   variabel bebas (posttest)
                        Misal :             X   =  diklat yang diberikan kepada pegawai
                                                O   =  prestasi kerja pegawai.

b.   One-Group Pretest-Posttes Design
            Desain ini juga hanya terdiri dari satu kelompok eksperimen saja tanpa kelompok kontrol.  Desain ini lebih baik dari pada rancangan no satu di atas, karena sebelum perlakuan diberikan pretest terlebih dahulu.  Ancaman validitas internal pada desain ini meliputi ancaman sejarah, kematangan, pengujian, dan instrument yang digunakan. Dengan desain sebagai berikut:

      O1    X       O2                          X    =   treatmet / perlakuan (variabel tergantung)
                                                O1   =   diadakan pretest sebelum diberi perlskuan
                                                O2  =   diadakan posttest sesudah perlakuan
                                                            Pengaruh perlakuan adalah:  O2  -  O1
c.   Intact –Group Comption
     
      X               O1                    O1   =  hasil pengukuran setelah diberi perlakuan pada
                        O2                                Kelompok yang diberi perlakuan
                                          O2   =  hasil pengukuran pada kelompok yang tidak diberi
                                                      Perlakuan.
            Dalam desain ini ada dua kelompok yaitu kelompok yang diberi treatment dan kelompok yang tidak diberi treatment sama sekali. Kelemahan dari desian ini adalah banyaknya variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga tingkat validitas internalnya menjadi berkurang.

2.   True Experimental Design
            Dikatakan true eksperimet design dengan desian ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Dengan demikian validitas internal penelitian menjadi tinggi. Ciri utama dari True Experimet Design adalah bahwa subjek dipilih secara random dan ada kelompok kontrol.  Adapun bentuk-bentuk true experiment design ini meliputi sebagai berikut:
a.   Posttest – Only Desaign
            R         X            O1
            R                        O2
                Desain menggunakan dua kelompok yang pemilihan subjeknya dilakukan secara random, satu kelompok diberi perlakuan yang disebut kelompok ekperimen dan kelompok lainnya tidak diberi perelakuan yang disebut kelompok control. Pengaruh perelakuannnya diperoleh dari O2  -  O1

b.   Pretest-Control group Design
            R         O1           X      O2
            R         O3                    O4

            Dalam desain ini, dua kelompok yang telah dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen dengan kelompok kontrolnya. Hasil pretest yang baik apabila ada kesamaan karakteriristik antara kelompok eksperimen dengan kelompok control. Pengaruh dari perlakuannya adalah:  (O2 – O1) – (O4 - O3)

3.   Quasi Experimetal Design
            Bentuk desain ini adalah sebagian dari true-experiment desaign. Desain ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya, untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi eksperimen.  Walaupun demikian, eksperimen ini lebih baik daripada pre-experiment design.  Adapun bentuk desain quasi experiment ini diantaranya adalah

a.   Times-Series Design  (Eksperimen Seri Waktu)
      O1   O2   O3   O4       X          O1   O2   O3   O4
          Dalam desain ini kelompok yang digunakan dalam penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi trieament, kelompok diberi pretest sampai 4 empat kali. Dengan empat kali test ini maka keadaan kelompok betul-betul dapat diketahui dengan jelas. Setelah keadaan kelompok diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment. Setelah treatnmen selesai lansung diberi posttes sampai empat kali. Nilai pada masing-masing pretes harus sama, demikian juga pada posttes.
Jadi (O1 = O2 = O3 = O4) dan (O5 = O6 = O7 = O8).
Besarnya pengaruh treatment adalah
 (O5 + O6 + O7 + O8)  -  (O1 + O2 + O3 + O4)

b. Nonequivalent Control Group Design (Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)

            Desain ini hampir sama dengan pretes-posttest control group design, hanya saja kelompok-kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih secara random.
U r
O1                    X                     O2         
------------------------------------------------------------
O3                                            O4

X     =  eksperimen
O1    =  pretest                                    O3        =          pretest
O2     =  posttest                       O4          =          posttest
       
        Desain ini dipertimbangkan sebagai salah desain yang paling umum dipilih dalam penelitian pendidikan. Kelompoknya terdiri dari dua, dan masing-masing diberi pretest dan posttest, tetapi hanya satu yang diberi perlakuan atu eksperimen. Desain ini biasa digunakan pada kelompok yang pesertanya terkumpul secara alami, misalnya murid di ruangan kelas.
RANGKUMAN
            Suatu penelitian eksperimen disebut valid bila hasil yang diperoleh semata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan diperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen. Validitas internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati pada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain.
            Dalam penelitian eksperimental terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol pengaruh variabel-veriabel luar yang dapat mempengaruhi hasil penelitian eksperimen, di antaranya adalah: 1). Pengacakan, artinya bahwa subjek yang ditetapkan sebagai kelompok eksperimen harus bebas dari pertimbangan dan keputusan berat sebelah peneliti. 2). Tandingan, artinya bahwa dalam peneliti mencari pasangan-pasangan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, misalnya masing-masing pasangan mempunyai nilai, kemampuan, atau aspek yang sama/seimbang.
            Beberapa  ancaman terhadap validitas penelitian berasal dari dua sumber, yaitu ancaman dari dalam yang disebut Validitas Internal dan ancaman dari luar yang disebut ancaman validitas eksternal. Ancaman validitas internal ini dapat bersumber dari berebagai hal, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Sejarah. 2) Kematangan. 3) Pengujian. 4) Instrumen.  5) Seleksi. 6) Droup-out
            Sedangkan yang termasuk ancaman validitas eksternal ini bersumber dari berbagai hal, di antaranya adalah: 1). Interaksi Prauji (pretest)-Perlakuan. 2) Interaksi Seleksi-Perlakuan. 3) Susuanan reaktif. 4) Perlakuan ganda.
            Campbell dan Stanley dalam Consuelo, dkk (193:104) mengkatagorikan desain eksperimental menjadi tiga, yaitu desain praeksperimental, desain eksperimental su ngghan (True Eksperimen Design), dan desain eksperiemntal semu (Quasi-Eksperimental Design). 
             Adapun Pre-Eksperimental Design (nondesign) terdiri dari: a). One-Shot Case Study  (studi kasus satu sasaran), b).     One-Group Pretest-Posttes Desig. c). Intact-roup Comption. Adapun True Experimental Design terdiri dari: a).Posttest- Only Desaign dan
b) Pretest-Control group Design.
            Demikian juga  Quasi Experimetal Design terdiri dari Times-Series Design  (Eksperimen Seri Waktu) dan Nonequivalent Control Group Design (Rancangan Kelompok Kontrol Tidak Sedapan)
LATIHAN
1.   Jelaskan alasan mengapa penelitian eksperimen merupakan penelitian paling baik dalam membuktikan hipotesis?
2.   Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis penelitian eksperimen dan hbbhberi contoh model desainnya..     
3.   Sebut dan jelaskan berbagai ancaman validitas internal dan eksternal penelitian eksperimen.
4.   Jelaskan bagaimana cara yang dapat dilakukan peneliti untuk mengurangi atau meminimalis terjadinya ancaman tersebut pada soal nomor tiga di atas.
3.   Buatlah contoh penelitian eksperimen yang disertai desain yang anda pilih, dan beri alasan mengapa anda memilih desin tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan,1987, Bacaan Pilihan dalam metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek pengembangan LPTK.

Margono, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta.

Kerlinger, 1998, Asas-asas Penelitian Behavioral, Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

Singarimbun, 1989, Metode Penelitan Survai, Jakarta, LP3ES.